Membayangkan Gerakan Literasi di Pangkep

 

Sudah lima hari saya di Pangkep. Pengamatan saya, seperti tidak ada yang berubah. Begitu-begitu saja: kecuali kebaruan arsitektur rumah jabatan Bupati Pangkep dan Taman Musyafir yang semakin bau pesing.

Dulu, pemuda-pemuda Pangkep kerap memeriahkan daerah ini dengan begitu inovatif. Sehingga Pangkep lebih hidup. Lebih bergerak. Seperti menjamurnya komunitas suffle dance, juga komunitas skateboard. Meskipun komunitas seperti ini rada-rada alay, tetapi tetap perlu diapresiasi sebagaiman dahulu para pemuda kerap menggelar festival musik. Dari sini, Pangkep akhirnya terlihat lebih dinamis dan gemerlap. Sehingga dari sini pula, bermunculanlah bakat musisi para pemuda Pangkep.

Tetapi sekarang—sesuai pengamatan saya—para pemuda lebih stagnan. Kebanyakan menghabiskan waktunya di kafe, warkop, atau sejenisnya. Meskipun saya tetap temukan beberapa yang masih berjiwa inovatif. Seperti para pemuda yang berkecimpung dalam komunitas Pangkep Jappa-Jappa, bergerak dalam aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan.  Juga beberapa pemuda yang tergabung di Kelas Inspirasi Pangkep (KIP).

Artinya begini, hasil pengamatan saya bisa saja adalah temuan terbatas. Saya ini jarang pulang ke kampung sendiri. Namun, toh, jika itu benar,  mesti tetap bersyukur masih ada beberapa pemuda yang menghidupkan gerakan inovatif sehingga Pangkep tetap terlihat masih bernyawa.

Namun, adakah sesuatu yang lebih menendang yang bisa dilakukan oleh visi inovatif pemuda? Tidak hanya sekadar menari, bernyanyi, atau menelusuri gunung-gunung seperti yang dilakukan Pangkep Jappa-Jappa. Tetapi, menggalang aktivitas yang memiliki visi peradaban.

Sejak saya menggeluti aktivitas literasi di Makassar, saya pernah membayangkan ini: suatu saat Pangkep bergeliat di dunia literasi. Pemudanya membuka taman baca di sudut-sudut Taman Musyafir. Pemudanya juga aktif dalam dunia tulis menulis dan rakus membaca buku. Bayangan ini tidak lahir begitu saja, cika’. Dipengaruhi oleh konteks beberapa daerah di Sulawesi Selatan yang pemudanya mulai berbenah menuju dunia literasi.

Salah satunya adalah Makassar. Saat ini beberapa pihak sedang menebar virus-virus literasi di Kota Daeng. Geliat literasi di Makassar juga diikuti oleh pelbagai daerah yang lain. Semisal Barru, Enrekang, dan Palopo. Jika di Barru ada Barru Membaca, sedang di Enrekang ada Komunitas Literasi Massenrempulu. Sedangkan di Palopo ada komunitas menulis Sureq Institut, sedang di Pangkep?

Komunitas literasi yang saya sebutkan itu digerakkan oleh para pemuda. Sehingga bisa kita amati, ketiga daerah itu memiliki sejumput pemuda yang memiliki visi peradaban. Sejatinya Pangkep bisa juga seperti itu. Berdasarkan statistik rata-rata—hasil kalkulasiku sendiri-ji ini berdasarkan partisipasi aktif pemuda— para pemuda Pangkep memiliki progresivitas. Cuma untuk menggalang gerakan literasi, tak cukup hanya bermodal semangat dan progresivitas.

Mesti juga bermodalkan visi peradaban. Nah, rata-rata pemuda yang memiliki visi peradaban adalah mahasiswa. Guna memantik nyala literasi, mesti ditopang partisipasi aktif para mahasiswa Pangkep. Sebagaimana gerakan literasi di tiga daerah di atas yang digerakkan oleh mahasiswa.

Di Pangkep, setidaknya memiliki tiga kampus utama: STKIP Andi Matappa, Politeknik Pertanian (Politani), dan STAI DDI Pangkep. Artinya, secara kekuatan mahasiswa, Pangkep tidak kekurangan. Belum lagi kita menghitung mahasiswa Pangkep yang menggeluti akademik di Makassar. Tinggal bagaimana partisipasi aktif mahasiswa dalam memantik nyala literasi di Pangkep.

Ini perlu dilakukan segera. Sebab kalau bukan mahasiswa, siapa lagi? Nah, selanjutnya— meminjam perkataan Ali Syariati—dari mana kita harus mulai? Aku sedang membayangkannya.

mm

Muhajir MA

Jurnalis. Bergiat di Paradigma Institute Makassar

X

Pin It on Pinterest

X
Share This