Tulang Punggung yang Tak Dirindukan

Sahabatku menceritakan kisah kawannya yang baru saja memutuskan untuk tidak melanjutkan niatnya dilamar oleh sepupunya yang, dianggapnya mapan dan sangat layak untuk menjadi tulang punggung dalam hidup rumah tangganya kelak. Ditolaknya, karena pertimbangan sangat prinsip yang cukup menjadi alasan hubungan tak bisa dibawa ke singgasana pelaminan.

Padahal, semua keluarganya menginginkan mereka bersatu menjadi lebih dekat tak sekadar sepupuan. Tetapi, apa bisa dikata jika hati kecil tak menemukan sinyal akan dipersatukan. Ia sepakat kalau jodoh merupakan rahasia Tuhan.

Diceritakan kisah kawannya di ruang tamu padaku dengan jamuan air kemasan dan sedikit kue basah yang masih tersisa di kulkasnya. Maklum, tak ada persiapan menjamu tamu yang lumayan tidak penting, meski sahabatnya sendiri. Ya, saya sempatkan singgah di rumah sahabatku sekadar silaturahim tanpa mengabari sebelumnya. Takut merepotkan saja. Lagi pula saya berburu waktu sebelum gelap menuju Mamuju, Sulawesi Barat untuk urusan pekerjaan di Ranu Prima College (RPC), sebuah lembaga bimbingan belajar di cabang Mamuju.

Tak jauh berbeda dengan cerita kawanku saat saya sudah berada di Mamuju. Kawan yang bersamaku selama di Mamuju mencuri waktu berpisah dengan kami Tim RPC Sulselbar demi bertemu teman seangkatan semasa SMA yang telah lama tidak bertemu. Ketika baru pulang sehabis makan malam bersama teman masa sekolahnya itu, penuh semangat dan senyum kebahagiaan ia menceritakan pengalamannya telah berjumpa. Diceritakan pula kisah temannya yang sudah dua kali menolak pria yang ingin melamarnya. Dan, aneh bagi kawanku karena katanya yang melamar adalah orang yang sudah mapan secara ekonomi dan memiliki jaminan pekerjaan tetapi tak menarik untuk menerimanya.

Kukatakan pada kawanku, menjadi lelaki dengan jaminan mampu menjadi tulang punggung belum tentu cukup dirindukan oleh wanita yang menanti menjemput jodoh. Setiap suami setelah menikah pasti akan berusaha memenuhi kewajiban yang ada di pundaknya. Dan, urusan kewajiban itu adalah urusan memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Sedangkan pernikahan mencakup urusan dunia hingga akhirat. Pernikahan adalah perjalanan pulang membawa titipan cinta yang dirawat bersama hingga ke surga.

Tulang punggung dan tulang rusuk yang dipersatukan dalam tubuh bernama pernikahan takkan mampu berjalan tanpa fondasi berupa tulang kaki yang kuat. Agama keduanyalah menjadi kaki kiri dan kanan yang kuat melangkah berjalan bersisian yang kelak berbalas nikmat Tuhan yang dijanjikan. Tanpa tulang fondasi yang menjadi penopang, tulang rusuk dan tulang punggung tak berarti apa-apa.

Maka kucandai kawanku, bahwa kisah penolakan pada lelaki mapan yang disampaikan kawannya itu sebenarnya adalah sinyal untuknya agar ia yang datang melamar. Tidak perlu mapan jika memperjuangkan cintanya. Kawanku hanya tersenyum malu seakan mengelak. Tetapi, kudapati binar wajahnya merindukan itu terjadi. Tak bisa disembunyikan rasa pada teman SMA yang selalu dielukan cantik dan pintar ketika menceritakannya padaku sesekali waktu.

Rhido Al Tundungkury

Bergiat di Ranu Prima College Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This