Menyerobot Kerajaan Gowa Ala Orde Baru

Tiga hari usai lebaran Iduladha, kisruh ihwal kerajaan Kabupaten Gowa masih terus berlanjut, sejumlah media pun menyajikan perkembangan berita update mengenai konflik antara pihak ahli waris tahta kerajaan Gowa, Raja Gowa ke-37 Andi Maddusila dengan Bupati Kabupaten Gowa, Adnan Purichta Ichsan.

Saya harus sampaikan dari awal, jika tulisan ini tidaklah serius, hanya canda-candaannya saja, kalau dibaca dan tersenyum ya syukur, tetapi jika nggak, sebaiknya dibaca dulu hingga tuntas. Jika tetap tidak bisa tersenyum. Ya, sudah, bukan urusan saya. Sebaiknya mungkin perlu ke dokter humor terdekat di rumah Anda.

Dari konflik tersebut, hal yang terlihat adalah kekompakan para keturunan kerajaan se-nusantara Indonesia, khususnya bagi kerajaan se-Sulawesi Selatan. Mengambil sikap dan memberikan pernyataan dukungan bahwa ada kekeliruan terhadap Bupati Gowa dengan penerapannya terhadap Lembaga Adat Daerah (LAD).

Ya, mungkin saja Bupati Gowa lupa soal kekuatan sejarah dari para keturunan raja-raja tersebut, ikatan emosional itu ada dan jelas. Saya agak ragu mengatakan jika para keturunan raja lebih kompak dibanding para bupati di daerah.

Para warga media sosial pun tak ingin ketinggalan berkomentar, menggunjing, mencaci, menertawakan, dan merepes. Tentu saja, semua itu karena melihat persepsi jika ada yang keliru dari sikap Bupati Gowa.

Nah, sekarang kita masuk pada penyerobotan, pengambilan hak ala Orde Baru. Di media sosial, saya menyimak perdebatan dua orang teman, memperdebatkan berita salah satu media online yang, isinya merupakan ucapan, pikiran, dan sanggahan dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Gowa, Anzar Zaenal Bate. Judul beritanya seperti ini: DPRD Gowa Tegaskan Tak Ada Pelantikan Bupati Jadi Raja, saya pun ikut membaca berulang kali isi berita tersebut. Dan, akhirnya saya tertawa sendiri.

“Karena posisi Peraturan Daerah (Perda) ini soal pelestarian adat istiadat dan budaya Gowa, lanjutnya, maka diketentuan umum, ada disebutkan Ketua LAD menjalankan fungsi ‘Sombayya’. “Karena sejak Gowa bergabung dengan NKRI, tidak ada lagi Raja ataupun ‘Sombayya’. Jadi Perda nomor 5 tahun 2016, bukan terkait pengangkatan raja, Perda ini tentang penataan lembaga adat dan budaya daerah,” ucapnya.

Saya tidak perlu menjelaskan lagi soal, apa itu Sombayya.

*

Untuk mengatasi krisis nasional yang semakin parah, maka pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno memerintahkan kepada Menteri/Pangad Letjend Suharto untuk, atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi mengambil segala tindakan yang dianggap perlu demi terjaminnya keamanan, ketenangan, serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi serta menjamin keselamatan pribadi dan wibawa kepemimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, demi untuk keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia,

Kemudian mengadakan koordinasi pelaksanaan pemerintah dengan Panglima Angkatan lainnya dengan sebaik-baiknya. Surat Perintah yang dikeluarkan pada tanggal 11 Maret 1966 itulah atau yang dikenal dengan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) kemudian dianggap sebagai titik awal Orde Baru.

Dikelurakannya Supersemar ini, secara politik dimanfaatkan oleh Letjen Suharto untuk membubarkan PKI (Partai Komunis Indonesia) karena dianggap sebagai sumber ketidakamanan serta ketidaktentraman masyarakat. Disinilah peranan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) semakin besar dalam perpolitkan di Indonesia terutama karena, Letjen Suharto menjadi pemegang Supersemar.

Sekali lagi, ini hanya tulisan candaan jangan terlalu dianggap serius! He.. he.. he..! Entahlah, apakah tujuan kehadiran Perda yang dibuat birokrasi dan para politikus di Kabupaten Gowa betul betul sesuai dengan isi tujuannya.

Ya, alur lahirnya Orde Baru pun seperti itu, awalnya mandat, memerintahkan, lalu konflik dan desakan muncul, hingga pada tanggal 12 Maret Jenderal Suharto diangkat melalui Ketetapan MPRS nomor XXXIII/MPRS/1967 sebagai Pejabat Presiden RI. Dalam ketetapan itu pula dinyatakan bahwa Presiden Sukarno telah, tidak dapat memenuhi pertanggungjawaban konstitusional dan tidak dapat melaksanakan haluan MPRS, sebagaimana layaknya mandataris MPRS.

Kita kembali lagi pada omongan ketua DPRD Gowa tersebut, ada benarnya juga, jika di Perda itu tidak ada yang menyatakan Bupati Gowa sebagai Raja Gowa atau Sombayya, baik itu poin perpoinnya. Namun yang lucu itu, jika memang benar terdapat ketentuan umum berbunyi: Jika Ketua LAD menjalankan fungsi Sombayya, seandainya bisa, saya ingin bertanya kepada Ketua DPRD Gowa, ini logika kata-nya bagaimana? Sejak kapan ya, keturunan Raja Gowa ke-37 tidak mampu menjalankan fungsinya menjaga dan sebagai pelestari budaya dan adat kerajaan Gowa. Kok, tiba-tiba, Perda ini lahir dan menyerobot hal itu.

Entahlah, apakah tujuan kehadiran Perda yang dibuat birokrasi dan para politikus di Kabupaten Gowa betul betul sesuai dengan isi tujuannya.

Ya, biar pembaca tulisan ini tahu, saya sedikit memberikan makna kata ‘Fungsi’ sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Fungsi sendiri memiliki arti dan makna sebagai jabatan (pekerjaan) yang dilakukan, contohnya: Jika ketua tidak ada, wakil ketua melakukan menggantikan ketua. Dan jika ditambah dengan awalan (ber) ‘Berfungsi’ maka jadinya: Berkedudukan atau Bertugas (Sebagai): Kepala bla…bla…bla… Dan, bla… bla…bla!

Saya tidak ingin menduga atau menggap jika kelahiran Perda LAD Kabupaten Gowa yang memiliki kekuatan hukum dipakai sebagai modus optatif ataukah modus imperatif, hingga perebutan hak dan kewenangan.

Dari beberapa film soal perebutan kekuasaan, caranya belum pernah saya menyimak memakai modus pelarangan atau aturan yang memiliki kekuatan hukum. Sebut sajalah di film Troy, Baahubali, atau Frozen Flower. Modus yang ada itu adalah, menguasai kekuatan militer, penghianatan, dan tentu saja kisah cinta, lalu akhirnya merebut kekuasaan.

Ya, pada akhirnya, di akhir tulisan ini, saya harus sepakat seperti apa yang diucapkan Budayawan Ishak Ngeljaratan mengenai kelahiran Perda LAD di Kabupaten Gowa, tentu saja tidak lepas dari motif kepentingan politik, tetapi soal penilaian ‘Kerakusannya’. Hemmm! Entahlah!

*

Foto: http://exploresouthsulawesi.com

mm

Badauni A Palinrungi

Dikenal sebagai anak muda yang doyan berbicara KBBI

X

Pin It on Pinterest

X
Share This