Selama Bola Masih Bulat

Kamis sore, 10 November tahun lalu, sekitar 20 anak-anak asyik menyepak bola di lapangan stadion Andi Mappe, Pangkep. Selintas saya menyaksikannya dari pintu stadion. Sejauh mata memandang, aktivitas yang berlangsung di dalam stadion hanya anak-anak itu dan tiga ekor sapi di sudut stadion sebelah barat sedang memamah rumput.

Di stadion inilah tim Porda Pangkep dikalahkan oleh tim Porda Kota Palopo di laga final melalui adu penalti di tahun 2010 silam. Saat itu keriuhan pendukung tuan rumah memenuhi stadion. Bersorak di sepanjang pertandingan meski kemudian tim yang didukung harus kalah.

Itu pengalaman yang tak terlupakan bagi siapa pun yang hadir. Tak terkecuali bagi Pak Syamsul, salah satu nama di jajaran tim Porda Pangkep yang bertugas menyeleksi pemain. Di sisa sore itu, rupanya, anak-anak yang bermain bola merupakan anak didiknya yang semuanya merupakan siswa dari SDN 533 Mattoanging, Kelurahan Pabbundukang, Kecamatan Pangkajene.

Semula tak menyangka. Sebelumnya juga tidak mengenal siapa Pak Syamsul. Tertarik menyaksikan lebih dekat anak-anak itu bermain bola justru berkenalan dengannya. Sedari tadi, ia memang duduk di atas bola dengan semprit di mulutnya. Kedua matanya awas menyaksikan latihan anak didiknya.

Usai memotret, saya lalu mengajukan tanya perihal anak-anak yang sedang dilatihnya. Ia menanggapi sambil terus melihat ke arah anak didiknya yang terus bermain. Melihat situasinya, tentu kurang tepat melakukan tanya lebih lanjut. Saya memilih duduk di tepi lapangan menyaksikan anak-anak yang, beberapa di antaranya memiliki kemampuan gocekan bola mumpuni.

Tak lama kemudian, Pak Syamsul meniup semprit yang mengakhiri sesi latihan. Anak-anak lalu berlarian menuju selasar stadion mengambil air minum di tas mereka. Kembali Pak Syamsul kuhampiri agar bisa memotretnya bersama pemain bola belia itu. Segera ia meminta anak didiknya berkumpul.

Nomor hape Pak Syamsul kucatat dan esoknya kami bercakap mengenai sepak bola dan anak-anak. Lewat percakapan telepon, Pak Syamsul menceritakan jejak hidupnya hingga ia memilih jalan meluangkan waktu melakukan pembinaan dini kepada anak-anak bermain sepakbola.

*

Ayah tiga anak ini lahir di Pangkep di tahun 1967. Sebagian besar masa kecilnya dilewati di Barru, di sana ia menamatkan sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama lalu melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat atas, ia melakukan hijrah ke kota Pare-Pare menjalani studi Sekolah Guru Olahraga (SGO).

Setamat SGO di tahun 1987, ia merantau ke kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur untuk menjalani profesi sebagai guru olahraga. Tawaran itu diterimanya sebagai bagian dari jalan hidup. Yosef, teman sekolahnya di SGO yang berasal dari NTT juga menjadi salah satu alasan ia ke sana. Selain menjadi guru, ia juga bermain bola dan bergabung di Persim Manggarai dan mengisi posisi sayap kanan atau biasa juga menempati posisi penyerang.

Barulah di tahun 2000 ia baru bisa kembali ke Sulawesi Selatan dan ditempatkan di SD Kalumpang, Balitjas, Kabupaten Maros. Setahun berselang, ia dipindahkan ke SDN 533 Mattoanging. “Ada rasa haru bisa kembali ke tanah kelahiran setelah puluhan tahun berkarier di luar,” ucapnya.

Tak perlu waktu lama mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Bintang Terang yang didirikan di tahun 2002. Pak Syamsul telah mengantongi lisensi kepelatihan nasional kategori D dari PSSI sehingga menjadi jaminan baginya untuk membuka sekolah sepak bola.

Namun, bukan karena lisensi itu sehingga ia mencurahkan waktunya mendidik anak-anak. Lebih pada kecintaanya pada sepak bola dan mendamba impian agar Pangkep mampu membentuk tim yang ditopang putra lokal. Ia belajar pengalaman dari tim sepakbola Porda Pangkep yang kandas di final. Putra lokal hanya beberapa saja, kebanyakan dari luar.

SSB Bintang Terang bukanlah sebagai lahan meraup keuntungan ekonomi. Anak-anak yang dilatihnya tidaklah dipunguti pembayaran. Peralatan latihan didapatkan donasi dari orangtua anak didik dan donator tidak mengikat yang berempati.

Sejauh ini, ia telah mengantar anak didiknya hingga peringkat ketiga Danone Cup Zona Sulawesi Selatan tahun 2015. Kompetisi usia dini ini sudah mulai dijajaki sejak 2012. Maret tahun 2017 ini, ia berencana mendaftarkan anak didiknya mengikuti di Piala Milo Usia 12 tahun di Makassar.

“Menurut saya, kompetisi tarkam juga perlu mengakomodasi usia dini jika memang ada komitmen membina pemain yang andal.” Tegasnya.

Jadwal latihan ditetapkan tiga kali seminggu: Senin, Kamis, dan Sabtu. Pak Syamsul terbantukan dengan lokasi latihan di Stadion Andi Mappe yang, meski kondisi rumput tidak terawat, tetap bisa digunakan tanpa harus mengeluarkan biaya sewa. Dengan demikian, ia bisa fokus pada pembinaan anak didik.

“Tidak semua anak-anak menyenangi sepakbola, anak saya sendiri justru tidak tertarik bermain bola,” ujarnya. Karena itulah, Pak Syamsul tidak memberi target tertentu pada jumlah anak yang ingin terlibat dalam latihan. Pola latihan menyasar pada drible, kontrol, pasing, dan mental. Adapun fisik disesuaikan dengan ketahanan anak. Demikian juga dengan pembinaan kemampuan individu yang sepenuhnya kembali pada anak sesuai bakat yang dapat dikembangkan.

Kompetisi tarkam perlu mengakomodasi usia dini jika memang ada komitmen membina pemain yang andal

Di usinya yang kini setengah abad, Pak Syamsul masih gesit berlari dan memeragakan teknik mengontrol dan mengoper bola. Ia turut meyakini kalau teknik bermain bola itu hanyalah fondasi dasar, selebihnya, jika sudah dalam situasi permainan maka dibutuhkan visi bermain.

Ketika ditanyakan sampai kapan membina anak-anak, secara alegoris ia mengatakan: selama bola masih bulat. Ada tawa yang tertahan di ujung telepon. Saya mengiyakan bakal berkunjung lagi di stadion Andi Mappe menyaksikan anak didiknya latihan.

*

Foto: Pak Syamsul (paling kanan berdiri) bersama anak didiknya.

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This