Menunggu Pesanan Putu Cangkiri Nenek Jaliah

Selepas asar, sejumlah penjaja makanan di tepi sungai Pangkajene mulai mendirikan tenda dan menata kursi. Seiring sore berganti senja dan perlahan malam datang, perjumpaan pedagang dan pengunjung makin terjalin.

Di sisa sore pada Minggu, 19 Februari, seorang perempuan tua turun dari bentor dan mulai menata tempat jualannya. Sebuah payung lipat ukuran besar yang biasa dipakai di tepi pantai mulai dipasang. Dua meja kecil disusun membentuk huruf L.

Di bawah payung besar yang dijadikan tenda itulah ia duduk dengan kompor gas di samping kanan dan di depannya lemari kecil bersusun dua tempat menyimpan kue putu cangkiri dagangannya.

“Saya menjual putu sejak Pak Baso,” ucapnya. “Pak Baso itu yang membangun patung tangan di sudut jalan.” Ia menerangkan lebih detail tentang bupati Pangkep yang menjabat pada 1994-1999 itu.

Keriput di wajahnya seakan bukan tanda lelah begadang hingga pukul sebelas malam. Ingatannya juga masih jernih. Ia bisa membedakan yang mana pembeli yang telah memesan lebih dulu lengkap dengan jumlahnya. Kedua tangannya gesit mengisi tatakan kue dan silih berganti memindahkan putu yang sudah matang.

“Dulu saya menjual hingga 30 liter. Sekarang cuma bisa 10 liter semalam.” Nenek Jaliah terus menyambung ceritanya tanpa perlu mengajukan tanya lebih lanjut. Bahan kue yang terbuat dari beras ketan dicampur gula merah sudah diolah di rumahnya di jalan Bolu, berjarak sekitar 500 m dari pinggir sungai Pangkajene.

Putu cangkiri ada dua warna. Cokelat dan putih. Tetapi Nenek Jaliah hanya menyajikan berwana cokelat. Hal demikian menurutnya hanya persoalan waktu saja. Jika sempat ia akan membuat bahan warna putih juga.

“Cucu saya akan datang membantu bila malam minggu karena besoknya libur. Di hari yang lain, selain cucu, anak atau menantu membantu mengantarkan bahan jualan dan menjemput bila sudah waktunya pulang.” Ini diucapkan Nenek Jaliah sambil menghitung uang kembalian pada pembeli.

Berbincang dengannya bukan hanya sekali. Setiap kali membeli putu yang harus diawali dengan mengantre mengingat dia seorang diri. Bercakap dengannya menjadi ruang jeda menunggu pesanan.

Dulu saya menjual hingga 30 liter. Sekarang cuma bisa 10 liter semalam.

Awal mula berdialog sekitar setahun lalu, saya mengenalkan diri sejak awal kalau berasal dari desa Kabba. Sebelumnya saya sudah tahu kalau kedua cucu perempuannya dari anak lelakinya yang sudah mangkat tinggal di Kabba.

Dengan pengakuan itu, jarak sudah tidak ada. Dg. Rohani, menantunya, masihlah memiliki talian keluarga dengan emak saya. Ia tersenyum mendengarnya. Ia akan bercerita saja mengenai kedua cucunya itu yang kini sudah membangun keluarga. Yang tua kini tinggal di Mamuju dan si bungsu mengikuti suaminya merantau di Manokwari, Papua Barat.

“Bila mereka mudik, ia akan datang menemuiku.”

Gerimis yang turun menunda sejenak aktivitasnya. Ia bangkit dari duduknya lalu meraih gulungan tenda plastik. Tenda itu itu sudah dilengkapi tali di ujungnya dan potongan bambu sekitar dua meter sebagai pemberat yang ditempatkan di bagian belakang. Rupanya digunakan untuk mengalasi payung besarnya yang sudah mulai sobek.

Ia mengerjakannya sendiri tanpa meminta bantuan. Namun, pembeli yang menunggu pesanannya matang tergerak membantu mengingatkan tali. Kini, ia sudah kembali duduk merampungkan pesanan. “Kalu hujannya deras, saya memilih cepat pulang saja.” ucapnya kemudian.

*

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This