Taman Sebagai Halaman Kota

Taman kota menjadi oase bagi warga untuk berkumpul. Di Pangkep, selain taman segi tiga di tepi sungai Pangkajene, tepat di belakang tugu bambu runcing. Juga ada taman Musafir yang mulai dibangun di era pemerintahan Bupati Syafruddin Nur.

Penggunaan nama Musafir berkaitan dengan visi pemerintahaan saat itu yang ingin membumikan konsep syariat Islam yang didukung dengan lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Syariat Islam. Infrastruktur taman dengan jejeran pilar tanpa atap mengingatkan pada corak dinding Colloseum di Roma, Italia.

Di empat sudut, berdiri tiang utama yang juga menjadi ruang serupa menara. Dulunya di bagian tengah taman juga berdiri bangunan yang sama. Kini sudah tidak ada lagi karena di bagian belakang dibangun tugu Adipura.

Pantauan Saraung.Com pada Minggu (12/2) merekam sejumlah perubahan infrastruktur taman Musafir yang menjadi halaman kota Pangkajene.

BEKAS PAPAN NAMA
Awal mula huruf balok bertuliskan Taman Musafir berada di sisi kiri, tetapi pohon trembesi yang tumbang menimpa huruf itu. Lalu dibangunlah tiang beton sebagai tempat pemasangan huruf balok sebelum dihilangkan lagi karena mengalami kerusakan.

 

BATU REFLEKSI
Taman Musafir juga dilengakpi batu refleksi di sisi kanan taman dengan panjang sekitar 20 m dan lebar 2 m. Batu refleksi ini banyak digunakan oleh mereka yang menginginkan peredaran darah berjalan lancar. Batu kerikil berbentuk lonjong ditanam dalam cor yang memungkinkan mengenai titik akupuntur di telapak kaki.

 

BANGKU TAMAN
Tak jauh dari batu refleksi, berjejer bangku taman yang terbuat dari marmer. Hanya saja, akar trembesi mengakibatkan lantai bangku taman mulai terangkat sehingga marmer terlepas. Pemilihan penanaman trembesi di taman yang lahannya sempit nampaknya perlu dikaji ulang.
POHON KETAPANG
Di beranda taman bagian depan, terdapat delapan pohon ketapang yang ditanam dalam pot (empat di kiri dan empat di kanan). Maksud penanaman pohon tentulah diperuntukkan untuk berteduh. Namun, ketapang termasik jenis pohon yang berusia panjang dan tidak cocok ditanam dalam pot.

 

TAMAN BACA
Jauh sebelum bangunan ini ada, terdapat ayunan dan papan luncur. Sekarang, papan luncur dipindahkan di sisi kanan taman. Bangunan ini menjadi perbincangan di medsos karena tidak jelas peruntukannya meski beredar kabar bakal dijadikan ruang baca. Sempat terbengkalai beberapa tahun sebelum spanduk bertuliskan Taman Baca dipasang sebagai penanda. Tetapi, pantauan ketika ke sana, di dalam ruangan malah terdapat gerai jualan aneka minuman. Buku memang ada namun jumlahnya sekitar 20 an judul saja.

 

TOILET
Toilet menjadi hal penting di ruang publik. Keberadaan toilet diharapkan menjadi jaminan kebersihan taman dari bahaya laten bau pesing. Sayang, toilet ini sendiri tidak dapat membebaskan dirinya dari bahaya laten itu. Keran tidak berfungsi. Duh!

 

KOLAM DAN ADIPURA
Tugu Adipura mulanya dibangun di lokus tugu bambu runcing. Kemudian dipindahkan ke Taman Musafir. Penghargaan Adipura diraih di tahun 2011, 2012, dan 2013. Di tengah taman dibangun kolam air pancuran yang keluar dari keran besar.
X

Pin It on Pinterest

X
Share This