Penulis Biografi

Ia selalu menoleh ke kiri sesudah menyulut kretek dan bertahan sekitar dua menit. Itulah alasan mengapa ia menolak bertemu dengan orang baru ia kenal dan mengajaknya ngopi bareng. Ia tidak mau orang keheranan dan akan menertawakannya karena tingkah anehnya itu. Tetapi, ajakan kawannya malam itu sulit ditampik. Ia datang juga karena kawannya itu hendak mengenalkannya dengan seorang yang memiliki ketajaman penciuman melebihi anjing.

“Sudah sampai di mana pembahasan,” ia langsung membuka obrolan seolah dirinya yang mengundang.

Ia menjentikkan tangan kirinya tanpa menoleh ke meja bartender. Matanya tidak berkedip memandang orang baru yang ingin dikenalkan kawannya itu. Mirip di film mafia yang sedang melakukan transaksi mendesak. “Apa keahlianmu!” Tanyanya pada orang baru itu. Kawannya mendeham dan memperbaikan posisi duduknya. Kawannya itu tak jadi bicara setelah ia mengarahkan telunjuk tangan kiri ke arahnya. Kawannya tentu paham apa maksudnya.

“Jadi, apa yang bisa kau lakukan!” Kembali ia menatap tajam orang baru itu.

“Menulis, Pak!” jawab si orang baru.

Ia menyeringai. Bangkit dari duduknya. Berbalik dan pergi. Ia lalu tertawa yang membuat pengunjung warkop menyatukan pandangan ke arahnya. “Jadi yang kau bawa itu penulis!” Katanya lagi dengan suara lantang di atas sadel vesva bututnya. “Saya butuh anjing, bukan penulis. Berengsek!” Ia berlalu dengan suara knalpot memekak telinga.

Suasana warkop kembali hening. Para pengunjung kembali tenggelam dalam aktvitasnya masing-masing. Melayar di telepon pintarnya dan tertawa seorang diri. Sebagian, di pojok dalam, sedang membicarakan sesuatu. Di tenda bagian luar, enam anak muda sedang mengitari anggota dewan yang lebih banyak berkantor di warkop dari pada di gedung rakyat. Legislator itu terkenal dengan slogannya, “demo jika perlu” yang membuatnya meraih suara terbanyak di daerah pemilihan wilayah pegunungan.

Orang baru itu masih duduk melongo tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Ia datang ke kota Pangkajene atas undangan teman masa sekolahnya di Makassar. Ia diajak untuk terlibat proyek penulisan biografi tokoh. Kawannya memang orang Pangkep, dahulu, waktu masih sekolah, ia sering diajak kawannya itu ke Pangkep, utamanya ke empang di wilayah Labakkang untuk menyantap ikan bandeng.

“Dia memang selalu begitu,” ucap kawannya.

“Dia! Dia siapa,”

“Itu, begundal yang baru saja pergi.”

“Oh, memangnya dia siapa,”

“Dia kepala keamanan wilayah sini,”

“Preman!”

“Ya, bisa disebut begitu,”

Orang baru itu lalu diajak oleh kawannya pergi meninggalkan warkop yang di salah satu dindingnya disesaki buku. Orang baru itu sebenarnya ingin duduk berlama-lama karena melihat pajangan buku. Terlebih ia melihat buku lawas yang sudah lama ia cari, Kitab Lelaki yang Mencintai Anjing,  di jagad dunia penulis, buku itu adalah bacaan wajib. Tak layak seseorang disebut penulis jika belum membaca buku itu. Sayangnya, buku tidak diterbitkan lagi. penulisnya juga tidak jelas. Tetapi para penulis meyakininya kalau yang penulis buku itu bukan sembarang orang.

Jamak diketahui kalau pengakuan semua penulis yang pernah meyentuh buku itu tak sanggup membacanya. Buku itu hanya dipegang saja dan sebatas membolak balik halamanya. Tak bisa dibaca. Pada akhirnya buku itu disimpan saja atau dijual kembali. Dan, kejadian serupa akan berulang lagi. Tidak ada orang yang benar-benar pernah membaca buku itu. Para penulis hanya takjub kalau buku itu merupakan bacaan wajib yang layak dibaca sebelum mati.

“Saya butuh anjing, bukan penulis. Berengsek!”

Si orang baru itu menganggap kalau pemilik warkop ini bukan orang biasa. Kehadiran buku itu sudah cukup sebagai bukti. Ia tak menyangka kalau di kota kecil yang tak punya toko buku ini terdapat warkop yang dipenuhi buku. Baginya, ini masih sangat misteri bagi si orang baru. Siapa gerangan pemilik warkop.

Sebelum pergi, ia bertanya pada bartender mengenai siapa bosnya. Si bartender hanya tersenyum dan menggeleng sambil terus meracik kopi. Kawannya sudah memberi kode supaya lekas naik ke mobil.

Kawannya juga tidak mau menanggapi pertanyaan kawannya itu, sebisanya dialihkan pembicaraan ke hal lain.

“Kalau mau ke Butung, saya bisa antar sekarang juga. Saya punya banyak koleksi di sana yang bisa kau wawancarai sebagai bahan tulisanmu. Kau bahkan bisa menggarapnya sampai ke dalam tulang jika kau mau,”

“Nanti saja, kawan! Saya penasaran dengan warkop tadi itu. Apa lagi nama warkopnya, saya lupa,”

“D’Corner Coffee Shop and Little Library.”

“Iya, itu. Pemiliknya pasti fasih berbahasa Inggris. Saya meyakininya saja.”

“Tidak juga. Saya ingatkan. Jangan berani kau menyentuh buku di sana. Itulah mengapa saya mengajakmu keluar secepatnya. Selangkah lagi kau berjalan menuju rak, kau bisa mati.”

“Hahahah, kau ini tidak berubah. Sejak zaman sekolah selalu bercanda.”

“Saya tidak main-main. Buku-buku di warkop itu sesungguhnya tidak nyata. Rak itu hanya jebakan.”

“Ah, kau ini meneror saja. Sekarang mau ke mana,”

“Ke rumah begundal tadi itu.”

“Untuk apa,”

“Bicara bisnis,”

“Bisnis apaaan!”

“Bisnis, ya bisnis! Itulah gunamu saya ajak kau ke sini,”

“Saya tidak mengerti yang kau bicarakan. Kau mengajakku ke sini untuk menuliskan biografi seorang tokoh masyarakat. Mana orangnya.”

“Ini juga sedang menuju ke rumahnya,”

“Maksudmu, ke rumah orang yang kau sebut begundal itu,”

“Iya, siapa lagi. Dialah tokoh masyarakat yang kumaksudkan.”

“Tadi kau bilang dia itu begundal,”

“Iya, memangnya preman tidak bisa disebut tokoh masyarakat. Dia itu tokohnya di masyarakat begundal,”

Mobil berhenti di depan rumah panggung berpagar bambu. Rumah itu kontras di antara bangunan rumah bertembok berpagar besi. Si orang baru makin heran. Ia bingung apa sesungguhnya yang diinginkan kawan masa sekolahnya itu.

Ia mengikuti langkah kawannya menapaki anak tangga. Sesampai di atas, kawannya memintanya duduk saja di kursi kayu. Si anak baru menurut saja dan tak banyak bicara. Kawannya itu tetap berdiri merampungkan kekuatan mengetuk pintu. Lama ia berdiri dan tak sanggup menempelkan tangannya di daun pintu. Ia lalu duduk dan meyulut kretek.

Si anak baru sudah diam menatap layar teleponnya. Ia tak ingin memulai pembicaraan. Kawannya juga demikian dan memilih duduk menyandar menghamburkan asap kreteknya. Di sudut lain lolongan anjing terdengar. Si anak baru terperanjat mendengarnya.

“Ayo kita pulang saja, kembali ke warkop yang tadi,” ucapnya.

“Tunggu barang sebentar,”

“Menunggu apa,”

“Menunggu tuan rumah keluar memberi makan anjing-anjingnya,”

“Lalu, itulah saat yang tepat kau melakukan wawancara sebagai bahan menulis biografinya,”

“Si preman itu,”

“Iya, masa sama anjingnya,”

“Saya tidak mengerti. Sebaiknya antar saya pulang,”

“Nanti juga kau mengerti, tenang saja. Kau bakal terkenal sebagai penulis biografi,”

*

Gambar: http://www.mariettehaveman.nl/

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This