Politik Ruang Komunitas

Lima tahun terakhir, beragam komunitas lahir di Pangkep. Hal ini menandakan kalau kebutuhan berkumpul berdasar kesamaan minat memerlukan kerja kolektif dalam membuka dan merebut ruang.

Pada dasarnya memang, pendirian suatu perkumpulan adalah upaya merebut perhatian (ruang) untuk menunjukkan suatu kecenderungan dari orang-orang yang tergabung di perkumpulan itu. Sebab, dengan cara itulah minat pada satu bidang dapat dikampanyekan ke ruang publik.

Perebutan ruang publik tentu saja beragam,. Ada yang memilih ke gunung melakukan pendakian, menyanyi di tempat kerumunan seperti di warung makan atau di tepi sungai Pangkajene sebagaimana yang dilakukan kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ), atau memindahkan perpustakan ke taman, hal yang dikerjakan oleh Pangkep Initiative.

Boleh jadi, kegiatan komunitas ini tidak disadari sebagai politik ruang, tetapi itulah yang sesungguhnya berlangsung. Pertarungan merebut ruang. Bisa dibayangkan kalau komunitas hammock secara sadar bergelantungan di tiang listrik tepi jalan sebagai protes menolak kenaikan tarif dasar listrik, misalnya.

Berikut foto yang dikumpulkan oleh saraung.com yang coba merekonstruksi secara sistematis mengenai kegiatan Sumpangbita Youth Camp yang digelar selama dua hari, 26 dan 27 November lalu. Namun, bukan berarti foto yang ditampilkan sudah mewakili semua komunitas. Ada banyak sekali peristiwa yang terekam oleh individu dan itu menjadi sudut pandang masing-masing pengambil foto.

Rangkaian foto di sini hanyalah bagian kecil dari keseluruhan peristiwa politik ruang dari 21 komunitas yang hadir.

 

persiapan-spanduk
Sekitar pukul sembilan pagi, pemasangan spanduk dikerjakan di bawah rindang pohon jambu mete (Foto: saraung.com)

 

dialog-ijonk
Berlatar gunung karst, gabungan komunitas duduk di rumput mengikuti sesi dialog. (Foto: Ijonk)

 

pop-up-library
Gelaran buku yang dihadirkan Pangkep Initiative mengundang anak-anak berkumpul. Satu metode merebut ruang yang bermanfaat dalam mengenalkan aksara. (Foto: saraung.com)

 

pagelaran-malam
Selimut malam menjadi penghangat kebersamaan menyaksikan ragam pementasan di atas panggung. (Foto: Isra Miraj)

 

tari
Wajah dan gerak tangan para penari. Komunitas ini menamakan diri Mappakelebbi, fokus pada penciptaan dan pelestari tari tradisional. Malam itu tampil memukau. (Foto: Isra Miraj)

 

tanam-pohon
Tumbuhlah tumbuh, Menanam pohon menjadi program akhir. Semua komunitas menanam pohon, ketika nanti kembali berkunjung ke Sumpangbita, diharapkan kembali menjumpai kembali pohon yang telah ditanamnya itu. (Foto: Isra Miraj)
X

Pin It on Pinterest

X
Share This