Subhanalloh: Ahok Menang Satu Putaran

Akhirnya Ahok ditetapkan sebagai tersangka. Tanpa menempuh jalur praperadilan. Ahok menanggapinya dengan berani, langsung pengadilankan.

Sikap Ahok tentu bukan tanpa alasan dan pertimbangan, walau alasan dan pertimbangan itu tidak ia kemukakan kepada publik, beberapa analisis mengungkapkan bahwa Ahok ingin memanfaatkan peluang publikasi langsung media sebagaimana kasus Jessica dan kita sama-sama tahu, Ahok akan terus menerus menjadi trending topik.

Semua mata akan tertuju kepada Ahok dan itu berarti kesempatan besar bagi Ahok untuk menjelaskan situasi sesunggunya kepada seluruh rakyat Indonesia. Ini iklan dengan durasi yang panjang tanpa biaya politik yang membengkak. Hingga hal itu terjadi, analisis ini akan semata-semata menjadi analisis.

Donald Trump, presiden Amerika terpilih yang mengacangi Hillary Clinton. Dilansir oleh beberapa media menyebutkan penggunaan dana kampanye Donald Trump jauh lebih kecil dari Hillary. Donald Trump hanya berhasil mengumpulkan dana jika dirupiahkan senilai: 770,94 miliar sedangkan Hillary sangat fantastis, yakni 13,05 triliun. Sepuluh kali lipat lebih dari Donald Trump.

Apa yang spesial dari Donald Trump, sang taipan properti itu. Dengan dana yang tak seberapa jika dibandingkan dengan akumulasi dana yang dikumpulkan oleh Hillary Clinton ia berhasil menjadi fokus utama media dengan statement kontroversialnya. Iya, dia mengiklankan dirinya secara gratis lewat “mulut nyelenehnya” dan mengorganisir secara baik di pekan terakhir menjelang pemilihan. Hasilnya, Donald Trump menjadi Presiden Amerika yang ke 45.

Apa persamaannya dengan Ahok? Saya kira sedikit saja, sekadar ingin mengungkapkan bahwa iklan gratis di media bisa dilakukan seseorang dengan beragam cara. Saya kira Ahok memahami hal tersebut.

Kita kembali kepada kasus Ahok. Tuduhan penistaan agama saya kira benar-benar menjadi pelajaran besar buat Ahok bahwa umat beragama di Indonesia masih memiliki emosi yang sangat labil. Umat beragama, khususnya yang merasa menjadi penduduk mayoritas bangsa ini karena seluruh komponen epistemologi keagamaan dan kebangsaannya belum aktif secara maksimal kerap kali bertindak semaunya saja. Tirani mayoritas, istilah tetangga saya.

Saya sebagai pribadi yang mencoba mengaku muslim (minimal KTP) dan kadang berperilaku jahiliah ini mencoba bersikap proporsional. Tidak buta karena cinta berlebihan kepada Ahok namun juga kepada pasukan berbaris berjubah putih yang sempat mengguncang Jakarta dengan trompet takbir mautnya.

Pada prinsipnya sebagai warga negara yang beranjak dewasa untuk taat kepada hukum, mari kita kedepankan asas tak bersalah. Tidak perlu latah menghakimi sebelum semua benar-benar terbukti. Jika pun kelak terbukti maka, tidak ada seorang atau lembaga pun yang berhak menghukum kecuali lembaga hukum yang berwenang.

Anggaplah kita belum tuntas menjalankan seluruh perintah agama, maka minimal satu inilah yang kita perhatikan baik-baik, bahwa kepada siapa pun, bahkan kepada seseorang yang sangat kita benci. Kitab suci memerintahkan kepada kita untuk berlaku adil. Jika hal ini saja kita tak mampu lakukan, maka saya anjurkan ikut demo masak bersama Cheef Farah Quinn saja dulu sebelum demo bersama para habib.

Dua kali demonstrasi “penista Ahok” mengentakkan mata siapa pun bahwa betapa mudahnya megumpulkan massa dengan slogan membela agama. Bertanda konstruktif di pihak lain tetapi juga sangat dekonstruktif di sisi lainnya.

Apa persamaannya dengan Ahok? Saya kira sedikit saja, sekadar ingin mengungkapkan bahwa iklan gratis di media bisa dilakukan seseorang dengan beragam cara. Saya kira Ahok memahami hal tersebut.

Konstruktif karena senang rasanya melihat ribuan massa atas nama Islam berkumpul demi membela sesuatu masalah. Hal ini jarang atau mungkin tidak pernah kita jumpai kecuali di zaman revolusi dahulu.

Dekonstruktifnya sebab sasaran belum berhitung prioritas. Skala prioritas isu ini penting agar tenaga massa tidak terbuang sia-sia. Kebutuhan mendesak kita sebagai warga negara dan umat Islam secara global adalah keadilan dalam semua hal. Saya kira sejauh ini Ahok telah cukup adil. Sekali lagi tentu saja dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tantangan ibu kota Jakarta memang maha kejam. Sekejam ibu tiri. Butuh tangan besi untuk memperbaiki seluruh sektornya.

Belum lagi jika menghitung sejumlah anggaran yang harus dikeluarkan. Mengumpulkan orang sebanyak itu tentu dananya tidak sedikit. Apalagi mayoritas demonstran dari luar Jakarta. Syukur jika pakai uang pribadi dan dana sumbangan tanpa pamrih. Tetapi, jika sumbangannya bermotif. Menyumbang dengan maksud mengambil untung dari kebodohan kita, kan rugi berlipat-lipat.

Selain itu, saya menganggap Ahok selama ini telah menjadi musuh penyamun uang rakyat. Beberapa pembangunan di Jakarta telah benar-benar tampak. Kalijodo saja yang sedari dulu ingin ditutup FPI tidak berhasil dan di tangan Ahok terbukti bisa. Dengan kata lain Ahok telah memenuhi rasa keadilan rakyat Jakarta tentu saja dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Mulut Ahok sepertinya memang tidak sekolah dengan baik tetapi saya kira konteksnya sangat tepat. Mulut yang dihadapi Ahok adalah mulut-mulut santun yang menipu dan kepala yang dihadapi adalah kepala keras. Jika mulut Ahok juga santun dan kepalanya tak cukup keras, dia bisa berbuat apa. Nanti jadinya mereka hanya saling merayu.

Ahok telah tersangka. Negara telah memenuhi tuntutan demonstran walau harus mengabaikan beberapa mekanisme hukum.

Saat ini, bagi yang sangat ingin Ahok dipenjara, langkah yang tepat adalah mendampingi proses hukum tersebut. Jika masih ada undangan demo ke Jakarta, itu hampir dipastikan bukan lagi dalam agenda “membela-bela”.

Kabarnya, MUI menyerukan agar Ahok mundur jadi calon gubernur. Kini area kerja MUI telah diperlebar hingga urusan politik praktis. Mencekal Ahok jadi gunernur kembali. Senyap, Jokowi pun dituntut mundur jadi presiden. Mungkin saja semua ini hanya dalam rangka cekal-mencekal dan mundur memundurkan. Agar pemainannya lebih cantik dipakailah kata “membela”. Demonstrasi selanjutnya akan membuka borok itu.

Jika sidang Ahok berhasil live di media dan demonstrasi yang diisukan berlangsung tanggal 25 November ini, selanjutnya disebut demo 2511, maka ini menjadi kata kunci buat Ahok untuk melangkah ke Pilgub DKI satu putaran. Meski sebuah lembaga survei telah mengumumkan turunnya elektabilitas Ahok setelah ditetapkan tersangka. Surveinya sendiri diadakan saat demo terakhir berlangsung dari tanggal 31 Oktober hingga 5 November.

Paling mengkwatirkan sebenarnya buat saya adalah, Jika Ahok berhasil menang satu putaran di Pilgub Jakarta dan kelak di hari pembalasan, Tuhan pun meloloskan Ahok dari Siratalmustakim.

*

Gambar: http://www.panajournal.com

mm

Muhammad Ramli Sirajuddin

Penulis lepas sekali. Mampu membedakan jenis kopi dengan mencium aromanya meski berjarak 100 m

X

Pin It on Pinterest

X
Share This