Romantika Perancis

Perancis menjadi tanah kelahiran kedua sejumlah eksil dari Indonesia. Pasca tragedi1965, terdapat beberapa nama yang sudah berada di luar negeri tak dapat kembali ke Indonesia. Salah satunya keluarga Aidit. Sobron, adik kandung DN Aidit, ketua PKI, mendapatkan kewarganegaraan Perancis setelah pupus harapan menunggu waktu untuk mendapatkan kembali hak kewargaan Indonesia.

Imam Khoemini, ruh revolusi Islam Iran, memilih hijrah ke Perancis dan bukan ke Arab Saudi untuk merancang strategi menggulingkan diktator Syah Pahlevi. Ali Syariati, salah satu arsitek revolusi Iran, juga berlabuh ke Sorbonne, universitas di Perancis yang banyak melahirkan pemikir. Di sana ia bertukar gagasan dengan pejuang revolusi dari negara lain. Ali Syariati pula yang mengenalkan gagasan Franz Fanon, pemikir asal Aljazair, negara yang menjadi salah satu koloni Perancis ke lingkaran intelektual Sorbonne.

Usaha Ali membuat filsuf eksistensialis paling disegani di Perancis, Jean Paul Sartre bersimpati pada gerakan kemerdekaan Alajazair yang selama ratusan tahun menjadi aneksasi Perancis. Imperium Perancis melahirkan efek dramatis bagi sejarah peradaban koloninya dan juga bagi dirinya.

Tidak mengherankan kemudian, Perancis menjadi tanah harapan orang-orang yang hendak mengubah takdir hidup. Perancis tumbuh karena migrasi warga dunia yang merasa dilahirkan kembali jika berada di Perancis. Novelis masyhur mereka, Albert Camus, dialiri darah Aljazair sebagaimana legenda sepak bola mereka, Zinedine Zidane. Perancis menerima liberalisme dan menerapkan nasionalisme kosmopolitan.

Michel Platini, gelandang serang Perancis dekade 80 an, menancapkan mitologi di kepala ayam jantan yang menjadi simbol tim Perancis. Dialah hingga kini yang masih memegang rekor mencetak 9 gol sekali turnamen Piala Eropa tahun 1984 di Perancis. Nomor 10 yang dikenakan adalah bagian mitologi yang sudah dikultuskan ulang oleh Zidane.

Didier Deschamps, eks gelandang bertahan Perancis yang turut terlibat mempermalukan Brasil di final Piala Dunia 1998 di Stade de France, kini menjabat pelatih tim Ayam Jantan. Ia meremajakan skuat tim memakai pendekatan rasionalisme. Ia ogah menerapkan traktat filsafat eksistensialisme. Baginya, tidak ada sosok istimewa dalam tim dan miitologi hanyalah usaha manusia menyerah pada takdir. Angka keramat nomor 10 diberikan kepada pemain yang lebih banyak duduk di bangku cadangan, Andre Pierre Gignac yang bermain di klub Tigres UANL Liga Mexico.

Kariem Benzema, pelanjut nomor 10 didepak dari tim. Keputusannya ini mengundang Eric Cantona, legenda Perancis yang kita ingat bukan karena mengantar Perancis meraih trofi melainkan keangkuhannya, ia menohok Deschamps sebagai rasialis. Sebenarnya tidak begitu tepat, sebab infrastruktur tim yang dibagun Deschamps berdiri di atas kaki para emigran. Sejumlah pemain inti Perancis adalah darah Afrika, Evra, Sagna, Mautudi, Pogba, dan Sassoko, serta Payet, juga Coman.

Sejarah mengingatkan, kemenangan dalam sepak bola banyak ditunjang kontroversi para pemain bintang. Pemain paling senior Jerman, Bastian Schweinsteiger yang berebut bola di udara dengan Pogba di kotak penalti menjadi petaka. Gestur Schweni, sapaan akrabnya, dianggap oleh wasit memenuhi syarat dilegalkannya tendangan penalti.

Si Tikus, didikan Diego Simeone di Atletico Madrid, Antoine Griezmann, sudah melupakan kegugupannya menghadapi tendangan dua belas pas di final Champions. Kiper terbaik Jerman, Manuel Neuer merelakan gawangnya bobol. Tim Panser yang juga ditunjang kaki emigran sudah mulai melupakan misi mengawinkan trofi Piala Dunia dengan Piala Eropa.

Oleh Pogba, Perancis mengejek Jerman kalau hanya Ayam Jantan yang pernah memadukan dua gelar bergengsi itu yang diraih di tahun 1998 untuk trofi Piala Dunia dan trofi Piala Eropa di tahun 2000. Pobga juga yang mengacaukan organisasi pertahanan Jerman dan berhasil merebut bola di daerah kekuasaan Neuer. Dengan lihai Pogba mengolok-olok bek Jerman yang berhasil dia lewati sebelum melepaskan umpan kunci. Dan lagi, Si Tikus, berhasil meloloskan bola menggelinding masuk ke gawang Neuer. Itu cara paling biadab yang pernah dilakukannya melebihi cungkilannya ke gawang Islandia.

Lolosnya Perancis ke final menantang Portugal yang sudah menungu usai mengingatkan tim semenjana, Wales yang mulai berani melenggang sejauh itu. Bahwa sepak bola Eropa hanyalah ulangan cerita masa lalu. Hanya Yunani yang pernah lolos dari lubang jarum di Piala Eropa tahun 2004. Setelahnya tidak ada lagi. Sejarah bagi tim penggembira sudah dipotong usai Yunani mengencingi generasi emas Portugal di rumahnya sendiri di final tahun 2004.

Portugal kini terpisah jauh dari pencapaian generasi emas yang pernah dicapai. Cristiano Ronaldo yang terlibat di final 2004 masih belia. Ia menjadi satu-satunya kepingan yang kini memimpin tim. Kekalahan menyakitkan di final membuatnya terisak. Itulah pengalaman getir dikalahkan di final dalam kariernya, baik ketika membela klub maupun tim nasional.

Menjelang putaran Piala Eropa digelar, Ronaldo lebih memilih tim lain sebagai calon juara dalam satu kesempatan. Ia tidak percaya kalau Portugal yang dipimpinnya bisa berlaga di final. “Saya memilih Italia favorit juara,” ucapnya.

Sebagaimana Messi di Tim Tango, Argentina. Ronaldo juga sebuah paradoks. Selalu tampil impresif bersama Real Madrid dan minus gelar bersama tim nasional. Pencapaian Portugal di Piala Eropa sebelumnya, tahun 2012 finis di Perempatfinal. Dari tahun 1960 hingga 1980 absen mengikuti kompetisi Piala Eropa, barulah di tahun 1984 di Perancis berhasil tembus ke Semifinal. Dua edisi setelahnya, 1988 dan 1992 kembali absen.

Portugal mulai diperhitungan di peta politik sepak bola Eropa setelah pemain legendaris mereka, Eusebio tampil memukau di Piala Dunia tahun 1966 di Inggris dan menempatkan Portugal di posisi ketiga. Kulitnya yang legam dan lincah mengingatkan publik pada sosok Pele dari Brasil. Pola permainan yang diperagakan memiliki kemiripan dengan Tim Samba. Segera saja Portugal disebut sebagai Brasilnya Eropa, Selecao das Quinas, demikian julukan tim ini.

Keikutsertaan Portugal di turnamen besar macam Piala Dunia dan Piala Eropa tidak konsisten. Tahun 1998, absen berlaga di pentas Piala Dunia di Perancis. Perancis juga bernasib sama. Enam kali tidak lolos di Piala Dunia dan empat kali absen di Piala Eropa. Namun Perancis mampu memanfaatkan momen kala menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 1998 meski dua edisi sebelumnya, 1990 dan 1994 gagal terlibat. Demikian halnya ketika tuan rumah Piala Eropa tahun 1984.

*

Gambar: www.klaritikita.com

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This