Menyiapkan Bekal Jalan Pulang

“…hari demi hari kulewati/usai sudah hukumanku/kuayung langkah kebebasan/kuhirup nafas kerinduan/kini aku pulang/semoga dapat diterima/ingin kubuktikan maknanya bertobat/…”

Ebiet G Ade – Orang-Orang Terkucil

*

Potongan lirik tembang di atas menceritakan kisah seorang narapidana yang hendak memulai hidup baru setelah melewati masa kurungan. Tantangannya, di luar sana, stigma mengenai mantan tahanan menjadi sandungan tersendiri.

Muhamad Sholeh tak dapat menyembunyikan kecut di wajahnya kala tampil berhadapan para tahanan. Hari itu, Selasa, 25 April ia ditugaskan Kemenag Pangkep mengisi bimbingan baca tulis Alquran.

Program ini merupakan bentuk kerjasama Rumah Tahanan Mattampa Pangkep dengan Kemenag guna memberikan bimbingan keagamaan. Ratusan penghuni lapas antusias mengikuti kegiatan yang, beberapa tahanan lelaki dipenuhi tato di tubuhnya meninggalkan segan tersendiri bagi Sholeh.

Tetapi, itu sudah menjadi tugas yang harus dijalani. Ia bersama dua rekannya, Nurbaya dan Nur Hasanah akan rutin memberikan bimbinga sekali sebulan. Penghuni lapas dari lelaki dan perempuan semuanya berhak mengikuti kegiatan ini.

Menurut kesaksian Sholeh, di antara tahanan ada yang masih remaja. Dan, mereka bahagia mengikuti jalannya kegiatan. Pada sesi dialog banyak yang tampil megajukan pertanyaan.Mereka sangat butuh bimbingan keagaman. Selama ini yang berjalan, siraman rohani hanya dilakukan sekali sepekan saja pada hari Jumat.

“Menurut salah satu tahanan, ia ungkapkan kalau pengetahuan agama sangat penting bagi penghuni lapas karena akan menepis kesalapahaman sesama tahahan yang biasanya berjung pada perkelahian,” ungkap Sholeh.

Bimbingan digelar di masjid rumah tahanan

 

Merenungi perjalanan hidup sebagai bekal di tapak kehidupan yang baru nantinya setelah bebas

 

Hidup dibui bukan halangan membangun dialog

 

Tak ada waktu terlambat belajar

 

mm

Arman Naim

Karyawan PT. Semen Tonasa, Musisi, dan banyak lagi profesi yang lain

X

Pin It on Pinterest

X
Share This