Perjalanan Spiritual Menyingkap Hakikat Telolet

Betapa meruginya saya karena tergolong domba-domba tersesat yang lambat menyingkap tabir makrifat dari ajaran telolet. Sebagai pelajaran untuk ikhwanakhwat, berikut saya tuliskan kisahku. Semoga kita semua tidak mendadak kafir karena ini.

Beberapa hari sebelumnya, telah saya baca di status sosmed Kang Maman, notulen Indonesia Lawak Club (ILC). Karena Kang Maman ini, bagi saya, hanyalah seorang pelawak cerdas dan bukan seorang ulama, maka fatwanya saya anggap saja sebagai hiburan.

Jika saya sedih, pedih, dan sakit. Status beliaulah yang menjadi salah satu penyemangat. Meski statusnya tak semua lucu. Namun, khasanah bacaannya yang luas, ia dapat menuntun akal sehat saya terus berpikir, minimal tak jalan di tempatlah. Apapun yang dia tulis tentu saja sekadar ingin memasukkan keceriaan gelak tawa ke diri umatnya. Asyik, kan!

Lain halnya jika ulama sekaliber Jonru, misalnya, maka saya harus berhenti dan mengamatinya dengan hati-hati. Sebab, setiap banyolannya membuat jantung saya berdetak kencang. Siapa tahu saja, beberapa menit yang lalu kita semua telah masuk neraka karena melakukan aktivitas yang dapat membuat kafir, syirik, dan bidah secara tiba-tiba atau, karena keberpihakan berpilkada yang tidak sesuai dengan maunya beliau. Tergolonglah saya sebagai orang munafik. Apapun yang ditulis oleh Jonru dan sejenisnya, adalah terkait tentang masa depanmu di kemudian hari. Ngeri sekali, kan!

Ya, Tuhan, apakah yang saya lakukan ini tergolong perbuatan kafir. Berilah petunjukmu, Tuhan. Amin.

Salah satu saluran televisi sebenarnya telah mengabarkan tentang telolet yang sempat saya tonton. Hanya saja, chanel televisi itu siarannya orang kafir karena setiap pemberitaannya sering menyudutkan orang-orang yang semestinya dibinasakan. Maka, tak ada kewajiban bagi saya untuk percaya walau hukumnya telah naik menjadi haram.

Saat itu saya cuek saja dan fokus membuka portal dan membaca artikel tentang boleh tidaknya menyampaikan ucapan natal kepada umat Nasrani. Saya kira, Tuhan agama-agama sama saja dengan Tuhan orang Islam. Justru, kafir lebih banyak dari umat Islam sendiri dari pada ahlulkitab (Yahudi, Nasrani, Majusi dan Sabiin). Artikel macam beginian, oleh sebagian rekan saya dianggap tak penting dikonsumsi karena dapat membuat aqidah menjadi labil.

Hingga tiba saatnya, berkat jasa kuota internet gratis seorang rekan. Saya berkesempatan menyaksikan sejumlah video yang menjadi viral di internet dan beberapa meme tentang telolet. Menyaksikan itu semua membuat saya senyum sendiri. Tak terbayangkan betapa bahagianya bagi para pelaku yang telah melintasi usia bahkan negara itu. Hingga saya merasa perlu melakukannya sendiri di tepi jalan: Om, Telolet. Om, Telolet.

Ya, Tuhan, apakah yang saya lakukan ini tergolong perbuatan kafir. Berilah petunjukmu, Tuhan. Amin.

*

Gambar: http://www.republika.co.id

mm

Muhammad Ramli Sirajuddin

Penulis lepas sekali. Mampu membedakan jenis kopi dengan mencium aromanya meski berjarak 100 m

X

Pin It on Pinterest

X
Share This