Pada Suatu Siang di Pangkep

Cris mendobrak keras pintu dari luar. Matanya tidak lepas mengintai penuh awas ke dalam ruang remang. Di balik kaca jendela bening tanpa besi pengaman, jelas sorot matanya liar berisi amarah. Amarah yang tertata. Daun pintu bergetar paksa. Dari dalam, remaja pengelana malam birdiri mematung menatap lurus. Antara membuka atau menyembunyikan seekor ayam jantan hitam mondar-mandir di sekitar kakinya. Pria yang hanya terlihat kepalanya dan berambut rapi itu mendesak masuk. Be, remaja kelas dua sekolah lanjutan akan berhadapan dengan Cris. Ia tidak punya banyak waktu lagi. Atau orang se kompleks akan menghakiminya. Dadanya mulai sesak ketakutan. Lututnya gemetaran meski harus melangkah membuka pintu. Cris merobek malam. Mengancam sepenuhnya keutuhan jiwa Be. Apa yang akan Cris lakukan terhadap dirinya.

Belum sempat batinnya membuka ruang relaksasi menghela nafas, dua tiga pukulan sudah mendarat di pelipis kiri dan perutnya. Anak bertubuh kurus sedikit bungkuk itu berusaha melawan. Tapi tubuhnya terjepit di antara dinding kamar dan lengan Cris yang kekar. Ia mengendus cepat seperti orang sedang asma. Aroma mulutnya yang, untung saja tidak berasa alkohol bermain-main di telinga tamu tengah malam itu. Cris tidak peduli. Penghuni tunggal rumah itu pasrah. Cris bukan orang sembarangan.

*

Kira-kira setengah jam lagi acara di cafe siang itu akan dimulai. Seorang pemuda berdiri di belakang beberapa pemuda yang lain di depan cafe tampak sibuk. Dengan setelan mirip jas berwarna biru melekat sangat pas terlihat di badannya, ia mulai menyalami beberapa orang. Tetamu sudah mulai berdatangan. Sebagai orang yang dipercayakan mengggelar hajatan itu, tanggung jawabnya jelas. Tanggung jawab adalah pesangon abadi di dunia setelah kepercayaan.

Ini langkah awal yang ia upayakan. Bagaimanapun, pengakuan khalayak juga penting. Kegiatan ini mempertaruhkan suatu hal yang lebih banyak tersirat. “Dialog Kebangsaan”. Untuk manusia yang masih memiliki kewarasan yang cukup, ini penting. Ia banyak-banyak mengaharap menuai hasil. Pengharapan selayaknya tak boleh terpaut terlalu jauh dengan kecemasan. Cemas akan gagal. Seperti optimisme yang seharusnya melebihi kadar pesimisme.

Terik menyengat untuk bersiap-siap redup. Kecemasan mulai mengancam. Di ujung telepon, Dim bercerita peristiwa. Rasanya belum terlalu lama ia meninggalkan cafe. “Aku terseret di jalan, lepas kontrol di atas motor. Kendaraan matik yang kupakai saat terseret, menimpa mobil yang mendadak mendahului motor di depanku. Nahasnya, pemilik mobil Honda Jazz itu anggota kepolisian setempat. Sekarang aku berada di depan asrama pulau”. Tutup Dim di ujung telepon. Kecelakaan jadi santer dibicarakan di antara orang-orang cafe. Apalagi saat Kull, pemilik hak atas motor yang ditunggangi Dim, mengaduh sesal di jalan antara Perpustakaan Daerah dan Mazzagena Cafe.

Pemuda di depan cafe yang sejak lama sibuk berbicara di telepon melepas jas birunya. Beberapa wajah juga mulai terlihat menyimpan iba meski tidak begitu mendalam. Di komunitasnya, semua orang mengenal Dim. Mahasiswa yang ulet bersetia dan bersahabat pada kebaikan bersama.

Be memacu gas motornya menuju asrama. sebenarnya sudah sejak pagi ia berada di ruangan eksekutif itu memakai fasilitas jaringan cafe untuk memastikan hadirnya para tokoh senior dalam kagiatan di Mazzagena, Sabtu siang itu. Sisi kemanusiaanya melambai. seseorang membutuhkan upaya dengan segera. Orang yang baginya tidak sekadar hanya putik dalam bunga. Dim bukan hanya seorang adik yang berusaha mendewasai segala soal dalam komunitas. Ia juga terlahir sebagai pendiam yang teguh pendirian. Be merasa tidak memiliki hubungan apapun dengan Dim, kecuali saudara dalam kemanusiaan, brother. Itu abadi. Terakhir ia memang telah bertemu dengan Dim membawa spanduk acara sebelum siang tadi.

Be melempar senyum sebelum turun dari motornya dan memarkir sembarangan di depan asrama. Seorang pria membalasnya. Di sebelahnya, Dim yang bermuka lusuh duduk bersandar ke pohon. Lutut celana jeans hitamnya sobek. Ekspresinya datar. Menatap kosong pada Be. Pria di sebelahnya lalu menghujangi perut Be yang kini tidak lagi memakai jas birunya dengan pukulan-pukulan tak berarti sembari tertawa seolah tidak percaya. Keduanya saling bertemu pandang dan bersalaman. “Keluargamu, kah?” Cris bertanya. Kepalanya digelengkan mantap namun tetap memperlihatkan senyum persahabatan.  “Iya, dia sepupuku, Cris”. Balas Be dengan ragu yang tersembunyi. Ia sadar sedikitpun tak ada hubungan darah dengan Dim. Cris lalu menjelaskan kronoglogis.

Kendaraan lalu lalang di depan asrama. Tepat di hadapannya, ada majelis kecil di pinggir jalan. Tidak sedikit pengendara yang melintas lalu menyapa. Cris memang terbilang populis di Pangkep. Be larut dalam diskusi dengan sedikit memohon kemurahan hati Cris. Ia tahu Dim sama sekali tidak memiliki selembar rupiah pun untuk membiayai kerusakan mobil. Cris, berbekal perkenalan langkah yang mengakrabkan dirinya dengan Be, mampu membuka lebih luas ruang dialog. Cris tidak mungkin lupa kejadian malam itu. Di sebuah perumahan di pinggiran sungai Marana. Cris memaksa masuk ke rumah Be yang disangkanya maling. Sebagai polisi, Cris melakukan kesalahan besar dengan memukul tanpa sebab. Cris meminta maaf dan jadilah mereka akrab. Tetapi Be, yang masih berusia usil tujuh tahun lalu, memang melakukan kesalahan dasar malam itu. Ayam jantan hitam milik guru agama sekaligus tetangganya sendiri ia rampas tengah malam dari kandangnya. Dan Cris, tidak mengetahui hal itu.

Keputusan Cris sudah bulat. Dim harus membiayai kerusakan pada mobilnya. Be, tak ingin menyediakan waktu panjang untuk menimbang. Acara di Mazzagena yang ia turut gawangi sendiri, memasuki menit-menit dimulainya. “Baiklah Be’, mungkin kita bisa ke bengkel ketok magic sekarang. Supaya kau juga tau berapa biaya yang mesti kau bayarkan. Aku tidak sedang memerasmu, Be. Percayalah, ini akan meringankanmu.” Jelas Cris. Tawaran Cris sudah cukup membantu. Be bertindak sebagai Dim dan bersedia bertanggung jawab.

Dim memaksakan kakinya berdiri menahan beban tubuhnya yang kecil kurus. Ia tidak tahu mesti berbuat apa dengan musibah itu sebelum Be menyuruhnya. “Sebaiknya kamu pulang saja istirahat.” Dim hanya mengagguk pada Be dan berlalu dengan temannya. Memang seperti itulah Dim. “Baiklah Cris, kita akan mengurus motor ini supaya keluar secepatnya dari kantor polisi.” Sekali lagi Be meyakinkan Cris akan tanggung jawab. Dengan mengeluarkan motor yang kini di tahan itu, berarti ganti rugi mobil Cris sudah ada. Ini rumus yang sebenarnya tidak begitu matematis. Be mantap, kemudian kembali ke Mazzagena. Memakai kembali jas birunya yang sebelum ke asrama ia tanggalkan. Acara sudah dimulai. Be melaporkan segala upaya kegiatan di lantai bawah cafe. Di belakangnya terpampang spanduk berukuran besar. Dihadapan komunitas, senior dan tamu, ia minta maaf atas keterlambatan.

Tentu saja, Dim tidak terlihat di ruangan itu. Ia fokus mengistirahatkan segenap jiwa dan raganya. Musibah yang sesungguhnya baru ada di depan mata. Kull hanya dititipi motor sementara waktu. Ia kini berhadapan dengan tikaman-tikaman kata orang kedua itu. Pemilik motor yang sebenarnya lebih murka. Keadaan seperti ini jelas meneror jiwa Dim. Seperti yang dialami Be tujuh tahun silam.

Namun, Dim masih menemui dirinya yang utuh. Ia tetap tenang. Seakan-akan tiada salah, tiada musibah dalam dirinya. Begitulah kelihatannya. Ia lebih banyak menyendiri dan berpikir lalu bermain-main dengan telepon genggam rongsokannya. Menelepon dan meminta nomor kontak jadi kesibukannya akhir-akhir ini.  Keluarganya berada di seberang pulau yang jauh di sana. Seakan-akan setiap langkahnya adalah pengharapan. Seperti ingin berkata. “Tenanglah, ini sudah dunia. Kalaupun aku lari, aku akan kemana?” Tetapi Dim, seorang pendiam yang lugu dan lihai. Be menyaksikan itu semua lebih dalam.

mm

Afdal AB

Mahasiswa semester akhir STAI DDI Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This