Senyum Pelajar di Pulau Satando

“Biasanya kalau lagi libur sekolah dan tidak ada kegiatan. Saya akan ke laut memancing ikan.”

Ucapan di atas keluar dari mulut Fajar, pelajar SMP yang saya jumpai di pulau Satando. Saya menolak menggali lebih jauh aktivitasnya – semisal mengajukan tanya: mengapa? Sebagai anak yang lahir dan tumbuh di pulau, kita sudah dapat memahaminya.

Fajar satu dari puluhan pelajar SMP dan SMA yang mengikuti program The Floating School (Sekolah Terapung) di pulau Satando, desa Mattiro Baji, Liukang Tupabbiring Utara pada Minggu, 26 Februari. Saya bersama kawan-kawan menyambangi pulau ini sebagai pelaksanaan kedua setelah minggu sebelumnya kami mendatangi pulau Saugi.

Meski langit tampak gelap dan gerimis mulai turun di pagi hari. Bukanlah sandungan membatalkan kesepakatan – yang tiap akhir pekan akan kami jalankan program Sekolah Terapung ini selama enam bulan lamanya. Selain Saugi dan Satando, kami juga akan mengunjungi pulau Sapuli.

Program ini diinisiasi Pangkep Initiatif bersama Sahabat Indonesia Berbagi (SIGI) Makassar. Terpilih dari 20 program penerima dana pelaksanaan Young South East Asia Leaders Initiative (YSEALI) yang mendapat dukungan dari pemerintah Amerika sebagai proses kepemimpinan pemuda di kawasan ASEAN.

Semua menyatu dalam permainan yang mengantar kami semua tertawa lepas.

Di Sekolah Terapung ini kami akan berbagi dalam memandu dan memberikan pelatihan mengenai musik, menulis, menggambar, kerajinan tangan, fotografi, menulis hingga kursus pengoperasian komputer. Dan, seperti pekan pertama, di pekan kedua ini tim pembimbing lengkap.

Kami tiba di pulau Satando sekitar pukul 10:30 pagi. Di salah satu ruang sekolah satu atap berukuran 8×5 meter sudah dipenuhi pelajar. Sebelum kami datang, tim sudah melakukan sosialisasi mengenai kegiatan ini. Tak hentinya saya melayangkan senyum agar anak-anak tidak melihat kami sebagai orang asing.

Ammy, salah satu pendamping mencoba menawarkan permainan sebagai upaya mencairkan suasana. Anak-anak dipinta menjadi pohon, jembatan, rumah, atau bunga. Sontak isi ruangan gaduh oleh tawa yang mengundang sejumlah orangtua mereka turut menyaksikan apa yang sedang kami lakukan. Belajar sambil bermain. Tak ada lagi batasan siapa kami dan mereka. Semua menyatu dalam permainan yang mengantar kami semua tertawa lepas.

Usai bermain peran kami memperkenalkan diri dan membagikan lembaran untuk diisi. Nampak peralihan wajah semringah berubah mimik serius. Dari 43 anak, saya mencoba mengamati 6 di antaranya. Namun, satu dari enam anak itu hanya diam. Ia terus saja mengamati tulisan di lembaran di hadapannya dan tidak menggerakkan pena di tangan kanannya sebagaimana anak-anak yang lain.

“Ayo, ditulis,” kataku.

Si anak hanya menatapku dan tersenyum kecil.

“Tuliskan namamu di sini,” pintaku sambil menunjuk nomor pada lembaran.

Ia pun menuliskan namanya dengan ejaan Rusli.

Rusli kembali terdiam. Sesekali ia mencoba mengintip lembaran teman di sampingnya.

“Rusli, kelas berapa?” Ucapku kemudian.

“Kelas satu SMP.”

“Rusli lahir tahun berapa?”

“2014,” jawabnya spontan.

Saya mengulangi pertanyaan itu tiga kali dan Rusli mengulang jawabannya sebanyak tiga kali pula. Menginjak SMP di usia 3 tahun tentulah ngawur. Saya juga tidak menangkap gelagat kalau ia sedang bercanda. Lewat temannya, saya menyadari kalau Rusli merupakan anak berkebutuhan khusus (difabel). Ia lambat menyerap pelajaran.

Lembarannya lalu kubalikkan kemudian memintanya menggambar hal yang paling ia gemari. Tangannya pun bergerak lincah dan jadilah pola rumah panggung. Dua atap berbentuk segitiga. Satu di depan – satunya lagi di belakang. Terdapat dinding dan empat tiang.

Setelahnya, Rusli menatapku dengan senyum dan memberikan isyarat kalau ia mampu menyelesaikan apa yang kupinta. “Rumahmu belum selesai, Rusli. Atap, jendela, dan pintu belum terpasang.” Tanggapku.

Rusli kembali menatap gambarnya lalu melempar senyum kecil ke arahku.

Ini tentu di luar perkiraan. Pola pendidikan yang seragam akan berdampak lain pada sosok seperti Rusli dan itu tidak disadari dalam proses pembelajaran di sekolah formal.

Saya berharap banyak di Sekolah Terapung ini kreativitas pembelajaran bagi anak memang perlu dilakukan agar tidak terjadi penyeragaman yang biasanya melahirkan labelisasi adanya murid pintar dan bodoh.

Dan, tentu tidak adil jika Rusli dilabeli terbelakang memahami pelajaran dibanding teman-temannya.

*

mm

Badauni A Palinrungi

Dikenal sebagai anak muda yang doyan berbicara KBBI

X

Pin It on Pinterest

X
Share This