Membunuh Kejahatan Melalui Passaungan Tau

Jika ingin melihat lebih dekat gunung karst di Pangkep, salah satunya bisa mengunjungi kampung Belae, kelurahan Biraeng, kecamatan Minasatene. Belasan gua yang telah dipugar seperti Leang kassi, Leang Pattennung, Leang Sakapao, Leang Kajuara, Leang Camming Kana, Leang Bulo Ri’ba, Leang Ujung Bulu, dan Leang Sassang menjadi daya pikat wisatawan lokal dan dari luar.

Adi Supriady, warga Belae yang aktif mengenalkan wisata karst dan terus mendalami jejak sejarah kampungnya, intens membangun dialog dengan Iwan Sumantri, Arkeolog dari Universitas Hasanuddin juga peneliti yang lain, menerangkan ada tiga tempat di Belae yang dulu menjadi kompleks peradaban kerajaan, yakni Tana Rajae, Pastanayya, dan Passaungan.

Ketua RT Belae, Haeruddin, memandu saya melihat sejumlah situs kebudayaan yang pernnah dijalankan di masa lalu. Ia menceritakan kembali perihal jalan tarung yang pernah terjadi. Dilakukan ketika ada warga sedang berselisih. Tahapan menyelesaikan persolan mulanya dilakukan secara musyawarah yang melibatkan yang bersangkutan juga pihak keluarga.

Lokasi musyawarah dilakukan di Leang Camming Kana, yang harfiahnya gua (leang) mencerminkan (camming) perkataan (kana). Di tempat itulah ucapan diagungkan untuk membuktikan kebenaran melalui argumentasi mempertahankan pendapat. Jika tidak ada titik temu, barulah kedua orang itu menyelesaikannya di Passaungan, lokasi untuk beradu fisik menaruhkan nyawa. “Riwayat yang dituturkan, sebelum orang itu disabung, keduanya dimandi terlebih dahulu di bujung to barania (sumur orang pemberani),” terang Ady.

Bulu kuduk saya berdiri mendengar cerita itu. Serupa kisah gladiator yang sering saya nonton dalam film. Manusia diaduh dengan manusia atau dengan hewan buas untuk membuktikan suatu hal yang amat pelik. Namun, passaungan tau (pertarungan manusia) di Belae ini menyimpan pesan tersendiri sesuai situasi hukum yang harus dijalani di era itu.

“Mungkin itulah sebabnya, orang menyabung ayam karena melihat adanya passaungan tau. Tidak terbayangkan jika hari ini masih berlangsung,” ucap Haeruddin yang ditugaskan khusus dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar untuk merawat situs di Belae.

Hikayat passaungan tau diceritakan kakeknya, Dg. Sere. Kakenya itu juga diceritakan dari orang-orang dulu. Begitulah cerita oral terus tersimpan dari generasi ke generasi. Bekas tempat passaungan tau itu masih bisa dijumpai, berupa gundukan tanah berbentuk lingkaran di sisi Timur Leang Bulo Ri’ba yang ditumbuhi pohon Kajuarayya dan dikeramatkan oleh warga.

Pertarungan hidup mati itu tidaklah seporadis menumpahkan amarah. Ada aturan yang harus dipatuhi sebelum kedua belah pihak telah yakin kalau itulah jalan terakhir yang harus ditapaki. Pihak keluarga tidak diperkenankan mendekati lokasi. Mereka hanya bisa menyaksikan dari jauh, di atas bukit Tanetea yang jaraknya ratusan meter. Tujuannya, agar keluarga tidak teraduk emosinya yang dapat mengantarnya terlibat dalam pertarungan. Ketika pertarungan sudah selesai yang berarti salah satunya ada yang tewas dan yang tetap hidup ditasbihkan di pihak yang benar, maka pihak keluarga yang mati tidak boleh mendendam.

Meski dalam duel menegakkan benang basah itu memakan nyawa, warga tidak melihatnya sebagai pembunuhan melainkan pemusnahan kejahatan. Itulah mengapa, senjata yang digunakan dilarang dibawa pulang ke rumah. Dan diharapkan, hanya itulah yang terakhir dalam pertarungan.

Senjata tajam milik yang telah mati, oleh keluarganya ditanam di bukit Tanetea sebagai bentuk duka. Sampai saat ini, jika menggali di tempat tersebut, benda itu dapat diketemukan. Namun, tentulah dilarang melakukannya. Masyarakat Belae melarang jika ada tindakan demikian, kecuali untuk kepentingan penelitian yang sudah mendapat persetujuan dari sejumlah pihak yang memiliki otoritas.

Meski dalam duel menegakkan benang basah itu memakan nyawa, warga tidak melihatnya sebagai pembunuhan melainkan pemusnahan kejahatan

Jalan tarung yang dahulu terjadi mengajarkan betapa kebenaran membutuhkan pengorbanan untuk ditegakkan. Ini bukanlah tontontan untuk menyenangkan orang-orang atau raja sebagaimana konsep gladiator dalam film. Nilainya tentulah berbeda, sebab diawali dengan musyawarah dan memiliki aturan yang jelas.

Bahwa passaungan tau sesungguhnya, merupakan jalan keadilan yang menjadi hukum dalam satu fase yang pernah dijajaki umat manusia di suatu tempat. Hal tersebut sudah lama sekali dan tidak berlaku lagi. Namun, hikayat itu terus hidup di benak masyarakat di Belae yang diceritakan turun temurun dan menjadi cermin hidup kalau manusia itu harusnya berjalan di atas jalur kebenaran. Bukan di jalan kejahatan.

*

Foto : Bekas tempat Passaungan Tau,  bagian lain terdapat bukit Tanetea, tempat menyaksikan Passaungan Tau.

mm

Riandra Ria Hamriah

Awal kemunculannya di publik Pangkep sebagai penyiar radio di tahun 2007-2010. Kemudian jurnalis di tahun 2011-2014.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This