Meleburkan Perbedaan di Sepiring Songkolo Bermandikan Palopo


Beberapa wilayah di Pangkep, penganan di hari lebaran Idul Adha tidak semua menyajikan burasa atau gogoso sebagaimana di hari Idul Fitri. Misalnya saja, di kelurahan Maccini, kecamatan Labakkang, sanak di sana memastikan kalau warga masih menyajikan songkolo na palopo sebagai menu wajib. Hal sama terjadi di kelurahan Balanakang dan Jagong, kecamatan Pangkajene.

Di kampung saya, Lokkasaile, kelurahan Mappasaile, juga kecamatan Pangkajene, sejumlah rumah tangga masih menjadikan songkolo na palopo sebagai hidangan utama. Songkolo (Makassar) atau sokko (Bugis) dibuat dari beras ketan yang dikukus dengan sedikit taburan garam. Sedang palopo terbuat dari campuran telur, gula aren, dan santan. Jika sudah matang, warnah merah gula aren mendominasi penganan ini yang menunjukkan manisnya rasa palopo.

Emak saya, menerangkan kalau songkolo na palopo sudah menjadi tradisi turun temurun yang selalu disajikan menyambut hari raya Idul Adha. Penjelasan serupa juga dituturkan warga dari sejumlah wilayah di Pangkep mengenai sajian ini. Dimaknai sebagai simbol menyatukan dua hal yang berbeda.

Songkolo yang terbuat dari beras ketan, dimaknai sebagai makanan pokok yang biasanya disantap dengan lauk pauk. Palopo merupakan jenis kue yang berkuah dijadikan sebagai paduan. Jadi, palopo itu disiramkan di atas permukaan songkolo. Jika dimakan, menawarkan dua rasa berbeda sekaligus.

Karena lebaran merupakan jedah dari sejenak rutinitas dan menjadi ruang untuk saling mengunjungi atau biasa disebut massiara (Bugis) guna saling meminta maaf jika saja ada khilaf yang lahir karena perbedaan. Itulah makna sosial dari songkolo na palopo yang menyatukan dua hal yang berbeda.

Kaitannya dengan Idul Adha yang juga dikenal hari berkurban. Dinisbahkan dengan  mimpi Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembeli Ismail, putranya sendiri. Hal tersebut kemudian digantikan dengan kibas sebagai pengganti Nabi Ismail. Kehadiran songkolo na palopo ini sebagai bentuk syukur atas keihklasan Ismail.

Makanan khas ini juga bisa dijumpai dalam prosesi pernikahan adat Bugis dan Makassar di Pangkep. Meski tidak wajib, sejumlah keluarga yang pernah saya saksikan menyajikannya di acara mappacci botting atau ketika mempelai lelaki menemui pasangannya yang disebut ulu erang sebagai simbol penyatuan dua anak manusia.

Penyajian songkolo na palopo terbilang dinamis saja. Tidak harus di hari raya Idul Adha atau pernikahan. Kerabat saya dari kabupaten Soppeng, menyampaikan kalau makanan ini dihidangkan kala menggelar syukuran sebagai simbol banyak rezeki.

Bahkan ada daerah di Pangkep, tepatnya di desa Kabba, kecamatan Minasatene, membuat songkolo na palopo bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu hari raya atau adanya hajatan.

Kembali ke tradisi penyajian songkolo na palopo di kampung saya. Keluarga jauh, tetangga, atau kerabat yang bertandang ke rumah. Akan disambut dengan dengan penganan ini.

Tetamu akan mengambil songkolo sebisa yang dimakan ke piring lalu dimandikan palopo sebagai pegantar mengingat perbedaan yang pernah merenggangkan hubungan. Dan, semuanya melebur ke dalam empuknya songkolo dan manisnya palopo.

mm

Riandra Ria Hamriah

Awal kemunculannya di publik Pangkep sebagai penyiar radio di tahun 2007-2010. Kemudian jurnalis di tahun 2011-2014.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This