Sumpangbita Youth Camp 2016

Sejauh ini belum ada alamanak yang dapat dijadikan rujukan utama untuk mengetehaui berapa jumlah komunitas di Pangkep lengkap dengan program yang telah dilakukan. Tentu, agak rumit memang jika hal itu harus dilakukan mengingat komunitas yang terbentuk tidaklah memiliki tempat registrasi khusus.

Berbeda dengan komunitas (lembaga) yang tujuan pendiriannya sedikit formal karena harus didaftarkan di Kesbangpol Pemda dan memiliki Akta Notaris. Komunitas yang banyak ini dilahirkan hanya oleh beberapa orang atas kesamaan minat. Malah, sejumlah anggota komunitas tertentu aktif di komunitas yang lain. Hal tersebut tentu saja hal biasa.

Di Pangkep, dalam kurung dua tahun terakhir, ada kegiatan Bukber Komunitas yang coba menghadirkan beragam komunitas dalam satu kegiatan. Metode ini perlu diapresiasi dan didukung supaya menjadi agenda rutin saban tahun di bulan Ramadan.

Berkumpulnya komunitas adalah kode untuk menujukkan kemajemukan. Hal ini tak dapat ditolak tetapi dapat disatukan dalam isu tertentu. Bahwa lahirnya sebuah komunitas sama halnya dengan kelahiran anak manusia yang perlu untuk saling mengenal dalam interaksi sosial.

Sabtu, 19 November lalu, sejumlah perwakilan komunitas bertemu di Warkop Sinichi di jalan Anggrek untuk membincang kegiatan bersama yang akan digelar selama dua hari di Sumpangbita pada 26 dan 27 November.

Semula rancangan kegiatan ini dibicarakan terbatas di grup WhatsApp Kopi Darat (WA Kopdar) sebagai bagian dari koalisi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang sebelumnya intens menggelar dialog publik menyangkut isu kesehatan dan pelayanan publik di sektor yang lain.

Dalam percakapan itulah lahir inisiatif untuk mengajak komunitas sebagai bentuk perayaan tumbuhnya beragam komunitas di Pangkep. Seperti Bukber Komunitas, maka kegiatan Sumpangbita Youth Camp, nama kegiatan ini juga merupakan bentuk lain dari berkumpulnya komunitas di Pangkep dalam satu program bersama.

Bahwa lahirnya sebuah komunitas sama halnya dengan kelahiran anak manusia yang perlu untuk saling mengenal dalam interaksi sosial

Sejauh ini sudah lebih dari sepuluh komunitas menyatakan siap terlibat dan tentu saja tetap terbuka bagi komunitas yang belum mendapat informasi mengenai kegiatan ini. Muhammad Syahrir yang akrab disapa Archut dari komunitas Stand Up Indo Pangkep yang bertindak sebagai Manager Program mengatakan kalau semua komunitas di Pangkep boleh berpartisipasi dan harus mengikuti tata tertib yang telah tersepakati, salah satunya ialah, komunitas harus menginap di lokasi dengan membawa perlengkapan kamping sendiri dan mengikuti semua item kegiatan.

Sejumlah item kegiatan seperti akustik, dialog, talk show, penanaman pohon, pembacaan puisi, teater, Stand up Comedy, dan Pop up Library sudah disiapkan sebagai ruang saling mengenal dalam bentuk yang lain. Setiap komunitas juga dipersilakan memberikan satu pertunjukan.

Sumpangbita terletak di Kelurahan Tonasa, Kecamatan Balocci dipilih karena memenuhi semua syarat yang diperlukan. Selain cocok untuk kamping juga memiliki fasilitas listrik yang dibutuhkan untuk menunjang pagelaran musik akustik.

Asran Idrus dari WA Kopdar dalam rapat mengungkapkan kalau Sumpangbita merupakan ikon pertama pariwasata di Pangkep. “Kegiatan ini harus menjadi bagian mengenalkan kembali taman purbakala Sumpangbita yang terkenal dengan tangga seribu dan artefak arkelogis manusia zaman prasejarah,” ungkapnya.

Lebih jauh diterangkan kalau nantinya diharapkan lahir deklarasi yang menyerukan agar dilakukan revitalisasi terhadap lokasi wisata ini. Termasuk soal pengelolanya yang harus ditangani langsung oleh Dinas Pariwisata Pangkep.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This