Lihatlah, Diskriminasi Masih “Mereka” Lakukan di Desa

Entah bagaimana caranya//Desalah masa depan kita//Keyakinan ini datang begitu saja//Karena aku tak mau celaka

Desa adalah kenyataan, kota adalah pertumbuhan//Desa dan kota tak terpisahkan//Tapi desa harus diutamakan

Desa-Iwan Falls

*

Penekanan dalam potongan lirik lagu di atas jelas, bahwa desa harus diutamakan, diperhatikan, dan perlu dimanja. Bukan malah dimunafikan dan menjadi tempat pembodohan atau diskriminasi.

Jika Anda pernah berkunjung ke satu desa lalu menyempatkan berjalan berkeliling desa, tentulah Anda mendapat sambutan senyum ramah masyarakat walaupun mereka tak mengenal siapa Anda. Selain senyum, Anda juga menikmati sejuknya udara bila desa yang dikunjungi berada di daerah dataran tinggi.

Sebenarnya, tulisan ini tidaklah penting karena hanya sedikit menyentil dan mencubit bagi para penguasa yang memiliki wewenang dan mendapatkan tunjangan dari negara (baca; Kepala Desa beserta isi-isinya). Sebelumnya, saya juga meminta maaf sejak awal kepada Kepala Desa yang membaca tulisan ini.

*

Hujan yang mengguyur pukul 08.30 Wita, menambah dinginnya cuaca di pagi itu, kabut pun tampak jelas di depan mata. Ya, dingin begitu berasa di badanku. Dan, seperti biasa, saya tetap saja menatap liar pelbagai pemandangan di depan mata: perempuan muda, pohon, dan juga para pendaki yang ingin mencapai puncak gunung bersama rombongan mereka.

Acara yang saya akan ikuti berlangsung pukul 09.00 Wita. Namun, saya harus sadari bahwa waktu takkan pernah tepat waktu. Apalagi kegiatan itu berlangsung di kantor pemerintahan desa.

Sambil menunggu para undangan yang, menurut panitia bakal dihadiri mayoritas petani, saya membantu panitia menyiapkan segala kebutuhan acara itu. Memasang spanduk, menata kursi, dan yang lainnya. Mereka tahu, jika lembaga kawan saya ini yang mengajak dalam satu kegiatan, maka saya tak dapat menolak.

Sejam telah berlalu. Hujan terus saja mengguyur. Mataku liar menatap hiasan yang ada di ruang pertemuan kantor desa itu, beragam poster informasi menghiasi dinding termasuk foto seorang tokoh nasional dengan senyum semringah, juga terlihat terpasang.

Usai melihat dan mengamati hiasan itu, akhirnya saya mengambil kesimpulan jika selama ini aparat pemerintah desa masih melakukan diskriminasi terhadap kelompok tertentu dalam masyarakat. Sadar atau tidak, tahu atau tidak, hal itu juga membuktikan jika pemerintah desa bersama para isinya tidak cermat dalam hal kecil yang sangatlah penting! Selain itu, saya juga berfikiran, menduga jika 65 desa yang ada di kabupaten tempat tingga saya, Pangkep, masih melakukan hal yang demikian juga.

Pernahkah? Anda melihat pajangan kalimat ini: Cacat Mental dan Fisik pada profil desa yang bangga dipajang dengan harapan untuk memberikan informasi kepada siapa saja yang berkunjung di kantor pemerintah desa itu.

pengucapan dan penggunaan kata cacat itu memiliki makna yang berkonotasi negatif, apalagi jika disematkan pada manusia

Ya, bagi yang tidak tahu, mungkin akan menjadikan informasi sebagai angka, bahwa yang tercatat dalam kolom informasi sekian jumlah warga yang megalami cacat mental dan fisik. Tetapi bagaimana? Bagi yang tahu makna dan arti cacat mental dan fisik itu. Ketahuilah, semua ciptaan Tuhan itu baik dan sekali lagi, ketahuilah jika dihadapa-Nya semuanya sempurna.

Mau tidak mau, pengucapan dan penggunaan kata cacat itu memiliki makna yang berkonotasi negatif, apalagi jika disematkan pada manusia. Pernahkah Anda mengintip makna cacat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jika tidak, silakan intiplah.

Dan, apakah ada manusia yang ingin diberikan lebel sebagai seperti benda ‘Rusak’ atau ‘Lecet’, jawabannya, pastilah tidak ada manusia satu pun yang menginginkan pelabelan demikian. Mereka itu manusia sama dengan saya, kamu, dan mereka. Persoalan kehidupan itu tergantung dari kemampuan insannya bagaimana dirinya bertahan.

Sebaiknya tulisan dengan frasa: Cacat Mental dan Fisik yang menjijikan namun bangga dipasang itu ditutupi (diganti) saja dengan tulisan yang lebih layak, yakni: kaum difabel, sebagai sebutan yang lebih memanusiakan.

mm

Badauni A Palinrungi

Dikenal sebagai anak muda yang doyan berbicara KBBI

X

Pin It on Pinterest

X
Share This