Tenanglah di Bangkumu

Aku bukan tipikal orang yang senang pada tas ransel besar. Diselempangkan di pundak rasanya begitu mengganggu gerak. Seperti pemulung yang biasa didapat di sekitar TPA. Kadang kala membayangkannya seperti itu. Serdadu. Aku melihatnya keren ransel itu terlihat gagah tanpa membebani mereka dalam agresi. Atau model setelan jas turunan dengan topi flat bagian atas, dipadukan syal bergaris-garis ragam warna di bagian leher. Untuk hal ini tentu saja aku kini membayangkan David Beckham.

Kira-kira dalam tempo waktu sebulanan ini. Setidak-tidaknya menurut hitunganku, keberadaanku lebih banyak merawat diri di kota. Lebih pasnya lagi berdiam diri. Tak ada klasifikasi waktu punya manfaat banyak. Semisal bekerja, terus menerima upah, aku enggan menyimpan itu di otakku. Apalagi untuk mempelajari trik bagaimana jadi jutawan. Uh, isi di kepalaku bisa luruh kapan saja.

Lalu kembali ke kampung, orang-orang hanya akan mencibir rambutku yang gondrong, kriting dan kelihatan tidak terawat. Tetapi, kupesankan, itu makanan setanku. Kemungkinan besar kita akan ribut menyoal itu. Akan ada sepotong kemarahan di kepala tentu saja.

Berada dalam area minim kehidupan pastilah menyiksa. Indekos. Begitulah realitanya. Suatu waktu kuceritakan pada temanku. Dia bilang, saya tahu bagaimana di sana. Usah kau detilkan. Pada wajahnya kutegaskan, please! Jarak pandang, sudut pandangmu tolong kamu genjot. Kau boleh melihatku suram, tetapi tak pantas bagi semua orang. Dia mencolek dalam-dalam pahaku dan berbisik. “Kamar yang di sebelahmu itu bagaimana, cess!” Setan. Kami tertawa di sepertiga akhir malam kala itu.

Pukul tujuh pagi hingga pukul sepuluh jelang siang bukan masa yang akrab denganku. Durasi tidurku bisa dikata di atas rata-rata. Menemukan kebebasan bagiku sebenarnya tak begitu rumit. Di manapun kepalaku terkulai kantuk, suasananya selalu bagai di  bangsal samping rumah di kampung, istana tempatku mendapati mimpi. Ditambah tudang sipulung* yang digelar teman-teman semalam hingga jelang dini hari tadi, adalah pengantar lelap yang wajib kutuntaskan.

“Rik, besok kau ada jadwal. Ketemu dengan bapak kepala bagian di ruangannya. Ingat, pagi.” Suara itu lenyap disusul bunyi kikuk pintu yang gemeretak ditutup terburu-buru.

Parkiran halaman depan gedung lumayan sesak. Sebagian pemilik motor memilih area ruas jalan, sekitar wilayah rumah bernyanyi juga masuk kategori aman parkir. Rehat panjang usai.

“Lantai atas gedung lebih representatif. Teman-teman kita kumpulkan di atas saja.” Gara tiba-tiba muncul dari balik pergumulan orang-orang yang memotret dan mencatat jadwal ruangan masing-masing pada papan informasi. Senyumnya semringah dan di matanya ada kilasan tajam. Punya potensi membangunkan optimisme pemuda yang menatapnya. Kepercayaan dirinya melonjak belum lama ini. Dim, menilai, ini bukan tanpa sebab.

“Efeknya benar-benar kelihatan, Ga. Sampai kau rela keringatan jalan kaki dari kosan.” Sorry, saya tidak bisa jemput tadi. Panggilan mendadak ke ruangan direktur pagi ini tak bisa kutolak. Kamu juga sebaiknya bersiap-siap.” Ia menegaskan.

Sebenarnya seorang mampu menyaksikan ini secara lebih gamblang

“Hentikan omong kosongmu, Dim.” Gara memotong. “Oke, sekarang saya mau bilang; di antara kita yang memakai seragam ini, kamu saja yang kelihatan lebih pantas. Pantas disebut pakai daster. Kusarankan padamu supaya menanyakan kembali pilihanmu tinggal di kamar indekos, teman. Hati-hati, sekitar sini banyak anjing. Bajunya bukan kebesaran. Dasarnya, kamu memang kekurangan asupan gizi.” Gara mencibir pelan dan berlalu dengan tawa yang ditutupi.

Sapaan awal Dim memang selalu begitu. Fokus mengurai hal baru pada sisi perubahan modis seseorang. Setelah itu, sebaliknya. Dia akan jadi bahan olokan yang empuk. Gara hanya mengedipkan matanya sebelah kemudian menuju lantai atas. Beberapa orang yang ia lewati, seperti menyimpan pertanyaan terhadapnya.

Dim menyusul ke lantai dua sembari mulutnya tak redam menyampaikan keterangan pada telepon genggamnya. Di belakang, puluhan orang mengikutinya. Berbeda dengan setelan yang ia kenakan bersama Gara, mereka memakai seragam mirip jas berwarna merah. Semua diselimuti rasa ingin tahu yang baru dan sederhana. Bagi Dim, tak perlu waktu lama mengkondisikan keadaan ini. Hanya saja ia kurang awas. Segelintir kawan merekam jejaknya.

*

Ada kemunduran yang tidak kecil. Saat para senopati bertakhta melenggang dalam gedung, orang-orang menjadi enggan. Hari dimana bilik-bilik dalam gedung terisi sesak, kitab-kitab bahan ajaran diasongkan dengan taksiran nominal yang mencekik. Seseorang berkisah; aku meninggalkan pasar itu lebih cepat pada masaku. Masa yang orang ramai menyebut-nyebut free market.

Dongeng dimulai dari sang bapak di depan berkaca mata. Sepiring kue terhidang di hadapannya. Teh kotak juga tak luput. Tenanglah di bangkumu. Sudah diatur, giliran siapa selanjutnya akan mengangkat tangan dalam ruang monoton membosankan ini. Perihal jawaban, naskahnya sisa didiktekan saja. Simpel. Jangan bingung dan jangan bertanya. Itu kata kunci. Baik-baiklah di tempat dudukmu.

Sebenarnya seorang mampu menyaksikan ini secara lebih gamblang. Tetapi, kasihan dia punya jiwa yang tercerai berai. Andai kata ia lelaki, hidup dalam masa gerilya, sudah pupus ia sekarang.

Semacam digelar stand up comedy di bagian atas aula. Dim dan Gara berada di tengah-tengah lingkaran orang muda berjas merah. Hadir injeksi moral yang menabur.  Menghargai dan dihargai diucap berulang-berulang. Tak ada paksaan dalam kehidupan. Satu manusia sama pentingnya dengan semua manusia.

Agama diturunkan tidak untuk menakut-nakuti. “Aku Islam, mari kita bersama-sama belajar. Di balik ruangan ini kita bangun peradaban yang damai. Perjuangkan apa itu yang tersebut sebagai hak. Di kota dan di pinggiran sama hak sebagai warga.” Gara sedikit lagi mengakhiri pertemuan hari itu.

Dim sekarang angkat bicara. Satu menit, tiga batang kata begitu sulit ia sampaikan. Kaca mata lebarnya sering kali ditata ulang meski tak terjadi apa-apa. Lebih banyak memamerkan senyumnya yang sama sekali tidak ada manisnya. Ela, seorang protestan yang taat, dalam lingkaran itu sering kali memegang perutnya dan menutupi wajahnya. Tak kuasa menahan tawa menyaksikan laku Dim, si anak terbitan pesisir itu.

“Apakah tidak sebaiknya ini semua dihentikan.” Erik menemui Sudiman dan Gara, menggirinya ke sudut ruangan setelah pertemuan hari itu. Ia bangun seperti biasa, langsung menuju gedung jelang sore hari. Kali ini dengan sangat tergesa-gesa. Gara memandangi Erik dalam-dalam. Ia menyaksikan. Sorot mata tajam Erik di balik rambut panjangnya yang masih berantakan, ada keredupan tak jelas asalnya.

“Beberapa di antara teman-teman yang biasa hadir dalam tudang sipulung terancam ditarik biaya belajarnya dari pucuk gedung. Parahnya, kita berada dalam deretan nama-nama yang dicari. Apa yang mesti dilakukan. Dimana letak kenjanggalannya.” Rik menggaruk kasar rambutnya dan menghempaskan kepalan tangannya, membelakangi kedua sejawatnya.

Ini mirip pada apa yang terjadi di masa lalu. Orang bergabung pada kelompok tertentu memiliki catatan khusus. Sejarah mungkin berulang.

Ruangan hampa. Angin bertiup seadanya.Tak ada kata dan inisiatif di antara mereka bertiga di dalam. Dimana ada ujian, di sana bisa jadi ada kegagalan. Ketika sebuah jiwa harus dikuatkan, jiwa itu juga dapat dilembekkan.

“Sudah. Saya akan meninggalkan ini. Deceng Kallolo sila kalian pertahankan. Ini komunitas. Jangan sampai orang lain kena wabahnya.” Erik memecah. “Bahkan orang yang biasa bersama denganku kemari, kini meminta diturunkan jauh dari gedung ini. Bacaannya jelas. Ia tidak ingin pucuk gedung menyaksikan aku bersamanya, lalu tercitrai bagian dari pada kita. Belum lagi mereka yang dipersulit jelang ujian. Bagiku, ini sudah final, cika.” Ujarnya.

Erik menepuk pundak kedua sahabatnya. Melangkah keluar ruangan dengan ransel panjang yang tidak biasa ia kenakan menempel di pundaknya. Dim melihat kejanggalan hari itu tapi kali ini memilih tidak berkomentar.

Erik trus berjalan menuruni tangga gedung. Matanya kini hampir tak mengenal lagi siapa di hadapannya. Bahkan senopati gedung sekalipun. Pesan yang ditinggalkan Sudiman pagi tadi untuk menemui kepala bagian gedung, memang sasmita buruk baginya, meski akhirnya tak juga mengindahkan panggilan itu.

Melangkah keluar melewati gerbang, dengan jelas ia saksikan wajah-wajah mereka dipajang pada papan informasi. Ia menarik jas merah dari tasnya lalu diselempangkan ke pundaknya.

Saat proses belajar berlangsung di ruangan. Dibawah langit sore itu, ia melangkah sendirian menyusuri jalan Andi Mauraga. Tanpa teman yang biasa di kiri dan kananya. Melintas di hadapan gedung kedua, ia sempatkan menoleh ke arah gedung. Teringat dirinya saat menggagas Deceng Kallolo di dalam sana beberapa bulan lalu. Pagi tadi, karena tekad besar bersama, pakaian kebesarannya telah dikenakannya kini.

Ia menghela nafas agak panjang.Meyakinkan dirinya sekali lagi untuk mampu bertahan lama di sana. Di bawah karangan logo bundar bertulis Yayasan Matahari.

Tiba di indekos, ia hamburkan dirinya di atas kasur. Ransel besar yang ia kenakan ditaruh pada sudut kamar. Saat dirinya kembali lelap dalam luka kebimbangan, Dim datang. Ia meraih tas yang Erik kenakan ke gedung. Beberapa detik pemuda lugu itu berada dalam tekanan jiwa yang hebat. Ransel itu, di dalamnya terdapat sebilah parang panjang.

*

*tudang sipulung: rembuk warga

Gambar: Lauba-Little People Street Art-Pinterest

mm

Afdal AB

Mahasiswa semester akhir STAI DDI Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This