Tentang Kota Kecil Tanpa Toko Buku dan Usaha Menerbitkan Buku

Seumpama di Yogyakarta

Buku bisa diterbitkan kurang dari 24 jam

dan esoknya sudah bisa dipesan

Seumpama di Jakarta

Buku terbaru sudah bisa dilihat di depan layar hape

tak lama setelah sampulnya beredar di media sosial

*

Rima puisi di atas, jika bisa dikatakan demikian, berutang pada puisi Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul. Sedikit berlebihan, memang, tetapi itulah yang dirasakan bagi pembaca buku di luar kota Jawa.

Meski tanpa penelitian yang detail, bisa disepakati kalau buku yang beredar di Makassar, 90 persen terbitan Jawa. 10 persennya dinisbahkan pada penerbit lokal yang coba tumbuh dengan asupan gizi ketar ketir. Relasinya pun bermuara pada dua kota di atas: Yogyakarta dan Jakarta dalam urusan percetakan.

Nah, itu di Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan. Lalu bagaimana dengan geliat penerbit di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Sulit mengatakan tidak ada sebagaiamana menyebutkan ada. Merancang usaha penerbitan sebagai karya kreatif di kota kecil di Sulawesi Selatan bukanlah jalan terjal, sebab, belum bisa disebut demikian. Tidak ada rancangan proses sehingga pantas disebut jalan terjal.

Di Pangkep, salah satu kota kecil itu, berjarak sekitar 50 Km di sisi utara kota Makassar, pernah ada komunitas Lentera yang melakukan rintisan penerbitan. Memulainya dengan menerbitkan majalah dengan nama yang sama, mengambil ceruk pasar terbilang berengsek: sastra. Hasilnya, harus mati setelah menerbitkan tiga edisi.

Proses pengurusan ISSN dilakukan sebagai upaya melegalkan penerbitan majalah. Distribusi ke sejumlah teman pengelola toko buku di Makassar dimaksimalkan. Niatnya, tentu saja, memulai gerakan literasi di pinggiran kota besar: patokannya di sini, Makassar.

Sekelompok orang-orang di komunitas Lentera memendam impian kalau Pangkep akan menjadi kiblat (agak megak memang) geliat penerbitan baru setelah Makassar mengingat gerakan serupa di kota kabupaten yang lain di Sulawesi Selatan masihlah dihitung jari. Dan, pelakunya, adalah mereka yang berjejak di Makassar kemudian pulang ke kampungnya.

Meminjam tesis Benedict Anderson di buku Di Bawah Tiga Bendera-Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial, gejolak anarkisme di Eropa telah menyuntikkan gerakan lokal di koloni negara Eropa. Ben merujuk pada Filipina, bapak bangsa negeri jajahan Spanyol, Jose Rizal banyak mengadopsi gerakan anarkisme di Eropa.

Kira-kira, semangat serupa pula, hasil interaksi pembacaan buku terbitan Yogyakarta di awal tahun 2000 an telah memberi ruang berbuat sama. Apalagi sekarang dimudahkan akses internet. Jualan online sejumlah penerbit indie menambah referensi baru mengenai medan lain dari distribusi. Semangat literasi itu merupakan relasi dari upaya bertahun-tahun dilakukan di Yogyakarta dan Jakarta, utamanya dari kota yang dikenal kota pendidikan itu.

Namun, sejumlah tantangan kemudian berdatangan. Mulai dari pengurusan ISBN dan percetakan. Di Makassar, percetakan buku memang ada, tetapi hasilnya tentulah tak sesuai yang diharapkan. Maklum, percetakan di Makassar lebih dekat pada percetakan spanduk. Beberapa upaya yang pernah dilakukan, pihak percetakan menerima tawaran cetak bukan karena terbiasa mencetak buku, tetapi karena tawaran itu adalah orderan. Selesai.

Hal itu pernah dialami ketika mencetak edisi pertama Majalah Lentera. Cetakan ketiga edisi dilakukan di percetakan berbeda. Itu pun masih terkesan amatir. Kami rikuh sendiri jika memaksakan majalah itu dititip jual di toko buku teman. Pilihan bijaknya, proyek itu dihentikan. Tepatnya, berhenti sendiri setelah modal lembaga habis.

Padahal, upaya penerbitan majalah itu barulah pengantar. Semacam uji coba yang dilakukan Lentera untuk melangkah menerbitkan buku yang, sesungguhnya, lebih pada usaha bunuh diri di usia muda. Bagaimana mungkin menerbitkan buku di kota yang tidak memiliki toko buku. Ada sih, tetapi toko buku tersebut hanyalah menjual buku tulis pelajar, ATK, buku paket pelajaran. Dan, jika pun ada buku umum yang terpajang di rak, itu tak lebih buruk dari buku motivasi cepat kaya atau kiat praktis menuju surga

Pada akhirnya, sebelum lembaga ini benar-benar tertidur dalam waktu lama, komunitas binaan Lentera yang diisi pelajar tingkat atas (SMA) berhasil mengupayakan penerbitan buku kumpulan puisi. Ada dua kekuatan sehingga segala sebab terbitnya buku terpenuhi. Pertama, Lentera tak ingin pulas sebelum niat awalnya terpenuhi: tercatat sebagai satu-satunya penerbit di kota kecil Pangkep yang telah menerbitkan buku. Kedua, para pelajar yang tergabung di Komunitas Pelajar Lentera Pangkep (KPLP) itu tak ingin ikut-ikutan dengan lembaga pembinanya dan, utamanya, mereka tak ingin melepas label pelajar sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi bersama. Saat itu tahun 2013, beberapa di antaranya sudah menginjak kelas tiga.

Kami rikuh sendiri jika memaksakan majalah itu dititip jual di toko buku teman. Pilihan bijaknya, proyek itu dihentikan. Tepatnya, berhenti sendiri setelah modal lembaga habis.

Tak ingin dikutuk pepatah sebagai keledai bodoh yang jatuh di lubang yang sama. Begitu naskah dan dana siap. Gerilya dilakukan di dunia maya mencari penerbit yang dapat membantu membuatkan “nisan” bagi lembaga yang sudah memprediksi kematiannya sendiri. Buku itu akan dikenang sebagai satu-satunya perwujudan impian. Akan diziarahi selaku titik ratapan.

Pilihan kemudian jatuh pada Leutika Prio. Salah satu penerbit berbasis print on demand (POD) di Yogyakarta, dengan dana secukupnya, buku itu lalu lahir yang kemudian disambut gegap gempita. Ingin rasanya memasang iklan di Fajar dan Tribun Timur, dua koran harian berpengaruh di Sulawesi Selatan sebagai puji syukur. Untunglah, hal itu tidak dilakukan mengingat lembaga memang sudah berjalan menuju ke tempat peristirahatannya. Dan, utamanya, biaya beriklan sesungguhnya tidak ada.

Empat tahun berselang sejak buku Suara Pelajar, Sehimpun Puisi Pelajar Pangkep  itu terbit. Semangkuk semangat yang tersisa dari beberapa orang yang pernah mendeklarasikan Lentera kembali mendidih. Usaha mendirikan penerbit indie kembali menganggu tidur siang mereka. Kali ini dengan strategi lebih moderat. Katakanlah demikian, sebagai bagian menjaga nyala api agar tidak padam disiram hujan.

Kemudahan mengurus ISBN di Perpustakaan Nasional menjadi salah satu dukungan karena udah bisa dilakukan secara online. Beberapa kawan mulai mahir membuat desain cover yang mengagumkan. Kemampuan menulis teman-teman Blogger di Pangkep perlahan menjanjikan. Jalan distrbusi sudah dipelajari. Sekarang, sisa menyiapkan naskah dan mewujudkannya. Meski, di kota kecil kami toko buku bukanlah bisnis yang dapat menjanjikan naik haji.

*

Gambar: Warung Arsip (Gus Muh)

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This