Setelah Semua Pergi

Sekitar pukul enam pagi, terdengar bunyi sepeda motor secara bergantian mengantar tuannya menuju tempat kerjanya masing-masing. Menjelang magrib, barulah mereka kembali dan akan mengulang rutinitas saban pagi.

Di lokasi perumahan indekos itu terdapat sembilan kamar yang dihuni empat  orang yang telah berkeluarga dan dua pemuda. Tiga petak kamar yang lain masih kosong setelah ditinggal penyewanya. Di antaranya telah memiliki rumah sendiri, lainnya berpindah mencari indekos yang, mungkin lebih dekat dengan tempat kerja.

H. Zainal Abidin, akrab disapa Pak Haji, pemilik perumahan indekos di daerah Batangase, kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menuturkan kalau penghuni rumah indekosnya tak pernah sepi peminat. Sebenarnya sudah banyak yang datang ingin mengontrak. Namun, setelah kejadian tahun lalu, seorang penghuni digerebek petugas kepolisian setempat. Rupanya pasangan selingkuhan. Lelaki telah beristri dan perempuannya telah bersuami.

Setelah kejadian itu, Pak Haji selektif menerima pengontrak. Jika telah berkeluarga wajib menyetor foto kopi buku nikah, kalau masih pemuda, menyetor salingan kartu tanda penduduk dan jelas di mana ia bekerja atau sedang menempuh studi.

Saya menemukan lokasi indekos ini di perjalanan sore meninggalkan kota Makassar menuju Pangkep. Istri, yang sedari dulu ingin mencoba hidup dengan dapur yang bisa ia kuasai sendiri. “Saya yang tahu di sini saya menyimpan garam, gula, atau bumbu dapur lainnya,” tukasnya suatu ketika. Usaha mencari indekos sudah sering saya coba. Kira-kira idaman semua manusia yang menginginkan kedamaian. Itu kriterianya. Pernah kami coba di Makassar, lokasinya dekat dengan tempat kerja saya. Karena sesuatu hal, berkaitan erat dengan ukuran indekos dan kami bersama seorang bayi. Tentu, bukanlah pilihan jika harus tinggal lama-lama. Hanya dua bulan saja kami betah dan memilih kembali ke kampung.

Hampir setahun, saya kembali melakoni kehidupan berpindah-pindah. Sebut saja demikian, walau berpindah yang saya maksud berupa siklus menginap di rumah mertua – di rumah orangtua dan di rumah saudara. Sungguh, alamat berkunjung ketiga rumah itu saya hafal dengan baik. Namun, kerinduan tak terkira adalah mengingat alamat pulang ke rumah sendiri.

Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas, novel gubahan VS Naipaul adalah peta yang dirancang melalui pergulatan menemukan petak perjalan pulang menuju rumah untuk jiwa dan raga. Itulah puncak kerinduan seorang perantau. Saya bukan petualang sepenuhnya petualang di mana semua tempat merupakan rumah. Jalan hidup yang kulakoni masihlah semestinya kewajaran.

Di hari Minggu, sepenuhnya aktivitas di indekos. Meresapi sepi menjelang pukul satu siang dan riuh di sisa sore. Beberapa pengontrak bukan pekerja formal, setiap hari penuh hal-hal yang perlu segera dicapai. Sisanya. Tidak seberapa. Bekerja secara formal seperti saya tidaklah melewati sepi dalam tujuh hari di indekos. Istri sayalah yang merasakan. Ia melihat waktu behenti. Lama sekali peralihan detik. Terlebih jika Dika Lentera, bocah lelaki kami sudah lelap. Sepi itu, katanya, mengajak pulang ke rumah sendiri. Rumah orangtua yang sudah harus ditinggalkan.

“Mati kau dikoyak sepi.” Teriakan Si Binatang Jalang menggema usai azan zuhur. Perkasa dua jam dan buyar perlahan seiring penghuni kembali satu-satu ke bilik. Ruang keheningan masing-masing menjalani nasib. Membaur sebentar saja di sisa sore. Hilang lagi usai azan magrib. Mendekamkan diri di depan layar kaca yang menawarkan bualan. Kadang juga ada impian. Selanjutnya urusan masing-masing. Namun satu hal, di malam-malam kami mengendap. Semua pergi mencari mimpi sebelum azan subuh membangunkan dan pergi lagi.

*

Sumber foto di sini

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This