Perempuan Pengantar Martabak

“Ya Tuhan, jam segini masih belum mandi juga. Jadi, aroma kecut apek ini. Aduh kakak, sana mandi dulu dong.” Perintahnya manja. “Sudah, ya, itu karena aku menyayangimu dan tahu kamu akan datang. Makanya kusisakan rasa ini untukmu juga. Saya tidak sampai hati menikmatinya seorang diri.” Lalu tawanya meledak dan terus bercerocoh. Malahan pemuda di sebelahnya itu kian asyik mecibirnya. Orang itu memilih diam. Senyumnya ringan segar tetapi segan.

Beberapa menit kemudian saat azan zuhur usai mengumandang, saya mengambil posisi di lantai bagian atas rumah. Bermaksud mendapatkan lelap yang cukup disela keriuhan teman kental di ruang bawah. Mereka itu pecinta game.  Permainan sepak bola jadi pilihan menantang. kelincahan jari jemari merupakan alasan utama mengapa kau disebut kuat.  Belum usai menuntaskan kompetisi Play Station 3 semalaman, mereka lanjut pagi, sore atau bahkan sampai pagi lagi.

Mendapatkan sedikit tidur hari ini bagiku adalah limpahan anugerah. Hampir seminggu ini tidurku tak cukup. Kupikir lantai atas meski agak pengap, lumayan terbilang tenang dari aktifitas. Tetapi, sedenting suara menggodaku. Buyarkan konsentrasiku. Bahkan berpotensi menggagalkan segala rencana.

Tamu itu memulai tutur dengan kebiasaan memancing perang. Meski begitu, ia periang dan baik hati. Namun, sebenarnya relung jiawanya tidaklah demikian damai hari ini. Aku tahu itu. Bahkan sebelum perasaan itu datang padanya.

*

“Hei! Berikan wajahmu ke sini, bangsat!”

Buggkk!

Kepalan tinju sekali lagi mendarat kenyal ke wajah lelaki tambun yang baru saja dinaikkan ke atas mobil. Meski sebelumnya ia sudah babak belur dengan beberapa hantaman, seseorang menghadiahkannya lagi ke pelipis kirinya. Wajahnya berantakan, memar tak berdaya. Sebenarnya ia lebih melirihkan perih pada lengannya yang tersabet badik.

“Warta yang kau bawa adalah basi. Semalam anak-anak di sini bahkan ikut menghakimi. Sudah lanjutkan saja agendamu. Katamu ada keperluan di kantor BPJS.” Kata lelaki berkumis tebal dan kelihatan tak padan itu mulai lagi berkilah.

“Kau tidak mengerti”

Orang itu menaruh kantong kresek hitam beragam isi di atas meja, lalu dengan lamban beranjak pergi bersama Junet. Begitu ia menamakan motor metiknya.

“Kemana,” cegat lelaki yang ia biarkan sendiri di belakang.

“Seseorang menantiku di Ujung Loe.” Jawabnya tanpa menoleh. Lelaki di belakang sebenarnya hendak membeberkan senyum perdamaian, namun ia telanjur murka. Tak ada gunanya berdebat dengan pundak.

Hari dimana aku berhasil mendapatkan lelap yang kelewatan, Ida datang membangunkanku. Matahari sudah berada pada posisi seimbang di langit. Memaksaku bangun dan seperti kemarin, ia menaruh lagi kresek hitam di sebelahku kemudian pergi. Seperti masih menyimpan kesal.

Masih sama seperti tiga hari sebelumnya. Kresek hitam itu. Kuraih satu kaleng susu Bear Brand di dalamnya, lalu ludes dengan sekali tegukan. Siangnya ada susulan kresek hitam lagi. Isinya perkakas untuk mandi, di tambah beberapa bungkus mie instan rasa Coto Makassar. Kurapikan semua itu dengan riang. Ia tidak benar-benar marah. Memang, dasarnya aku tidak memiliki kekhawatiran secuil pun tentang itu.

Ruang tengah rumah ini kadang kala punya waktu panjang untuk riuh dan heboh. Pusat pergumulan teman-teman berada di sini. Ibarat satu barisan keluarga yang orang tuanya sedang liburan panjang.  Pada ruangan ini, satu buah televisi menempel di bagian tengah dinding.  Satu lagi, televisi merk Samsung layar datar melentang di bawahnya. Ini untuk bermain dan menonton film berkelas. Kita punya selera film yang lumayan tinggi.

Rumah ini bukan milik siapa-siapa di antara kami yang berteman. Ada kalanya sengketa politik membawa seberkas harapan bagi orang-orang marginal politik seperti kami. Itulah mengapa kami bertahan lama di tempat yang pada momen tertentu kami menyebutnya sebagai kantor. Sejatinya kami adalah musyafir di rumah ini. Tamu yang tak kunjung dan entah kapan akan beranjak. Kami akan patuh pada sesiapa kader politikus yang datang bertitah. Tak ada soal dia dari sudut merah atau putih. Itu cara bertahan sederhana.

Di atas karpet hijau ruang tamu, teman-teman seperteduhan masih sebagian lelap di langit mimpi.

“Kau melihat seseorang pagi tadi?” Tanyaku pada teman yang masih setengah sadar.

“Iya, tetapi pergi lagi.” Jawabnya seperti semingguan tak mendapat makan.

Sepekan ini aku memang memilih tenang di aula belakang rumah. Kegaduhan tidak begitu kuat terdengar. Aku tidak ingat pagi tadi sesorang menyimpan lagi kresek hitam. Isinya masih sama. Dua kaleng susu Bear Brand dan beragam kue kering. Juga sepekan ini, Ida, begitu rajin berkunjung dan lenyap saat aku bangun. Apakah ia menaruh sesal atas pertengkaran klasik tempo hari itu. Mungkin panggilannya bekerja selaku tenaga honorer di Puskesmas Minasatene sudah ia terima. Semoga saja. Terkaan ini berada pada posisi ketakutanku yang semula dan berharap kresek hitam ini bukan yang terkisah dalam cerita kesedihan perkenalanku padanya.

*

Akhir tahun 2016 yang menyulut rasaku dengan Ida. Saat pesta pora jagung bakar digelar di depan rumah, ia tak hadir. Disiplin tingkat tinggi senantiasa akan diberlakukan di rumahnya meski pada momen seperti ini, sang bapak berada di luar dalam misi pengamanan hari natal dan tahun baru. Tanpa kehadirannya tentu saja jagun bakar kurang nikmat. Aku menyibukkan diri bertarung di depan layar televisi dengan siapa saja yang datang malam itu. Pesannya untuk menemuinya esok hari melalui WhatsApp kubaca sekenanya.

Esoknya, Ida memergokiku bersikukuh dengan lawan main game. Ia memberi pilihan yang rumit. Mandi atau menyeretainya ke daerah Tonasa 2 mengantar barang. Kutaruh stik game. Ida menantiku dengan tidak sabar di depan pintu. Kubasuh wajahku secukupnya lalu kuraih jaket. Mendung sudah menggantung tebal di langit.

Junet mula menyelinap antara jalan Matahari dan kampung Bonto Kape. Jalan menuju Tala-Tala. Di sini, Ida memegang bahuku seperti hendak menarik kepalaku kebelakang untuk mendengar bisiknya.

Pakailah jas hujan ini, Kak.

Dia mulai berkisah. Cerita yang, cerobohku membungkamkan dan sedikit menyakitkannya tempo hari.  Ia memulai: “Semalam, warga di sini menghakimi pencuri ayam yang saya ketahui adalah dia dulunya bekerja diperkapalan dan orangnya baik. Pesta pernikahannya yang kuberanikan diri ke pulau, memberikan rasa bahwa ia dari keluarga baik. Kakak, maafkan saya hari itu meninggalkanmu pada kekesalan.” Dia menaruh pipinya di pundakku sebelah kanan.

Setelah ia menikah dengan sahabat terbaikku, istrinya mundur dari pekerjaannya. Saat melahirkan anak pertamanya, hanya kami sahabatnya yang menyertainya. Lanjutnya. Aku hanya mendengarkan dan memastikan Junet dalam kecepatan terkendali. Aku bersegera ke Ujung Loe hari itu karena istri tersangka mengancam bunuh diri. Ia berhenti bercerita beberapa jenak. Hatiku mulai dialiri rasa tak menentu. Seperti menjepit rasa nyaman saat ini. Aku hendak berbalik ke belakang dan ingin sekali melerai gerimis di matanya, tapi kendaraan ramai dan lancar. Setitik air mata jauh lebih sedih dari tangis yang meraung.

Aku berhentikan Junet di dekat pertamina daerah Tonasa 2 yang berada tidak jauh dari kantor pusat PT. Semen Tonasa. Hujan mulai membasahi kami. “Kita istirahat saja di sini dulu,” kataku. “Jangan, Kak. Pesanan martabak orang jangan sampai telat apalagi basah. “Kenapa, padahal hujan seperti ini yang, katamu romantis saat kita bersama.” Gumamku dalam hati.

“Pakailah jas hujan ini, Kak.”

“Tidak, kamu saja yang pakai, biar pesanan martabak ini tidak basah. Ia mengalah. Sembari kupasangkan mantel itu di badannya pada siang yang diguyur hujan di tepi jalan, aku mulai menggodanya.

“Cukup pakai jas hujan ini supaya kamu tidak dingin. Satu lagi, senyum dan katakan, kamu adalah kekasihku. Peluk aku dan kita berangkat.” Sekarang aku akan menyertaimu dalam tiap detik waktumu. Ayo, pesanan masih banyak, perjalanan masih panjang. Ini begitu lebay, sayang. Ah! Sudahlah.

*

Sumber Foto di sini

mm

Afdal AB

Mahasiswa semester akhir STAI DDI Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This