Media Sosial, Negara, dan Sikap Kita

Kehadiran media sosial yang begitu mudah dijangkau semua kalangan, telah menjadi jawaban dari doa penganjur kebebasan sejak abad ke 14. Traktat itu bisa dilacak sejak abad pencerahan hingga revolusi industri melanda Eropa.

Bahkan, jika harus mengaitkan dengan sebab mula mengapa manusia perlu mengedepankan pendapat di dalam kehidupan bermasyarakat, maka barang tentu berhulu pada anjuran filsuf dari Yunani, Aristoteles, Plato, dan Socrates jika harus menyebut nama.

Semua itu ada proses yang dialami hingga sampai pada tahap sekarang. Sialnya, kita di Indonesia seakan, atau sama sekali tidak ada proses yang dijalani hingga kemudahan teknologi mengajukan pendapat di ruang sosial dapat diperoleh dengan mudahnya di sejumlah gerai gawai. Tidak ada interaksi literasi dan perenungan. Tiba-tiba saja semua ada di depan mata.

Aplikasi media sosial yang begitu banyak dan diakses melintasi garis batas telah menjadi perhatian oleh negara agar perlu diatur dalam regulasi. Negara dalam hal ini mencoba menghadirkan katarsis dari puncak kebebasan itu sendiri. Undang Undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Kehadiran UU ITE ini tentu bukanlah perangkat regulasi sempurna dalam memberikan perlindungan bagi masyarakat. Sebagaimana media sosial, UU ITE tak ubahnya pisau bermata dua.

Saban hari kita menggunakan media sosial mengabarkan beragam hal. Di tengah gempuran banjir informasi dari maraknya media online, dengan mudah dapat langsung dibagikan. Nah, persis di situ, banyak netizen tanpa perlu mengedepankan akal sehat menerima informasi dan langsung membagikannya.

Sialnya, kita di Indonesia seakan, atau sama sekali tidak ada proses yang dijalani hingga kemudahan teknologi mengajukan pendapat di ruang sosial dapat diperoleh dengan mudahnya di sejumlah gerai gawai.

Di posisi itulah media sosial menjadi pisau mata dua yang dapat menjadi senjata menyuarakan pendapat dan dapat menjadi boomerang pada diri sendiri jika apa yang dilakukan mendapat tantangan dari pihak yang merasa dirugikan. Sudah banyak sekali kasus mengenai hal ini, bahkan kita sendiri tak sadar terlibat di dalamnya.

Ada banyak sekali pemicunya, termasuk hal kecil yang dianggap biasa. Bahasa, umpamanya, dianggap sebatas media komunikasi lisan dan tertulis saja dalam menyampaikan suatu hal. Padahal tidak demikian. Justru, di banyak kasus, persoalan bahasalah yang menjadi pemantik konflik di media sosial.

Hal inilah yang menjadi topik dalam dialog di Sumpangbita Youth Camp (SYC) 2016 dengan menghadirkan wartawan yang bertugas di Pangkep, penggiat sosial, dan netizen. Dialog dipandu seorang anak muda yang menghadirkan perpustakaan jalanan pertama di Pangkep, Rahmat HM.

baner-dialog

Pemantik diskusi:

Subhan Muhammad (Wartawan Makassar Terkini dan Blogger)

Pentingnya media online mewartakan informasi berkualitas dan tidak sekadar memantik pembaca untuk mengelik hanya karena judul yang membuat penasaran namun isinya tidak mendidik.

Syaiful Mujib (Wartawan Lintas Terkini dan Blogger)

Mengetengahkan perlunya netizen menggeledah media online yang dapat dipercaya sehingga dapat dijadikan rujukan dalam menerima informasi yang faktual atas isu tertentu.

Asran Idrus (Penggiat Sosial)

Media sosial sebagai ruang merancang perubahan sosial yang bertanggung jawab pada isu kemanusiaan juga menjadikannya selaku ruang publik maya dalam merayakan kebebasan yang bermartabat kaitannya dengan kehadiran negara melalui regulasi UU ITE No 11 Tahun 2018.

Badauni AP (Penggiat Sosial dan Penulis)

Puncak dari perayaan kebebasan berpendapat ialah, menjadikan dan menggunakan bahasa pada logika yang tepat. Bahasa yang keliru akan menimbulkan ragam persepsi yang ujungnya juga keliru. Di sinilah pentingnya bahasa sebagai media komunikasi yang digunakan dalam mengajukan pendapat.

Misbah Maggading (Pegiat Sosial dan Sekjend KKDP)

Perlunya menyampaikan pendapat di media sosial sebagai percepatan informasi mengabarkan ketimpangan pelayanan publik. Menceritakan pengalaman sebagai pihak yang dilaporkan (korban) dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Muhamad Ramli Sirajuddin (Pegiat Sosial)

Merefleksikan kehadiran media sosial sebagai kekuatan baru dalam perubahan dan mengupas tentang sikap antar generasi terhadap geliat interaksi manusia di tengah kedigdayaan teknologi informasi.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This