Sebuah Keluhan Bukanlah Hinaan

Karena merasa disudutkan beragam komentar di Facebook, akhirnya seorang dokter melaporkan salah satu warga ke polisi. Salahnya dokter itu, karena pemuda yang dilaporkan bukanlah pemuda badung. Memang pemuda itu lahir di kampung tetapi belum tentu kampungan dan takut dengan hukum. Ketahuilah, ia sama dengan kalian, sama-sama manusia. Butuh makan dan minum.

“Dokter merasa keberatan atas berbagai macam komentar yang menyudutkannya, makanya dia melapor ke Polres Pangkep bersama suaminya”. Nah, kutipan ini dari media, narasumber seorang perawat bernama Hasriani, rekan kerja dokter yang melapor itu.

Menurut Hasriani, dirinya ada pada saat si pemuda itu membawa ponakannya untuk berobat karena sariawan. Namun, pada kenyataannya, pemuda itu tak mendapatkan pelayanan dan juga obat. Ya, mungkin saja Hasriani lupa memberikan atau beralasan anak usia dua  tahun itu  memang rewel apalagi sedang sakit.

Saya khawatir, jika ada keluhan masyarakat lagi soal pelayanan kesehatan di Puskesmas itu. Pasti akan dilaporkan lagi ke polisi. Ya, Tuhan

Harusnya, Hasriani tidak menyangkutpautkan keberadaan anak yang masih lugu dalam omongannya di media. Anak usia dua tahun itu imajinasinya liar. Kadang berpura-pura memeragakan sesuatu seperti hewan atau yang biasa dia lihat di layar kaca, misalnya. Dan, itu berbarengan dengan ketakutannya terhadap monster imajiner atau banyak hal.

Kita kembali pada dokter yang merasa disudutkan. Pemicunya berupa status yang diposting pemuda itu pada tanggal 7 Juni, pukul 16:14 Wita. Saat ini dituliskan telah disukai sebanyak 55 jempol dan 74 komentar. Statusnya seperti ini: “Ini struktur organisasi puskesmas Kec. Tondong Tallasa. Banyak sekali pengurusnya tapi DOKTER nya MALAS.” Wah! Kalau saya menyimak status ini memang sangat mengiris hati, bahkan menyesakkan dada dan sangat menyudutkan. Bagaikan kita sedang tertimpa benda berat.

Namun, perlu juga diketahui terciptanya kata “Malas” hingga ada yang merasa disudutkan tidak terlepas dari apa yang dialami, dilihat, dan dirasakan pemuda itu. Tidak ada masalah. Semua alamiah yang bisa dirasakan oleh siapa saja.

Haruskah ada laporan ke polisi karena disudutkan dalam status di Facebook? Saya rasa itu tindakan konyol. Anak kelas enam sekolah dasar saja tahu soal itu. Tetapi sudahlah, nasi sudah jadi bubur, jadi silakan saja habiskan buburnya. Biarkan proses hukum yang mebuktikan kalau pemuda itu bersalah atau tidak. Kalau bersalah ya, pemuda itu pasti merasakan tertidur di sel, Tetapi jika tidak, saya khawatir, jika ada keluhan masyarakat lagi soal pelayanan kesehatan di Puskesmas itu. Pasti akan dilaporkan lagi ke polisi. Ya, Tuhan.

Melalui kasus pemuda dari gunung itu. Oh, iya, namanya Misbah. Saya juga baru tahu kalau di Puskesmas masih ada kotak saran. Kotak yang pantas saya sebut peninggalan Orde Baru. Kotak kecil yang biasanya dipasang depan pintu masuk. Ya, kotak yang memenjarakan kebebasan berpendapat. Kotaknya memang kecil tetapi kejam, keji, dan bajingan.

Awalnya si pemuda itu diminta menuliskan keluhan, kritik, dan sarannya lalu dimasukkan di kotak saran. Bisa dibayangkan siapa yang akan membacanya. Lagi pula, apakah semua masyarakat tahu tentang fungsi kotak saran itu kaitannya dengan kesembuhan. Entahlah.

*

mm

Badauni A Palinrungi

Dikenal sebagai anak muda yang doyan berbicara KBBI

X

Pin It on Pinterest

X
Share This