Saripah dan Pada Siapa Resep Itu Terwariskan

Sikaporo, merupakan kue tradisional khas Pangkep. Terbuat dari tepung beras dicampur santan dan air perasan daun pandan, sedikit garam kemudian dikukus dan dibaluti parutan kelapa,

Kue ini sudah ada sejak dulu dan menjadi salah satu penganan dalam keluarga kerajaan. Tetapi, pembuatannya semakin berkurang dan sulit dikenali anak di zaman sekarang. Pasalnya, kue  sikaporo hanya dibuat oleh perempuan tua dan konon, tak bisa diwariskan. Artinya, tak ada seorang pun yang dapat membuatnya dengan kelezatan serupa.

Saripah kini berusia 70 tahun lebih, adalah sosok di balik sajian sikaporo yang rasanya tak terjabarkan itu. Sudah hampir 50 tahun ia membuat dan menjual secara terbatas kue sikaporo. Ia ditempah langsung sejak belia oleh emaknya dalam menyiapkan dan mengolah bahan. Saripah mengingat, ia sering menyarap sikaporo yang disajikan emaknya di pagi hari.

“Di era emak saya, juga tak ada yang bisa membuat sikaporo dengan rasa yang sama meski resepnya sudah dijelaskan hingga diajak dalam proses pembuatan,” terang Saripah.

Saripah juga tidak tahu mengapa orang yang telah dilibatkan itu tetap saja tak mampu menghasilkan sikaporo dengan rasa menyerupai buatannya. Padahal, bahan dan caranya sudah dibeberkan. Hal tersebut menjadi rezeki bagi Saripah karena pembeli memburu sikaporo buatannya. Banyak penjual sikaporo sudah lempar handuk dan tinggallah Saripah sendiri yang membuat kue itu di usia senjanya.

Menjelang pukul lima sore, pembeli sudah mengantre di rumah Saripah, tak jarang ada yang telah memesan sebelumnya. Aktivitas jual beli itu kadang berlangsung hingga jauh malam. Saripah sungguh kerepotan melayani para pelanggannya, untunglah, adik iparnya, Haerana turut membantu mengukus kue dan melayani pembeli.

Di era emak saya, juga tak ada yang bisa membuat sikaporo dengan rasa yang sama meski resepnya sudah dijelaskan hingga diajak dalam proses pembuatan

Satu talam sikaporo dijual Rp. 7.500,- Jika melihat cara pembuatannya, harganya sangatlah murah. Namun, Saripah enggan menaikkan harga demi menyenangkan pelanggan. “Saya ini orang susah, saya tahu rasanya bila menginginkan makanan yang kita mau tetapi tidak terbeli karena mahal. Makanya, sikaporo ini harganya seperti itu saja. Sudah cukupmi itu, Nak,” ujarnya menambahkan.

Di pagi hari, Saripah sudah memulai proses penyiapan bahan, suaminya membantu menumbuk beras menggunakan alu. Sejauh ini, karena usia, ia hanya sanggup menuntaskan 5 liter beras saja. Dulu, ketika anak perempuannya belum menikah, ia sanggup menyediakan bahan sebanyak 15 liter. Anaknya lalu ikut bersama suami menjejak kehidupan baru di tempat yang lain, jadi Saripah tidak sanggup lagi.

Takaran 5 liter beras itu harus dipadukan dengan tiga butir kelapa yang harus diparut manual pula untuk mendapat satu liter santan. Tiga lembar daun pandan selanjutnya ditumbuk juga guna memeroleh sarinya. Bahan tersebut dicampur dan diberi garam satu sendok teh lalu diaduk rata. Hasilnya, jadilah adonan yang nantinya menghasilkan sepuluh talam sikaporo dengan ukuran 5 cm persegi berketebalan 2 cm.

Proses mengukus menggunakan wajan yang diisi air, di dalam air itu ditempatkan talam adonan. Langkahnya, adonan dituang ke talam sebanyak dua kali ukuran sendok sayur lalu ditunggu hingga lima belas menit baru dituangkan lagi dua sendok di atas adonan sebelumnya dengan durasi kukus yang sama. Selanjutnya, adonan yang telah matang dilepas dari talam kemudian dipotong dan ditaburi parutan kelapa.

Teknik pembuatan kue sikaporo ala Saripah tidaklah tergoda dengan alat mesin yang dapat memudahkan dan meningkatkan produksi juga pandan pasta yang banyak dijual di pasar. Alasan dibalik penolakan menggunakan mesin ialah, untuk menjaga rasa khas yang telanjur diminati pelanggannya. “Sudami kucoba. Rasanya tidak enak, Nak, dan kue cepatki basih” ucapnya.

Tanya yang tersisa, akankah resep pembuatan sikaporo ini sungguh tidak terwariskan? Bukanhkah Saripah mewarisinya juga dari emaknya, dan Saripah sendiri memiliki anak perempuan? Saripa hanya diam menunduk sambil memarut kelapa.

*

Foto: Saripah (kanan) dibantu Haerana menyiapkan sikaporo. (Dok. Pribadi)

mm

Riandra Ria Hamriah

Awal kemunculannya di publik Pangkep sebagai penyiar radio di tahun 2007-2010. Kemudian jurnalis di tahun 2011-2014.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This