Sepetak Rumah dan Kisah di Dalamnya

Rumah ini berdiri tepat di belakang masjid Nurul Falah Kelurahan Jagong, Kecamatan Pangkajene. Wahyudin pemilik rumah itu, bersama istri, dan dua anaknya telah ia huni kurang lebih sepuluh tahun tahun.

Sebelumnya, ia dan keluarganya hanya tinggal di bawah kolong rumah salah satu keluarganya. Sampai pada akhirnya sang istri mendapat belas kasihan dari keluarganya untuk menempati tanah kosong di belakang masjid, kisahnya.

Rumah berukuran 4 x 6 meter ini pernah disambangai oleh pihak pemerintah. “Sejak tinggal di sini, sudah dua kali rumah ini difoto oleh orang berbaju dinas. Kata mereka, saya mau dikasih bantuan. Tetapi hingga sekarang belum ada,” terang Wahyudin.

Rumah berdinding tripleks dan kardus itu hanya berlantai tanah. Guna menghindari hawa dingin, istri Wahyuddin mengalasinya dengan tikar plastik. Getir memang. Namun, mau tidak mau tetap ia tempati, yang  penting  ia bisa tetap bersama istri dan kedua anaknya.

Jika masuk ke dalam rumah, ruang tamu berfungsi juga sebagai tempat anaknya belajar mengerjakan tugas sekolah dan harus berbagi tempat lagi untuk menyimpan gabah yang didapat dari menggarap sawah orang lain. Petak selanjutnya, terdapat tempat tidur sekaligus ruang memasak.

Wahyudin yang akrab disapa Bajuri tidak memiliki pekerjaan tetap. Kadang ia jadi buruh bangunan, menggali sumur, supir, dan apa saja permintaan orang yang ingin menggunakan jasanya. “Saya menerima pekerjaan yang bisa saya jalankan. Saya tidak memiliki kesempatan mencari pekerjaan formal karena saya hanya tamatan sekolah dasar,” ujarnya.

Getir memang. Namun, mau tidak mau tetap ia tempati, yang  penting  ia bisa tetap bersama istri dan kedua anaknya.

Bajuri dan keluarganya dikenal sebagai orang baik di Kelurahan Jagong, ia termasuk orang yang cepat akrab dengan orang lain dan suka menolong tanpa pamrih. Bahkan saat sakit pun ia masih meluangkan waktu membantu orang dan tetap bekerja.

Dengan sikap ramahnya itu, ia selalu mendapatkan belas kasih dari orang-orang. Hal ini terbukti dari hampir 90% perabotan di rumahnya adalah pemberian, seperti kursi plastik, tempat tidur, lemari, kipas angin, dan televisi. Meski berupa barang bekas tetapi disyukuri. Bajuri sendiri yang akan memperbaiki bila ada kerusakan pada barang pemberian itu. Bahkan listrik pun ia dapatkan dengan harga murah untuk dipindahkan ke rumahnya.

Karena kebaikan Bajuri pula, anak sulungnya dapat bersekolah atas biaya seorang ustaz yang sering ia antar tiap waktu bila dibutuhkan. Sekali lagi, ia sangat bersyukur akan hal itu. Jadi, ia hanya memikirkan biaya kehidupan sehari-hari, berikut perlengkapan sekolah anak bungsunya yang kini sudah menginjak sekolah dasar. “Saya akan terus bekerja demi kelangsungan hidup keluarga dan agar anak saya terus bersekolah supaya tidak mengikuti hidup saya yang hanya tamat sekolah dasar,” tekadnya.

Kembali mengenai rumahnya yang ia tempati. Sudah berulang kali ia mengganti dindingnya dengan tripleks, kadang seng bekas atau kardus yang, tentu saja tak bertahan lama tiap musim penghujan tiba. Apalagi di lokasi rumahnya, banjir kerap terjadi di puncak musim hujan.

mm

Riandra Ria Hamriah

Awal kemunculannya di publik Pangkep sebagai penyiar radio di tahun 2007-2010. Kemudian jurnalis di tahun 2011-2014.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This