Puisi Ibnu Mundzir

Senja di Tanah Rajae

 

Suatu petang gelombang laut mendayu pelan

Menuju tepi impian menenun kata-kata

Membentang kalimat tauhid langit

Jingga di ufuk menyusun puisi jiwa yg sedang takjub

Menyelami makna lukisan Tuhan di akhir pertemuan matahari

Paut senja sungai di antara samar bunyi jolloro nelayan di laut tanah rajae

Izinkan menyampaikan pada semesta

Pada laut yang berdzikir

Pada angin bermunajat

Pada senja bertafakur

Bahwa aku merindukanMu

Sangat merindukanMu.

*

Pangkep, 6 Maret 2015

 

Fatamorgana Taman Musafir

 

Ini tempat indah, katannya. Kata mereka para perangkainya

Tempat meneduhkan asa kala terik menyengat batin

Tempat menjaring kisah lampau atau menata cerita masa yang datang

Ia disebut taman musafir. Simbol kota religi tanah Siang

Merdu nyanyi camar saat pagi datang

Sejuk anginnya kala siang

Mesrah senja kala malam

Menyeruak dan secepat surya berganti bulan

Selembut angin mengubah nyanyi

Seketika itu tempat ini berganti pandang

Angin menjadi beku. Sesak tak tau arah

Bibir menjadi kaku berbisik ragu

Mata seolah takut cahaya

Inilah tempat yg disebut taman musafir

Fatamorgana setiap hari dan malamnya

Siang nampak putihsuci dan bersih

Lalu malam menjadi hitam kelam pekat

*

Pangkep, 30 Oktober 2014

 

Pagi

-Tepi Pantai Butung-Butungan, Liukang Kalmas

 

Di sini, di tepi pulau Butung-Butungan

Kulihat damai dari semesta ramah para nelayan

Mentari berbinar mesrah

Memecah ombak

Serentak daun kelapa melambai pada angin

Sementara katinting menanti tuannya

Riuh ombak bertasbih pada pagi

Karang bertafakkur pada angin

Langit meniru laut embentuk biru pada semesta

*

Pangkep, 4 Desember 2014

 

Foto: Honeynia

mm

Ibnu Mundzir

Mahasiswa semester akhir STAI DDI Pangkep, aktif di PMII Cabang Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This