Pesantren Galla Raya dan Sepotong Kisah

Saya masuk di lingkungan Pondok Pesantren Ar Rahman DDI Galla Raya di desa Galla Raya, Kecamatan Mandalle sejak usia lima tahun. Dimulai dari tingkat RA (setingkat Taman Kanak) hingga tingkat MA (setingkat SMA). Bisa dikatakan bahwa, pesantren ini merupakan tempat saya tumbuh dari anak-anak hingga dewasa.

Di pesantrenlah saya mengenal tentang ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama, di sini pula saya diajarkan tentang akhlak dan budi pekerti. Dan, tentunya, tempat saya mengenal persahabatan juga tentang apa itu cinta.

Mendengar pesantren, kebanyakan orang berfikir sebagai ruang yang mempunyai banyak peraturan yang membuat hidup serasa dalam kurungan. Memang, dunia pesantren kerap disebut sebagai penjara suci.

Namun, ketika saya diberikan kesempatan untuk bisa merasakan kehidupan di pesantren sejak di bangku RA. Bagi saya, justru kenikmatan yang sungguh luar biasa. Di tempat inilah saya mendapatkan ketenangan.

Hidup di pondok pesantren memang tidak selalu berjalan dengan mulus dan tak sedikit cobaan yang kerap datang. Tetapi, dengan cobaan itulah saya belajar dan dapat lebih mengerti akan makna hidup yang sesungguhnya, karena saya selalu yakin, di setiap kesulitan pasti ada jalannya.

Hidup di pondok pesantren juga indah. Meskipun, jauh dari orangtua. Gaya hidup kami pun jauh berbeda dengan hidup anak di luar pesantren. Dalam kehidupan yang sederhana, kami mendapat banyak pengalaman hidup serta berkenalan banyak orang dari daerah yang lain.

Sebagaimana lazimnya dunia pertemanan, saya juga mengalami dinamika. Kadang, saling baku bombe lalu baikan lagi. Semuanya disyukuri karena mereka semua, kehidupan ini menjadi lebih berwarna menjalani hidup di pondok pesantren.

Ketika duduk di bangku MIS (setingkat sekolah dasar), saya seringkali menjadi bahan ejekan teman-teman yang akhirnya berujung pada perkelahian. Sialnya, saya selalu kalah dari mereka. Meski penuh kekerasan, bagi saya, masa ini adalah masa yang paling indah.

Sedangkan ketika saya duduk dibangku MTS (setingkat SMP) saya mulai mengeluh berada di pondok pesantren hanya karena masalah pelajaran. Salah satunya, pelajaran Nahwu Sharaf. Pelajaran yang lebih menakutkan dari uji nyali, lebih rumit dari Matematika. Dan, lebih membosankan dari pelajaran sejarah. Namun, kebersamaan teman-teman di pesantren yang selalu menguatkan agar semuanya saya jalani.

Pada tahun 2014, saya sudah tingkat MA. Waktu mengantarku semakin dewasa dan lebih membuaku mengetahui banyak hal serta menjadi mandiri. Pada masa inilah saya sadar, bahwa telah dipertemukan dengan orang-orang baik, seperti para ustaz dan ustazahku, yang selalu membimbing dan memberikan nasihat juga motivasi yang tiada henti.

Pelajaran Nahwu Sharaf merupakan pelajaran yang lebih menakutkan dari uji nyali, lebih rumit dari Matematika. Dan, lebih membosankan dari pelajaran sejarah

Semuanya menjadi bekal dalam hidup saya agar lebih baik dan berani untuk bermimpi. Pun, saya sadar, bahwa segala peraturan pondok pesantren dari dulu hingga sekarang, semuanya tak lain untuk mendidik saya menjadi seorang yang lebih baik, lebih disiplin dalam belajar dan menggunakan waktu. Mengapa, karena waktu sangatlah berharga. Merugilah jika tidak menggunakannya dengan baik.

Banyak kisah yang telah kami rangkai. Kisah tentang pendidikan kami, persahabaan, dan cinta. Semuanya tersusun rapi di benak. Saya teringat kembali saat pertama menginjakkan kaki di pondok pesantren ini. Di tingkat MTS, semuanya biasa-biasa saja, mulai dari gedung dengan santri sangat sedikit.

Seiring berjalannya waktu. Perlahan mengalami banyak perkembangan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Program belajar juga sudah banyak, seperti pengajian rutin setelah salat maghrib sampai isya, taman penghafalan Alquran, klub bahasa Arab dan Inggris. Kami pun aktif dalam berorganisasi di Pramuka, PMR, dan OSIS.

Banyak orang yang menanggapi bila pesantren itu terbelakang, norak, ketinggalan zaman, sampai yang paling kejam adalah, bahwa menjadi anak pesantren itu tidak penting. Padahal, sebenarnya, pesantren menyimpan berjuta cerita, sama dengan sekolah umum. Di pesantren, santrinya juga merasakan kisah yang menyedihkan, menyeramkan, menyenangkan, sampai hal menjengkelkan yang membuat hidup serasa berhenti berputar.

*

Catatan: Naskah ini pernah diikutkan dalam lomba menulis tingkat pelajar SMA se Kabupaten Pangkep di tahun 2016 dalam kegiatan Kampung Kreativitas di kampus STAI DDI Pangkep. Penulis adalah santri di Ponpes Ar Rahman DDI Galla Raya.

Sumber Foto: Fanpage Ponpes Ar Rahman DDI Galla Raya

Arisa Dzul Fitri Jabbar

Santri Ponpes Ar Rahman DDI Galla Raya Mandalle

X

Pin It on Pinterest

X
Share This