Sebab Kenangan Sama Kuatnya dengan Negara

Setiap menjelang tutup tahun, selalu saja muncul kaleidoskop. Biasanya, media akan melakukan hal ini. Menyortir beragam peristiwa yang menyita perhatian publik. Semangat yang sama dilakukan pula sejumlah orang untuk mengingat kembali sejumlah hal yang dirasa berkesan.

Tahun lalu saya gagal lakukan karena telat memikirkan hal ini. Sejak saat itu, agenda ini sudah saya tetapkan di awal tahun. Membuat semacam kaleidoskop harian menurut saya sendiri. Boleh, dong!

Sejumlah data sudah terarsip dan akan tayang di pengujung tahun. Kira-kira 24 jam sebelum terompet dan petasan berebut ruang di udara. Pilihan medianya tentu saja harian nasional nomor wahid, Kompas. Kedua baru Majalah Tempo. Ketiga, jika redakturnya berkenan, maka akan tayang di Piyungan Online. Tetapi, seorang kawan mengingatkan kalau portal Piyungan sudah diblokir. Jadi, pilihannya sisa dua.

Mulanya, saya ingin merekam peristiwa sosial yang menyita perhatian publik dari Saban sampai Merauke di sepanjang hari-hari yang riuh di tahun 2016. Hingga naskah ini diketik menggunakan laptop tetangga. Sayang, datanya belum lengkap.

Memaksakan data yang tidak lengkap itu dimuat sempat menjadi pilihan dengan pertimbangan: pembaca bakal terlibat aktif menambahkan data yang perlu diingatkan kembali. Tetapi, keputusan itu tidak layak dipertahankan. Alasannya, itu sama saja memberanikan diri naik gunung menggunakan sandal rematik.

Pada akhirnya, untuk memenuhi nazar. Saya melupakan agenda itu lalu memilih mengenang interaksi percakapan dengan sejumlah kerabat. Siapa mereka. Ini juga memerlukan penetapan keputusan yang tak kalah rumitnya. Serupa ketika harus memilih siapa yang paling hebat antara Messi dengan Ferdinan Sinaga atau Ronaldo dengan Andik Vermansyah.

Dua hari di akhir Desember, saya mulai menetapkan keputusan ketika seseorang berteriak memanggilku. Suaranya pelan namun tegas. Suara itu tidak asing. Selalu singgah di kedua kuping saya saban pagi. Peduli setan. Saya tetap memainkan jemari di atas keybord. Suaranya makin dekat saja. Tetap kutampik. Begitulah, hingga suara itu hilang dan berganti gebrak di atas meja.

“Ingat, ini akhir tahun. Selesaikan tugas dengan cepat, akurat, dan segera laporkan.” Kata lelaki kecil berkaca mata itu yang selalu disapa dengan sebutan “Pak”.

Byyyaaaaaarrrrr!!!! 847 kata yang sudah diketik berjatuhan ke lantai. 412 kata sifat bersembunyi di balik tumpukan kertas. 212 kata penghubung berdesakan masuk ke dalam laci. 56 nama kawan memilih bersembunyi di toilet. Sisanya, 167 kata benda, pura-pura tidak tahu masalah.

Setelah kembali adem. Tugas akhir tahun ini saya lanjutkan dengan doa-doa penenang badai. Sambil terus menulis. Saya berusaha meyakinkan diri kalau redaktur Kompas atau Majalah Tempo akan menempatkannya di halaman depan. Lengkap dengan foto saya sedang merokok. Semirip pose Chairil Anwar yang melegenda itu.

Acuan penetapan nama teman yang saya anggap layak, didasari dari pertemanan di Facebook. Mengapa, karena itulah media sosial paling keren. Tepatnya, saya tidak mahir menggunakan Twitter, Path, atau Instagram.

Masalah muncul ketika mengecek jumlah pertemanan. Masya Alloh, jumlahnya, hanya seribu lebih saja. sebenarnya masih sangat standar. Malah, terbilang sikit. Namun, tetap saja ada masalah karena dengan cara apa saya menetapkan nama teman yang layak. Lagi pula, interaksi obrolan di Facebook tidaklah semeriah tahun 2010 ketika mulai membuat akun.

Pilihan realistisnya jatuh pada percakapan di grup WhatsApp (WA). Saya perlu sampaikan dulu, ya. Sejak menggunakan hape pintar, saya merasa kadar kepintaran saya ini justru berkurang. Saya tidak tahu mengapa. Satu yang pasti, ada beragam aplikasi obrolan yang dapat digunakan sehingga teman sering mengatai saya mundur dua abad jika masih mengirim kabar melalui pesan pendek (SMS).

Begitulah selanjutnya. Di hape pintar itu terdapat aplikasi obrolan yang jauh lebih keren. Ada Telegram, Line, BBM, dan WhatsApp. Padahal, tujuan utamanya sama saja dengan pesan pendek. Ingin menyampaikan sesuatu. Itu saja.

Perlahan, saya sadari kalau aplikasi itu banyak juga gunanya. Utamanya menjadi teman begadang. Karena fungsinya sama, saya menetapkan WhatsApp menjadi aplikasi obrolan paling keren. Maka, perlahan namun pasti, saya kemudian tergabung di 876 grup pertemanan WhatsApp.

Grup pertemanan itu perlu saya jelaskan sikit agar kalian mau mengerti. Anda tentu bertanya. Mengapa bisa sebanyak itu. Jadi begini, kawan-kawan. 876 grup WhatsApp itu terbagi ke dalam kategori pertemanan. Pertama, teman semasa dalam kandungan. Kedua, teman semasa bayi. Ketiga, teman semasa bocah ingusan. Keempat, teman main futsal. Kelima, teman semasa SD, SMP, SMA, hingga Mahasiswa. Oh, iya, selepas SMA, saya menganggur dulu. Tentu, ada juga teman senasib sepenganguran.

Apakah sudah cukup. Tidak. Saya belum menyebutkan teman sewaktu merantau. Teman dikala galau, teman ketika ulang tahun. Jadi, rombongan teman ini akan datang berkelompok sekali dalam setahun. Mereka datang membawa semangkuk rindu agar ditraktir makan.

Apakah cukup. Belum, kawan-kawan. Selain ada teman di meja makan, ada juga teman di meja judi dan di meja warkop. Apakah cukup! Begini, ya. Itu baru setengahnya. Saya belum sebutkan temannya teman punya teman. Semuanya itu teman saya juga. Dan, keseluruhannya ada grup WhatsApp dimana kami saling menyapa siang dan malam. Cukup menyiksa, bukan! Tetapi saya bahagia menjalaninya.

Nah, dalam kelompok pertemanan itu tak bisa dimungkiri kalau tak semuanya memiliki ikatan emosional yang kental. Sebagaimana 876 grup WhatsApp itu tadi. Jika harus jujur, hanya ada tiga grup yang layak saya labeli terkeren di tahun 2016 ini. Mengapa, karena dua dari ketiga grup pertemanan itu ditopang sebagian besar orang yang sama. Haduh! Ya Tuhan.

Berikut grup WhatsApp itu:

Grup Kopi Darat (Kopdar)

Konon, grup ini beranggotakan orang-orang paling berpengaruh di Pangkep. Setiap keputusan yang ditetapkan bakal membuat pemangku kebijakan di Pangkep serasa dikejar kolektor kartu kredit.

Tidak semua orang yang dicap aktivis di Pangkep dapat menjadi anggota. Ada banyak sekali seleksi yang harus dilewati yang kejamnya melebihi interogasi yang pernah dilakukan pasukan NAZI. Ini tentu dianggap berlebihan. Dan, sesungguhnya memang demikian.

Konon pula, sejak dibentuk di awal tahun 2016, grup ini beranggotakan 123 aktivis beragam genre. Perlahan, aggota yang tak kuat berdebat akan disingkirkan. Selebihnya mundur dengan sendirinya karena tak kuat menahan derita. Bahkan, salah seorang admin grup juga memilih keluar.

Persoalan sepelelah sehingga saya ditambahkan menjadi anggota. Bermula ketika tak sengaja saya lewat di depan salah satu rumah di kampung sebelah dan melihat tenda biru sedang roboh diterpa pohon ketapang yang tumbang. Saya lalu singgah membantu hingga tenda biru itu kembali terpasang.

“Apa yang sedang kau cari, anak muda,” ucap pemilik rumah itu.

“Saya mencari anak sapi saya yang terpisah dari rombongannya,” balasku.

“Oh, begitu rupanya.”

“Iya.”

“Jika berkenan, duduklah dahulu. Kita bisa minum kopi dan saya akan ceritakan tentang sapi-sapi yang masuk surga.” Ia mengajak.

Setelah dua cangkir kopi tandas dan cerita sapi yang masuk surga itu nampaknya tidak akan tuntas tujuh hari tujuh malam. Saya berdeham memotong ceritanya kemudian memilih pamit. Atas pintanya, tak lupa saya tuliskan nomor hape di atas tanah menggunakan ranting ketapang.

Begitulah. Keesokan pagi, hape saya tak henti berdering. Begitu kutengok, Subhanalloh, ini musibah apa yang engkau berikan, Tuhan. Hingga kini, lalu lintas obrolan di grup Kopdar itu sepertinya tak bakal usai. Macam air bah, kalau kalian mau tahu. Saya lalu sadar, sebab inilah mungkin anggota grup pada keluar dan menyisakan sembilan orang saja. Meski begitu, cerewetnya para anggota hanya bisa diredam suara knalpot scooter butut.

Di pertengahan tahun, anggota grup berhasil menyepakati keputusan bersama. Bahwa syarat keanggotaan harus diubah. Tidak lagi bertumpuh pada paham tertentu. Melainkan hanya satu. Yakni: humor. Sebab hanya humorlah yang dapat menyatukan sembilan anggota yang memilih bertahan. Meski itu pedih, tentu saja. Jika ada yang coba keluar, maka secepat kilat akan menjadi anggota. Kecuali tidak menggunakan aplikasi WhatsApp lagi. Kejam mana coba dengan interogasi serdadu NAZI.

kopdar
Ikon Grup Kopdar. Didesain dengan sangat hati-hati oleh Ardian, salah satu anggota yang memilih keluar

Grup Keluarga PPIM

Grup ini berisi teman-teman semasa SMA di Makassar. Di antara kami ada yang tidak satu sekolah. Satu alasan kami berjumpa karena tugas sejarah menuntun terlibat di organisasi pelajar PPIM (Perhimpunan Pelajar Indonesia Makassar) yang lahir di tahun 2002.

Usia organisasi ini tidaklah lama. Saya sendiri aktif hanya setahun. Selepas kongres kedua di tahun 2004. Tak lama setelah itu, serangan jantung mendera yang membuatnya mati seketika. Pengandaian ini sedikit lebay. Namun, itulah faktanya.

Hanya saja, beberapa orang enggan menerima kematian itu. Bagi mereka, PPIM belum mati dan tak akan pernah terjadi. Interaksi obrolan sejumlah bekas anggotanya terus terjalin hingga kini. Pernah aktif berdialog di grup Facebook di kisaran tahun 2011 hingga 2012 lalu mati suri.

Kini, anggota garis keras itu kembali bersua di grup WhatsApp. Karea dulu berpisah sebelum semuanya memilki hape. Ada banyak informasi yang tidak tersampaikan. Begitu berjumpa, sebagian besar sudah pada berkeluarga.

Sejak mula grup ini dibentuk, percakapan melulu kisah heroik di masa lalu. Bahwa, hanya pelajar seangkatan kami yang pernah berdemonstrasi dengan jumlah massa melebihi kerumunan aksi bela Islam jilid 411 dan 212. Pengandaian ini juga lebay sebab faktanya tidak demikian.

Jika mengacu pada jumlah sekolah yang dulu tergabung di PPIM. Harusnya jumlah anggota mencapai 300 orang lebih. Entahlah, kali saja masih ada alumni yang menggunakan Hape Nokia 3310. Atau, alasan paling masuk akal, kami lupa mencatat nomor hape sebelum mengakhiri masa sekolah.

Saya bisa memastikan itu. Kami dulu hanya bertukar nomor telepon rumah. Karena tidak mungkinlah bertukar nomor hape yang harganya kala itu lebih mahal ketimbang hape. Jadi, jumlah anggota hanya 15 orang saja. Namun, seiring waktu, mungkin jenuh atau diserang kantuk, anggota yang aktif bercakap hanya itu-itu saja. Bosan juga meladeninya.

Satu hal, pola pikir anggota menujukkan adanya perbedaan. Ini alamiah saja, saya kira. Kami terpisah jarak dan waktu cukup lama. Dalam proses itu, tentu saja terjadi penyemaian cara pandang terhadap realitas sesuai dengan siapa mereka berinteraksi.

Perbedaan cara pandang itu sangat mencolok. Apalagi menyangkut isu tertentu yang lagi popular. Ada beberapa anggota memilih keluar. Tetapi, bukan karena perbedaan cara pandang itu tadi. Melainkan mumek saja mendengar hape mereka terus berdering. Selebihnya memilih diam dan mematikan notifikasi obrolan.

Jika kami tetap setia berada di grup ini. Itu karena kekuatan kenangan.

ppim
Ikon Grup Keluarga PPIM, digarap dengan penuh baper oleh Andika yang akrab disapa Irex

Grup STAI DDI Futsal

Sesuai namanya, di grup ini sepatutnya hanya membahas tentang futsal. Nyatanya tidak demikian. Penghuni grup kadang menunjukkan keluasan wawasannya. Maklum, dulunya mereka kuliah di kampus paling berpengaruh di Pangkep. Kampus yang banyak melahirkan pemikir. Konon, hanya bisa disaingi Universitas Sorbonne di Prancis.

Tak perlu heran begitu. Level humor anggota grup ini mirip-mirip sama dengan grup Kopdar. Mengapa, hanya empat anak Kopdar tidak tergabung di sini. Bukan berarti keempat orang itu tidak pandai bermain futsal atau tidak memiliki talian dengan kampus STAI. Sama sekali bukan. Admin grup ini ogah saja memasukkan keempat orang itu.

Dibandingkan dua grup sebelumnya. Intensitas percakapan di sini tidaklah menyerupai pasar yang ramai saban hari. Sesekali saja dalam seminggu. Biasanya dimulai sehari sebelum jadwal bermain futsal di hari Sabtu.

Nah, pas sekali, di pengujung tahun ini jatuh pada Sabtu. Anda tahu apa maksudnya, itu berarti malam Minggu, kawan. Permainan tetap dijalankan serupa Boxing Day di Liga Primer Inggris. Tidak ada libur. Sebab, pada Sabtulah mereka baru bisa berkumpul menuntaskan dendam.

futsal
Grup Ikon STAI Futsal. (Besar dugaan, gambar ini hanya copy paste dari Google)

*

Saya kira cukup. Tiga grup pertemanan inilah yang menemani saya melewati hari-hari di tahun 2016 dengan penuh tawa. Sampai tumpah-tumpah, malah. Lambat laun, bercakap dengan teman-teman di ketiga grup ini rasanya semakin lekat. Tidak bisa lepas. Jika misalnya, saya diberi pilihan melepaskan kewarganegaraan. Tentu saya tolak dan mau mati agar tetap dikenang sebagai warga Indonesia. Hal yang sama saya rasakan di ketiga grup ini. Saya ogah keluar walau humor itu kadang tidak lucu, tetapi pahit. Awwe!

Pada kenangan pula manusia bisa bertahan. Sebagaimana kita hidup dalam sebuah negara.

Perlahan, kekuatan kenangan itu muncul walau usianya belumlah seabad. Saya pikir itu yang perlu dibanggakan. Ada ribuan percakapan dan semuaya merupakan benih kenangan. Sebab dengan kenanganlah kita bisa saling memaafkan jika ada salah yang sempat terucap.

Pada kenangan pula manusia bisa bertahan. Sebagaimana kita hidup dalam sebuah negara. Bukankah negara ini lahir dan bertahan hingga kini karena fondasi kenangan beragam etnik, agama, cara pandang, dan lain sebagainya. Asusmi ini macam dipaksakan ya.

Oh, iya. Naskah ini tidak jadi saya kirim ke Kompas atau Tempo. Saya tentu tidak mau menjadi lelucon redaktur kedua media itu di akhir tahun.

Pilihan paling sadar, tentu saja saya kirim saja ke Saraung.Com karena media inilah yang mau memuat naskah apa saja. Biografi nenek Anda pun akan layak tayang. Media ini memang tidak digarap secara profesional. Melainkan ditekuni sebagai obat penenang tidur saja.

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This