Zen: Ingatan dan Usaha yang Diupayakan

#1

Tinggal di sebuah kota bukanlah jaminan akses cepat. Kota di sini tentu saja bukan macam Jakarta. Akses yang dimaksudkan bukan pada jalur transportasi. Kota yang lengang dengan akses informasi lambat dapat dirasakan di ruang yang juga disebut kota di Papua.

Patoknya di awal tahun 2005 hingga akhir 2007. Dalam peta menempati kepala burung sebagai pintu gerbang memasuki rimba Papua. Sorong, nama kota itu. Sebelum Irian Jaya berubah nama menjadi Papua yang dibagi ke dalam dua wilayah provinsi. Sorong menjadi kota utama setelah Irian Jaya.

Papua dan Papua Barat. Itulah nama provinsi yang memetakan geopolitik di bumi Cenderawasih. Irian Jaya tetap menjadi ibu kota Papua dan Manokwari ditetapkan ibu kota Papua Barat. Waktu di Sorong, saya heran mengapa bukan Sorong yang, dari segi infrastruktur sudah lebih maju ketimbang Manokwari.

Seminggu menetap di Sorong, saya mencari surat kabar sebagai jendela informasi mengetahui gerak perkembangan kota. Hasilnya cuma satu, sayang, saya lupa nama korannya yang kubeli berkala seharga tiga ribu rupiah. Jumlah halamannya tidak sampai 20. Dan, semuanya menyajikan news. Tidak ada rubrik opini. Tidak ada ruang sastra edisi Minggu. Itulah alasan mengapa tidak berlangganan.

Tetapi ini sungguh masih di Sorong. Sial, saya tidak ingat pasti apakah koran itu terbitan di Sorong atau malah koran dari Jawa atau Sulawesi yang dijadikan pembungkus baju atau penganan para perantau yang berdatangan ke Sorong. Saya tidak ingat persis.

Pastinya, di lembaran koran itu saya temukan rubrik opini. Teologi si Tua Bangka, judul artikel itu. Semula mengira ulasan mengenai semangat beragama di Papua dengan mengenalkan profil seorang pendeta. Kata teologi yang terpatri di benak merujuk pada kaum Kristen. Di Makassar ada Institute Teologi Indonesia Timur (INTIM), sekolah tinggi yang semuanya diisi umat Kristen. Menambah referensi saya soal cakupan teologi.

Namun, ilustrasi catatan itu memasang wajah Zinedine Zidane. Usai membaca tuntas. Ini pembahasan mengenai sejarah, politik, filsafat, teologi, tokoh, atau sepak bola (khususnya Piala Dunia 2006). Karena unik, catatan itu saya kliping dan membawanya pulang ke Makassar di akhir 2007. Di beberapa kesempatan saya sering mendarasnya.

Saya terkesima cakupan pembahasannya. Terselip kisah tokoh dunia seperti Imam Khoemeini, Hassan Al Banna, hingga Milan Kundera yang memilih Perancis sebagai tempat pengasingan. Dan, Perancis lapang dada menerima yang, di negerinya disebut orang berbahaya. Sepak terjang dua pemikir Perancis juga disematkan, Barthes dan utamanya, Jacques Derrida yang membongkar peta filsafat Eropa. Saya yakin sekali kalau penulisnya memiliki bacaan luas.

Hanya saja, namanya belumlah familiar. Toko buku di Makassar, saya belum menemukan ada buku ditulis oleh si penulis opini itu. Sempat kuduga kalau si penulis menggunakan nama pena. Atau, ia seorang peneliti asal Jepang yang sedang merampungkan disertasinya di Indonesia. Saya kira wajar jika kita mengeja nama: Zen.

Nama Zen RS, saya temukan lagi di buku serial On/Off, mulanya berupa buletin terbitan Akademi Kebudayan Yogyakarta (AKY) kemudian sejumlah edisinya terbit ke dalam buku berisi esai dari banyak penulis. Nah, di edisi bertema Keluarga, terdapat catatan bertajuk Wangsa Aidit, ulasannya mengenai liku luka keluarga Aidit yang sungguh menghantam kepala. Zen melakukan narasi sejarah begitu lekat tentang sosok keluarga Aidit setahun lebih awal sebelum Majalah Tempo menurunkan liputan orang-orang kiri di tahun 2007.

Tahun-tahun itu, saya belum akrab dengan internet. Setelahnya tidak ada lagi catatan yang lain yang dapat saya baca dari penulis yang masih misterius. Siapa Zen RS?

Kira-kira di tahun 2010, ketika orang-orang di sekitar saya pada punya mainan baru bernama Facebook, saya malah, sudah sangat bangga punya alamat surel. Saya belum mengerti mengapa orang-orang duduk berjam-jam di sebuah warkop berfasilitas Wi-Fi nanar memelototi laptop.

Godaan begitu kuat untuk tidak melibatkan diri dalam perayaan karnaval manusia-manusia yang memindahkan ruang tamunya di warkop. Sesekali saya melakoni hal serupa dan akhirnya kecanduan. “Jika ingin menulis yang panjang-panjang, ada layanan untuk itu. Buatlah blog.” Nasihat seorang kawan. Dengan adanya blog yang dibuatkan teman, selanjutnya saya merasa punya petunjuk untuk mencari blog netizen yang lain.

Pada akhirnya saya menemukan blog pejalanjauh. Dari sanalah saya menjumpai lagi narasi Teologi si Tua Bangka dengan judul Zidane. Tak sampai sebulan saya membaca semua postingan yang ada. Kesan saya, Zen RS, pemilik blog itu menulis menyerupai semangat Goenawan Moehammad. Persoalan kemudian GM, sapaan pendiri Tempo itu dicibir usai Wijaya Herlambang menerbitkan disertasinya ke dalam buku Kekerasan Budaya Pasca 1965, utamanya sekali setelah Martyn Suryajaya dalam catatannnya di IndoProgres menelenjangi GM. Tetapi memang, suka tidak suka, banyak penulis awal yang tergugah dengan Caping GM. Saya kira, tidak ada penulis kelahiran 70 an dan setelahnya yang tidak membaca GM.

Berikutnya, sudah menjadi lapang mencari apa saja yang perlu ditelusuri di Google. Saya lupa dari mana saya menemukan link PanditFootbal. Hingga sekarang, website itu menjadi konsumsi saban hari. Sekali kesempatan saya mengirimkan naskah Tiada Oranye di Paris dan dimuat di rubrik PanditSharing.

#2

Membaca esai bola menjadi fantasi tersendiri dari membanjirnya esai bertema politik, pendidikan, atau sastra. Esai Shindunata sekali dua kali dimuat di Kompas mengupas pertandingan besar sekelas Piala Champions, Piala Dunia, dan Piala Eropa.

Esai di blog Belakang Gawang yang diisi Mahfud Ikhwan dan Darmanto Simaepa juga menjadi alternatif dengan pendekatan baru. Sinonim dengan beberapa esai bola di Football Fandom. Tetapi, relasi pola itu tentulah memiliki keterkaitan. Zen RS, misalnya, dalam tayangan video di PanditFootball mengomentari Shindunata dengan jejak kepenulisan esai bolanya. Jadi, bisa disebut kalau Zen juga belajar banyak dari Shindunata sebelum menetapkan ciri khas tersendiri. Begitulah selanjutnya, generasi setelah Zen menjadikan Zen sebagai pustaka hidup menulis esai bola.

Zen RS lebih dulu menerbitkan novel bertema bola, Jalan Lain ke Tulehu sebelum kumpulan esai bolanya, Simulakra Sepakbola. Buku bersampul karikatur seorang menendang kotak televisi berlatar merah sejauh yang ini hanya bisa dipesan online.

Esai berjumlah 25 judul dibagi ke dalam empat tema, Jejak, Dunia Simulasi, Koloni Bola, dan Narasi Kaki-Kaki. Dimulai dengan mukadimah berisi memoir masa kecil, Zen sudah tenggelam dalam novel Burung-Burung Manyar gubahan Mangun Wijaya dan percumbuannya dengan sepakbola. Lima esai di tema Jejak, Zen menjelaskan siapa dirinya. Kita tahu kemudian kalau ia sudah berkiprah sebagai pemain bola yang, di usia belianya sudah masuk dalam “tim nasional” di desanya.

Sebelumnya lagi, ia didukung oleh ayahnya untuk terus bermain bola. Dibuktikan dengan hadiah sepatu bermerk Super Cup. Sepatu bola yang jamak di era itu dengan empat trip, seakan melangkahi Adidas yang cuma tiga trip. Saya tersenyum membacanya karena ingatan saya kembali ke masa kecil. Hampir semua sepatu yang digunakan pemain sepakbola di kampung saya memakai sepatu empat trip itu. Fragmen bermain bola di tepi lapangan dan harus bubar sementara ketika pemain dewasa merebut bola di sana, juga mengingatkan adegan masa kecil bersama sejawat.

“Saat itu, desa saya hendak mengikuti sebuah turnamen di Kabupaten Kuningan. Turnamen 17-an itu jadi ajang seleksi siapa saja pemain yang akan memperkuat kesebelasan desa. Di akhir turnamen, kesebelasan saya hanya menjadi runner-up, tapi saya mendapat berkah tak terkira; dipanggil masuk kesebelasan desa.” Tegas Zen mengenang masa lalunya yang nikmat bermain di kompetesi tarkam.

Spanduk protes yang terbentang di tengah lautan suporter di Gelora Bung Karno kala Timnas Indonesia melawan Filipina di Perempat final Piala AFC tahun 2010, juga merupakan aksi Zen bersama beberapa kawannya yang mengusik kepemimpinan Nurdin Halid di PSSI. Mereka percaya kalau keampuhan menyebar isu sangat efektif di lakukan di stadion ketika terjadi pertandingan resmi. “PSSI Sarang Korupsi” kalimat di spanduk protes itu. Usaha mereka sebelumnya telah diawali dengan membagikan ribuan eksemplar zine PLAK, semacam brosur berisi protes terhadap tata kelola di induk sepakbola nasional.

Menjadi pemain bola dan suporter garis keras juga (katakanlah demikian) serasa sudah lebih dari cukup bagi Zen menjerumuskan dirinya ke dalam urusan bola. Ditambah latar akademik serta tempaan di pers kampus menggenapkan kesiapan Zen mengutak-atik bola dari beragam sudut pandang.

Simulakra, kata yang asing. Dan, itu dijadikan judul buku. Menjual sekali, begitu buku yang ditunggu sebulan lamanya di suatu siang diantar petugas jasa pengiriman. Kata asing itu langsung saja saya cari di daftar isi. Menempati halaman 53, rupanya merupakan rumusan traktat filsafat yang dicetuskan Baudrillard.

Konsep itu digunakan Zen melihat gejala yang ditimbulkan sepakbola modern. Pada situasi ini penonton tentu dibagi dua. Penonton yang hadir di stadion dan penonton yang menyaksikan tayangan di layar kaca. Pada tingkat tertentu, meski tayangan langsung memudahkan orang tetap menyaksikan pertandingan tanpa harus merogoh kocek membeli karcis dan berdesakan di dalam stadion. Namun, oleh mereka yang merasakan moksa bila menonton di stadion akan menolak tayangan di televisi.

Simulakra tak bisa dilepaskan dari konsep simulasi. Keduanya menjelaskan relasi suatu keutuhan. Objek yang sudah nyata masih memerlukan gambaran manakala obyek itu perlu dihadirkan kembali dalam situasi berbeda. Menjadi soal ketika kedudukan objek itu tergantikan ke-objek-kannya berdasar representasi yang digambarkan.

Zen mencontohkan pornografi sebagai representasi seks. Ia menuliskan begini; “…Ketika seseorang sudah benar-benar keranjingan dengan pornografi, dia bisa sangat suntuk dan getol menekuni pornografi. Rela mengunduh berjam-jam sampai betah menanti streaming yang lemot. Sampai-sampai dia lupa bahwa selama berjam-jam itu dia bisa saja melakukan aktivitas seksual. Entah masturbasi (yang tersial) atau bercinta (yang terbaik)”.

Dalam situasi demikian, representasi objek telah melampaui objek itu sendiri. “Inilah situasi ketika pornografi lebih sensual ketimbang seks.” Lajut Zen. Bagaimana hal tersebut terjadi dan memiliki penunjang untuk terus berlangsung, itulah yang disebut simulakra. Arena yang memungkinkan segala representasi objek dihamparkan

Di era sepakbola modern, hal tersebut sangat memungkinkan terjadi dan kita ambil bagian. Sejak tayangan liga sepakbola di negara Eropa dapat disaksikan tanpa harus terbang ke Inggris atau Italia, umpamanya, ruang simulakra sudah terbangun di rumah kita sendiri dan kita hidup dalam simulasi.

Pendekatan sastra, sejarah, filsafat, politik, sosiologi, musik hingga teori tari yang dilakukan Zen tidaklah tambal sulam guna menutupi celah. Justru memungkinkan disiplin ilmu itu hidup di ruang sepakbola.

Aksi heroik sekaligus menyebalkan yang diperagakan Maradona di Perempat Final Piala Dunia 1986 saat memulangkan Inggris, dikupas menggunakan teori tari balet. Kepiawaian Maradona melakukan solo ron dari jarak 60 meter dilakuan setelah empat menit sebelumnya ia melakukan lompatan untuk menyundul bola, tetapi tangannyalah yang menyentuh bola dan berbuah gol. Itulah yang dikenal dengan gol “Tangan Tuhan”.

Grand jete secara harfiah berarti “lompatan besar”. Ia merujuk gerak dalam tarian balet yang dicirikan oleh lompatan di udara yang dimulai dengan salah satu kaki dan lantas mendarat dengan kaki yang satunya lagi.” Jelas Zen.

Jika kita saksikan kembali cuplikan proses terjadinya gol itu yang dapat dilihat di YouTube, apa yang diperagakan Maradona barangkali saja metode alamiah yang sering dilakukan dalam sepakbola. Zen yang menonton berulang kali tayangan itu secara mendetail dan mendiskusikannya dengan seorang penari, istrinya sendiri, semakin menguatkan asumsinya kalau Maradona sedang melakukan tarian dalam sepakbola.

Sebagai orang yang pernah bermain sepakbola, Zen mengukur resonansi pengalamannya bermain. Dribbling yang dilakukan Maradona mungkin saja dapat ditiru dengan pesepak bola yang memiliki keahlian serupa. Tetapi, hal tersebut tentulah amat sulit. Messi, melakukan solo ron ketika Barcelona bertemu Getafe di Copa del Rey tahun 2008, sedikit menyamai yang dilakukan Maradona.

#3

Sepakbola sebagai olahraga tidaklah bebas nilai. Di era kolonial, Belanda menjadikannya legitimasi politik menguatkan hegemoni. Tiga tahun lebih awal dengan apa yang dilakukan Franco di Spanyol atas bangsa Catalan.

Juli 1933 di Bandung, diadakan kompetisi sepakbola NIVB. Idenya bermula untuk menetapkan hari sepakbola sebagai ruang mengatasi maraknya pengangguran. Cornelis de Jong, Gubernur Hindia Belanda yang menjabat, melihatnya sebagai senjata yang dapat digunakan untuk meredam amuk massa karena krisis yang terjadi saat itu akibat resesi ekonomi di Amerika yang berimbas pada negeri di Timur Jauh. Hindia Belanda tak luput dari gelombang krisis

Awal tahun 1920 an, dampak krisis ekonomi meningkatkan volume pengangguran. Di Semarang, Sarekat Islam (SI) sangat menyadari proses organisasi kaum miskin bisa menjadi kekuatan. Sarekat Kere lalu dibentuk atas inisisasi SI yang menjadi momok kaum golongan kaya.

Di wilayah itulah letak pertarungan hegemoninya. Gubernur Jenderal Belanda perlu merebut perhatian masyarakat ke dalam bentuk peristiwa sosial yang dapat menjadi opium. Melenakan masyarakat dari situasi getir yang dihadapi. Tidak bisa tidak, sepakbola adalah jalan terbaik yang dapat ditempuh.

Perayaan seabad terbebasnya Belanda dari koloni Perancis, Koloniale Tentoonstelling (Perayaan Kolonial) juga digelar di Semarang, komoditas andalan berupa hasil perkebunan, kerajinan, hingga teknologi terbaru dipamerkan. Guna menarik massa, pasar malam dan pertandingan sepakbola digelar. Seluruh rangkaian pameran itu diadakan empat bulan lamanya.

Zen menggeledah sepakbola dari segala arah. Merasuki relung jiwa seorang pemain sembari menerabas batas kultural. Menggugat depolitisasi sepak bola dunia yang dikampanyekan FIFA melalui slogan Kick Politic Out of Football. Kampanye depolitisasi yang digelorakan induk sepakbola dunia pada dasarnya merupakan pilihan politik juga.

Gestur pemain di lapangan ketika merayakan gol diintai ratusan kamera dan ditonton ulang mata-mata anti politik. Salomon Kalou pernah mengalami hal ini. Perayaan dua golnya ke gawang Middlesbrough kala ia masih memperkuat Chelsea di tahun 2009, dilakukan dengan cara menyilangkan dua tangannya dianggap sebagai dukungan kepada Antoine Assale Tiemoko, penulis Pantai Gading yang dipenjara karena tulisannya dianggap mengganggu kemapanan politik penguasa.

Para pesepakbola di Eropa, oleh Zen dianggap telah kehilangan suara pribadinya. Sanksi berupa larangan bermain dan denda siap diterapkan oleh otoritas liga di mana pemain berada. Kalou hanya salah satu contoh. Pengekangan pandangan politik pemain di dalam lapangan diharamkan justru, disaat bersamaan kemegahan liga-liga sepakbola di Eropa dibangun atas pandangan politik kapitalistik.

Zen mengajukan analogi “massa mengambang” yang dahulu dijadikan kekuatan Ali Moertopo di era awal pertumbuhan Orde Baru. “Dengan depolitisasi melalui konsep “massa mengambang” itu, Orde Baru memaksa rakyat untuk menjauh dari politik, mengharamkan rakyat berpolitik, tapi dijaring suaranya justru saat Pemiu.”

Kritik terhadap sikap petinggi FIFA juga dikemukakan melalui aksi yang dilakukan Dani Alves yang memungut pisang yang dilemparkan ke arahnya. Tindakan Alves merupakan perlawanan terselubung bermuatan humor sarkastik kepada para rasialis.

Bandingkan dengan respons Sepp Blatter yang amat mengentengkan persoalan kalau rasialis dapat diselesaikan dengan jabat tangan saja tanpa adanya aturan tegas. Ketika Kevin Prince Boateng ngambek dan memilih keluar lapangan karena diejek serupa kera, Blaltter malah menyalahkan Boateng karena pilihannya itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Apa yang dilakukan Zen sepertinya bukan hal lama yang coba dilap kembali agar mengilap. Hal ini, memungkinkan menjadi fondasi yang sedang ia bangun sediri jika referensi kita membaca esai bola berputar pada Shindunata atau Gusdur sekalipun.

Perandaiannya begini, jogo bonito yang diperagakan beberapa pemain Brasil di kemudian hari sudah berakar kuat dari kaki Pele, Rivelino, atau Garincha. Bahwa Romario, Ronaldo da Lima, Ronaldinho hingga Neymar hanyalah merupakan bentuk baru dari apa yang telah dilakukan para pendahulu mereka. Memang, tidak ada hal baru di kolong langit. Disiplin ilmu yang lain pun demikian. Tak bisa lepas dari dialektika yang ada sebagai dasar.

Secara keseluruhan, usaha Zen tidak berhenti pada mengantar ke depan pintu gerbang. Ia bertindak lebih jauh karena berusaha menjadi pemandu dengan menunjukkan hal paling detail. Posisi Thomas Muller, si ceking yang pernah dianggap Maradona sebagai anak gawang itu menjadi penanda tentang ruang dalam sepakbola.

Muller menempati satu tempat dalam perkembangan taktik sepakbola modern. Zen meminjam ilmu penata ruang. Sudah bertubuh kurus, gocekan bola tidak ada, kontrol bola ala kadarnya. Eh, si Muller ini menempati posisi paling vital, gelandang serang. Tetapi dia mampu memilih ruang tepat di mana bek paling disegani pun tertarik mengawasinya.

Muller mendeskripsikan dirinya sebagai raumdeuter, atau ahli tata ruang dalam makna obyektifikasinya. Zen menyebutnya penafsir ruang untuk posisinya dalam sepakbola. Final Piala Dunia 2014, digunakan contoh terbaik membaca posisi Muller. Benar, bahwa Gotze yang mencetak gol dan Schurlle yang memberinya umpan. Tetapi gerakan Muller yang turun seolah menjemput bola menarik Demichelis maju ke depan. Selanjutnya, Gotze tanpa kawalan menerima bola.

Pada akhirnya, jika harus menetapkan pilihan. Catatan monumental dari semua esai yang ada di buku ini, ialah ulasan yang dijuduli Plata o Plomo: Paradoks Sepakbola Amerika Latin, dibuka dengan mengingatkan aksi yang tak biasa kiper Kolombia, Rene Higuita, yang tidak menangkap bola mengarah ke gawangnya.

Pada pertandingan persahabatan dengan Inggris di Stadion Wembley, 6 September 1995. Jamie Redknapp melakukan tendangan di luar kotak penalti. Si kiper, Higutia, meminjam sepotong kalimat Zen: “…kadang tak bisa dihitung kapan nalarnya bekerja dan kapan naluri kegilaannya mengambil alih…” malah melompat dengan kedua kakinya berayun ke belakang, serupa ekor kalajengking siap menyerang. Dan, begitulah yang terjadi. Bola mental ke depan karena kedua kakinya itu pas mengenai bola. Aksinya itulah yang kelak dia diingat sebagai pemilik tendangan kalajengking.

Paradoks Higuita tentu saja tidak berdiri tunggal dan seorang diri. Ada relasi sosial di negaranya yang menjadi latar. Garincha, misalnya, kakinya yang panjang sebelah tetapi menjadi gladiator di dua Piala Dunia (1958 dan 1962). Situasi demikian paradoks tentu tak bisa dilepaskan dari Maradona yang, dalam satu pertandingan di pentas Piala Dunia 1986 di Mexico mencipta doa gol yang saling bertentangan. Satu dengan sangat licik (dia menyebutnya “Tangan Tuhan”) dan solo ron dari jarak 60 meter.

Di balik dari semua itu. Struktur relasi sepakbola Amerika Latin sungguhlah biadab dari kaca mata moral. Tetapi itu nyata adanya. Kartel, mafia, dan koruptor menjadi bagian yang tak terpisahkan. Kematian tragis Andres Escobar harus dibaca dalam kerangka itu.

Plata o Plomo. Fakta atau fiksi semuanya bercampur baur. Ulasan ini semakin lengkap dengan memasukkan kosmologi Gabriel Garcia Marquez sebagai penguat cara pandang. Sejenak mengingatkan kembali pada esai Teologi si Tua Bangka. Begitu apik. Begitu luas. Begitu paradigmatik.

Zen telah berusaha mengupayakan cara pandang menonton dan membaca sepakbola.

*

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This