Membincang Catatan Nhany di Pangkep Nol Kilometer

Spanduk sedang dipasang ketika gerimis berganti hujan. Beberapa pengunjung masih setia duduk dekat pintu masuk. Di sudut lain, sejumlah orang juga sedang duduk menanti dimulainya bincang buku.

Sore kemarin, Rabu, 24 Mei. Di Logos Resto & Café, tepat di titik nol kilometer Pangkep menjadi tempat bincang buku Catatan Nhany-Kuliner, Peristiwa, Perjalanan. Buku terbitan pertama Rumah Saraung.

Puluhan buku yang disimpan di atas meja perlahan berpindah tempat ke meja-meja yang lain. Mereka yang mengambil tak sabar ingin membacanya. Di tahun ini, inilah kali pertama ada kegiatan bincang buku di Pangkep.

Setelah soundsystem berfungsi, Archut tampil ke depan memulai kegiatan. Seperti biasa, ia memulainya dengan joke mengundang tawa. Pembicara dipanggil satu persatu mengambil tempat duduk di depan.

_

Nhany mengungkapkan kalau bukunya ini merupakan rangkuman catatan perjalanannya yang meliputi kegemarannya mencoba beragam jenis makanan, meski makanan favoritnya tetaplah bakso. Juga aktivitas menjalani koordinator program di lembaganya, Aisyiyah.

Lebih personal, Hj Hajati Fachrul, Ketua Aisyiyah Pangkep membeberkan jika Nhany memang dikenal perempuan gesit dan selalu ditemani pendamping dalam bekerja. Pendamping yang dimaksud oleh Bunda, sapaan akrabnya, ialah makanan.

“Jadi, wajar jika badannya melar,” ungkapnya kemudian yang disambut tawa.

Namun, ia sangat mengapresiasi atas terbitnya buku ini. Perempuan muslimah, penulis, dan masih lajang, katanya, masih sangat kurang. Nhany adalah salah satunya. Tawa berderai lagi.

Sedang Asran Idrus, banyak memberikan curah gagasan mengenai pentingnya mengubah kebiasaan kita dalam beberapa tahun terakhir ini yang doyan bermedsos ria namun miskin makna.

Ia tidak memungkiri kalau media sosial merupakan ruang alternatif menebar gagasan melalui tulisan. Hanya saja, banjir informasi yang ada di media sosial menjadi boomerang mengingat mudah dipelintir untuk kepentingan tertentu.

Berbeda dengan buku, tulisan yang termaktub memiliki asal usul jelas seperti penulis dan penerbit, sehingga dapat dijadikan data bila ada hal yang tidak disepakati di dalamnya. Penyemaian gagasan menjadi lebih bermakna.

Tak lupa ia menekankan kalau menulis itu tak bisa dilepaskan dari dunia bisnis. Buku yang diterbitkan tentu saja diharapkan dapat terjual. Dengan begitu ada gerak modal yang saling menunjang antara penulis dengan penerbit.

Menyambung penjelasan Hj Hajati Fachrul yang juga menekankan pentingnya data dalam penulisan sebuah buku. Data akan menjadi jembatan yang menempatkan posisi penulisnya agar tidak terjebak ke dalam titik keangkuhan.

Jika sekadar pandai merangkai kata tetapi miskin data mengeneai apa yang ditulis, tentulah sulit dijadikan acuan dalam membaca suatu peristiwa. Perlu diketahui di dalam buku ini, terdapat bab Peristiwa yang merekam sejumlah peristiwa sosial yang pernah terjadi di Pangkep.

M Farid W Makkulau, penulis sejumlah buku, memuji tulisan berjudul Balada Ambo Tang, warga miskin di Labakkang yang ketakutan berobat ke rumah sakit karena dihantui tingginya biaya. Memang, Ambo Tang yang sudah meninggal itu, kala sakit dulu tidak memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Etta Adil, sapaan akrabnya, menambahkan kalau perkembangan genre penulisan sudah sangat beragam. Ia mengukur dari dirinya yang semula wartawan sebelum menekuni menulis buku. Nhany, menurutnya, berangkat dari seorang blogger.

Ia mencontohkan beberapa tulisan mengenai kuliner di bukunya Nhany, jika wartawan menulis tentang rumah makan, umpamanya, yang ditekankan bukan pada enak tidaknya itu makanan, melainkan pada sehat tidaknya itu makanan bagi manusia.

“Nhany tidak berpijak pada pola 5 W 1 H, tetapi pada apa yang dia alami, rasakan, dan dilihat,” ungkapnya. Meski demikian, model penulisan terus berkembang sebagaimana pembaca. Buku Nhany akan tetap menemukan pembacanya.

Tepat yang dituliskan Zuklifli di kata pengantarnya: Buku selayaknya jodoh. Pada akhirnya akan menemukan pembacanya sendiri.

_

Foto: Dari kiri-Asran Idrus, Dra Hj Hajati Fachrul, M Farid W Makkulau, Nhany Rachman Khan, Archut (Dok. Hasbi)

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This