Supri Pulang ke Desa

Supri pulang ke desanya di kaki Gunung Bulusaraung setelah menyelesaikan sekolah menengah atas di ibukota kabupaten. Di desanya tak ada SMA, sebagaimana banyak desa lain di Indonesia. Ia kembali mengangkat cangkul dan memulai pertarungan panjang melawan model peminggiran petani yang seringkali tak tampak: industrialisasi sistem cocok tanam.

Ia bergabung dengan Sekolah Rakyat Petani (SRP)Tompobulu ketika organisasi itu dibentuk sekitar 8 tahun silam, untuk memulai ujicoba demi ujicoba berbagai corak sistem cocok tanam.

Ia salah satu orang pertama yang berani mencoba cara bertani padi yang tengah berkembang pesat, System of Rice Intensification (SRI), tetapi masih asing di desanya saat itu. SRI merupakan salah satu ujicoba awal SRP Tompobulu, dan mereka punya nama sendiri untuknya: ‘tanam satu-satu’, merujuk pada metode tanam padi satu pohon bibit satu lubang. Di lahannya, ia mulai uji coba model organik ini sekitar tujuh tahun lalu.

Melepaskan diri dari jerat sistem cocok tanam padat-modal yang bikin tergantung dan merusak alam dalam jangka panjang

Pada musim pertama ujicoba SRI, ia ingat Najamuddin, rekannya sesama anggota SRP yang terus dibuntuti rasa gelisah. “Setiap melewati sawahnya, ia berpaling ke arah lain atau melihat ke atas, tidak berani lihat sawahnya,” tutur Supri, sambil tertawa kecil. Tak ada satu orang pun di desa yang tahu hasilnya akan seperti apa. Tekanan untuk menghadirkan pembuktian mengambang memenuhi desa. Mereka menanti dalam cemas.

Delapan musim kemudian, hampir semua petani di dusunnya, menerapkan SRI. Produksi mereka tidak susut, sebagian bahkan meningkat, tapi mereka tidak harus mengeluarkan banyak ongkos produksi sebelum memulai musim tanam. Mereka tidak harus beli pupuk dan pestisida kimia, sewa traktor keluar dari daftar belanja. Pun, kebutuhan air untuk menggenangi sawah menyusut. Sebagian tak lagi harus mengutang untuk memulai musim tanam baru, sebagaimana terjadi saban tahun.

Mereka melanjutkan ujicoba untuk mengganti input kimia dengan pupuk cair organik dan mengembangkan berbagai macam jenis racikan organik pengusir hama dan penyakit tanaman. Mereka berusaha melepaskan diri dari jerat sistem cocok tanam padat-modal yang bikin tergantung dan merusak alam dalam jangka panjang.

Supri menjelma ahli meracik cairan-cairan organik itu. Ia bahkan bisa memproduksi surplus yang ia bagi ke petani lain yang terlalu sibuk untuk membuatnya sendiri. Ia melakukannya sembari mengurusi administrasi keuangan SRP Tompobulu yang kini sudah punya rumah pelatihan dan pabrik penggilingan padi sendiri.

Ia melakukannya, demi membangun kembali kerja kolektif di desanya. Setidaknya sejak dua dekade lalu, sistem cocok tanam ala Revolusi Hijau telah melenyapkan kemampuan mereka mengerjakan hamparan sawah secara bersama. Ujicoba SRI sangat mungkin gagal atau kandas bila mereka tidak belajar bersama, bila mereka tak saling bantu menyiapkan lahan dan mencatat perkembangan ujicoba.

Ia bilang, “kita butuh bukti supaya orang percaya, kerja sama-sama itu baik.” Mungkin karena itulah, di luar semua kegiatan mengurusi organisasi dan sawahnya, ia masih sempat mengurusi masjid desa dan mengajari anak-anak mengaji. Setiap hari.

*

Foto: Supri di meja kerjanya. Selain bertani, ia juga mengurus TPA di masjid

mm

Nurhady Sirimorok

Bekerja di Komunitas Ininnawa dan Perkumpulan Payo-Payo

X

Pin It on Pinterest

X
Share This