Perang Kata Melanda Facebookers Pangkep

Pada malam 9 Februari lalu, ketika guyuran hujan perlahan reda dan berganti terjangan angin yang memiringkan pembangunan menara masjid Al Markaz Maros. Di sejumlah titik wilayah di Sulawesi Selatan, beberapa pohon sudah tumbang. Akarnya tak kuat mencengkram bumi. Pot bunga di beranda rumah saya pun tak luput, beberapa ikut tumbang yang mengakibatkan potnya pecah.

Di sudut lain di malam itu, terjadi badai percakapan di Kopi Darat, nama grup WhatsApp paling berpengaruh di Pangkep yang lambat disadari anggota yang lain. Mulanya berjalan alot dan saling menanggapi sesuai apa yang diperbincangkan.

Percakapan berlangusung hingga peralihan waktu. Kedua pengobrol saling bercakap begitu saja seolah sedang memecahkan sandi rahasia untuk membuka berangkas besi berisi emas batangan yang nantinya disumbangkan ke negara supaya utang luar negeri terlunasi.

Kata, Anda tahu, itu perangkat yang dapat meletuskan peperangan. Lewat kata pula, Wiji Thukul dihilangkan. Gede Robi, vokalis band Navicula, dalam lagu Metamorfosa Kata menekankan kalau kata menuntut untuk selalu dilahirkan. Karena itulah harus ada yang mewujudkan kata agar tak terpenjara di kepompong wacana.

Mendiang Asdar Muis RMS, seniman multitalenta, di beberapa kesempatan dalam interaksinya meminta kata dari orang-orang yang kemudian dia gubah ke dalam esai dan langsung dibacakan tanpa menuliskannya. Dia menyambung kata-kata yang telah didapatkan. Dia sendiri menyebutnya sebagai gaya baru dalam membacakan esai.

Tetapi itu Asdar Muis, pekerja kata di sejumlah media massa cetak dan penulis mumpuni. Baginya mudah saja jika sekadar mengubah kata ke dalam esai. Itu memang pekerjaannya sehingga sudah biasa.

Nah, ini soal obrolan yang saling menanggapi dengan satu atau dua suku kata tanpa tujuan yang jelas. Anggota grup yang lain sesungguhnya tidak paham topik pembicaraan namun langsung menanggapi dengan pola serupa. Maka, terjadilah perang kata tanpa ujung. Pokoknya saling menanggapi saja.

Esoknya, salah satu anggota memosting beberapa penggal obrolan itu di Facebook. Ia menyebutnya memulung kata. Tak perlu waktu lama memanen komentar. Andai Facebook memiliki kebijakan pembayaran bagi pengguna yang memiliki komentar terbanyak, tentu anggota yang memosting itu sudah meraup keuntungan. Dan, jika kebijakan ini benar ada, saya yakin kalau Google AdSense bakal tertinggal jauh.

Seolah akun mereka sedang dihakers berisi rentetan kata yang tidak saling berkait di kolom komentar

Meski media sosial sudah banyak, tetapi netizen di Pangkep ogah meninggalkan Facebook yang, oleh netizen kelas menengah ke atas sudah dianggap medsos jadul. Facebook tetaplah medsos paling demokratis bagi netizen di Pangkep.

Soal ini ada dua asumsi. Pertama, netizen Pangkep belum mengenal beragam medsos seperti Pinterest, Path, Instagram, Google +, Linked In, Flickr, Fiwer, Orkut, Meetup, MySpace, dan lain sebagainya yang kalau disebutkan bisa 500 kata. Kedua, orang Pangkep memang cerewet, semua ingin dikatakan tanpa dipotong. Alasan ini menjadi asumsi sehingga pengguna Twitter di Pangkep masih bisa dihitung jari.

Hasil dari postingan di Facebook itu lalu menjalar, tepatnya menimpa Facebookers Pangkep. Seolah akun mereka sedang dihakers berisi rentetan kata yang tidak saling berkait di kolom komentar. Dan, ini tidak terjadi pada satu pengguna saja. Mulanya hanya satu, lama kelamaan muncul Facebookers yang lain turut menuliskan kata seolah memahami persoalan.

Di Amerika Serikat, banyak pihak menunjuk hidung Mark Zuckerberg karena tidak menerapakan kebijakan blokir pada akun Facebook yang menyebarkan berita bohong. Mereka yang geram itu, menuding kemenangan Donald Trump akibat berita bohong di Facebook.

Nah, lalu bagaimana dengan di Pangkep, sejauh ini belum ada Facebookers yang melayangkan gugatan. Kalau pun harus dilaporkan harus menggunakan landasan hukum apa. Kata-kata yang beredar di kolom komentar sama sekali tidak ada indikasi pencemaran nama baik sehingga majal kalau menggunakan UU ITE tahun 2008.

Jadi. Entahlah. Bisa jadi begitu. Apa harus begitu. Andai saja. Ah, sudahlah.

*

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This