Stadion Andi Mappe Riwayatmu Kelak

Andi Mappe adalah nama stadion olahraga di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Berdiri ringkik, tak megah, dan terbengkalai di atas tanah milik pemerintah yang luas.

Pada sebuah perbincangan, pernah kami mengandaikan area ini menjadi zona kuliner saja yang, mungkin jumlah jenis hidangan yang tersedia akan mengalahkan jumlah penduduk se Kabupaten Pangkep. Jika demikian adanya maka pasti dan bangga kita akan dinobatkan sebagai kabupaten yang senang berpesta pora di tengah tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Pilihan penamaan dan tujuan stadion ini jelas, memenuhi prinsip di balik fisik yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Selain itu, tentu saja pada setiap kompetisi putra-putri Pangkep diharapkan “tiba-tiba” memiliki semangat heroisme bak Andi Bangkung Mappesona, yang kita akrabi Andi Mappe.

Sangat memenuhi prinsip pembangunan terencana, terstruktur, dan masif. Dihimpun dari sejarah Andi Mappe yang heroik untuk memenuhi kebutuhan masa depan sebuah bangsa “berolahraga ria” hingga berdiri kuat dan kokoh di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Ya, kita hidup pada zaman di mana semua orang beranggapan bahwa, olahraga harus mendapat perhatian lebih karena di ingatan itulah kemuliaan sebuah daerah diukir dalam sejarah.

Stadion Andi Mappe adalah objektifikasi ruang sepakbola yang teranggarkan secara tunai oleh Pemkab juga mengakomodasi sarana jenis olahraga yang lain. Saya tidak tahu pasti sarana olahraga apa saja yang tersedia, namun bisalah Anda sekalian berkunjung ke sana.

Stadion Andi Mappe adalah sarana olahraga kabupaten yang tersibuk di dunia. Aktivitasnya melebihi putaran jam pada umumnya. Subuh, pagi, siang, sore, malam, tengah malam, menjelang subuh hingga subuh lagi aktivitas di sana tak pernah berhenti kecuali lampu penerangan yang telah lama berlalu sejak tahun-tahun dahulu. Uh, dahulu sekali, lokasi ini tak pernah mendapatkan asupan gizi penerangan yang cukup. Tetapi, di sinilah aktivitas bergelora.

Pagi hari sebagaimana ruang publik daerah pada umumnya. Aktivitas berjalan santai atau lari pagi dilakoni sejumlah keluarga. Kerap saya saksikan ibu-ibu muda dengan rambut yang tergurai indah dan tampak basah bercengkerama riang bersama suami dan anak-anaknya.

Dari stadion, mata Anda akan dikenyangkan pemandangan sepotong puncak gunung yang tak layak dijadikan referensi bagi pelukis, juga tak pantas dijepret fotografer. Namun, bisalah jadi inspirasi puisi yang galau.

Saat matahari mulai meninggi, maka dimulailah aktivitas lalu lintas yang tidak terlalu padat dengan para pekerja yang sibuk. Siang harinya, saat beberapa warkop mulai terbuka maka kembali aktivitas seolah terhenti. Kendaraan singgah terparkir seadanya dan pemiliknya segera duduk santai menikmati kopi olahan barista yang memastikan racikan sekelas rasa di Phoenam, Dottoro, Daeng Sija, atau Daeng Anas. Anda tak akan menemukan satu pun pewarkop di area stadion Andi Mappe berkiblat ke Starback Buks, Black Canyon, atau Exelco yang ramai karena disangka asing.

Tepat di sudut kiri stadion Andi Mappe jika menghadap kantor DPRD dan Polres Pangkep, berdiri sederhana dua warkop fenomenal dengan sejarahnya masing-masing. Warkop Sambalu yang dapat dikatakan merajai warkop se kabupaten Pangkep dengan tiga gerainya, tentu tak lepas dari manajemen ownernya yang dikenal bersahaja.

Tepat di sampingnya, di mana saya menuliskan catatan ini, berdiri megah dan megak D’Corner Coffee Shop & Little Library, yang sama sekali tak memenuhi kriteria atau pakem sebuah coffee shop juga little library sungguh tak layak. Perpustakaan sungguh kecil, koleksi bukunya pun tersembunyi di ruang belakang yang pengap dan tertutup. Sejauh pengamatan saya hanya boleh dibaca oleh pemiliknya.

Nah, di depan Sambalu dan D’Corner inilah sepetak tanah milik pemerintah yang terbengkalai dan kotor oleh ulah beberapa orang yang tidak dikenal, atas inisiatif owner D’Corner, Asran Idrus, ruang itu kini berlapis marmer bekas yang didapatkan dari buangan salah satu perusahaan marmer di Pangkep. Tempat itulah kini yang dinamai Teras Inspirasi.

KPK mengabarkan bahwa Teras Inpirasi dibangun dari dana CSR D’Corner yang sah dan tidak mengikat sehingga siapa pun tak layak misuh-misuh karena eksistensinya walau penghuni tetap teras itu terlihat lebih sering marah-marah melalui kegiatan lucu yang tidak memberi kemaslahatan ekonomi bagi siapa pun, kecuali usapan, kadang belaian lebih seringnya pelukan idealisme yang mulai tandus di tanah tak bertuan.

Siang hari di Stadion Andi Mappe, Anda juga bisa menyaksikan beberapa pelajar berseragam putih abu-abu atau putih biru-biru memindahkan ruang kelas mereka ke sana. Aktivitas kelas yang beku dan kaku mereka tinggalkan dan mengisinya dengan keliaran fantasi remaja dengan cara-cara yang gampang saja disidak oleh aparat.

Sore hari kembali beberapa gadis dengan pakaian ala kadarnya terlihat berlari-lari kecil atau bersepeda riang gembira. Pemandangan yang sedap itu direspons beberapa anak kacuping yang mencoba uji nyali di jalan sempit, padat, dan berpasir mengitari arena stadion dengan kecepatan sepeda motor yang sebenarnya tak seberapa, namun dengan suara knalpot memekak telinga dianggapnya sudah cukup sebagai modal. Sejauh ini saya cukup takjub melihat kesabaran pengunjung arena stadion yang beragam.

Menjelang malam hari, beberapa sudut stadion Andi Mappe mulai benar-benar gelap. Lampu-lampu jalan, Laa yamutu wa la yahya, mati iya hidup tentu saja tidak. Namun demikian, semua pengunjung terlihat sangat riang. Mengalahkan keriangan pengunjung pasar malam atau hiruk pikuk wisatawan lokal dadakan di Tugu Bambu Runcing.

Menjelang tengah malam, maka dimulailah titik nol kilometer dari kisah Pangkep Undercover. Saya tak perlu bercerita lebih jauh tentang ini, yang pasti butuh ulasan berulang kali dari pewarta yang ada sebelum akhirnya terpasang pita kuning mencolok dengan tulisan: POLICE LINE DO NOT CROSS” dengan beragam adegan.

Terkadang memang, atau selalunya kita semua butuh peristiwa hingga tragedi di masa depan agar kita tersadar bahwa di Stadion Andi Mappe, jiwa patriotismenya tidak pernah diinternalisasi karena membangun itu lebih mudah dari pada merawat.

mm

Muhammad Ramli Sirajuddin

Penulis lepas sekali. Mampu membedakan jenis kopi dengan mencium aromanya meski berjarak 100 m

X

Pin It on Pinterest

X
Share This