Lentera Institute, Terlahir Menyembuhkan Luka dan Menuntaskan Dendam

15 Juli tahun 2011 silam, sejumlah orang-orang mendapati kedua matanya melihat dengan jelas kota kecilnya tumbuh merangkak. Kota yang kira-kira merekam hampir seluruh jejak waktu mereka.

Meski tak ada pengakuan yang jelas. Di sela perbincangan sederhana yang sering mereka lakoni. Terkadang memang, mereka berbicara jauh lebih hebat ketimbang deklator negara ini sembari menertawakan sepetak laku para pejabat di kota kecil mereka.

Tentu saja mereka tertawa seusai salah seorang di antara mereka mengeluarkan kalimat satir. Sekaligus itu kepura-puraan dan bersembunyi di balik kepulan asap rokok yang semakin membuat gigi-gigi mereka menguning juga bibir perlahan hitam.

15 Juli tahun 2011. Mereka kira itu kepura-puraan yang serius. Seserius ketika hari-hari sebelum tanggal itu mempertemukan mereka di sebuah ruang yang beberapa di antara mereka menjadikannya rumah singgah.

Mereka duduk bersila sambil menyapa dan mencoba menyatukan suatu harapan. Suasana begitu serius dengan sebatang rokok masing-masing sudah tersulut diapitan jari telunjuk dan jari tengah. Berlomba menyesaki ruangan dengan kepulan asap dari ragam merk rokok yang ada. Tetapi, mereka sepakat, bukan itu yang lebih membuatnya serius. Adalah dua bungkus martabak dan sejumlah minuman kemasan yang menguatkan mereka duduk berlama-lama melawan dinginnya lantai tegel.

Untuk menutup kepura-puraan yang serius itu, beberapa di antara mereka mencoba berbicara serius dengan membuka peristiwa masa lalu di mana mereka selalu terbaring kaku untuk merayakan kekalahan. Ya, selalu saja kekalahan, karena tak sedetik pun mereka pernah memenangkan suatu pertarungan. Dan, mereka kira, itulah alasan mengapa 15 Juli 2011 mereka membuka beberapa luka yang selalu saja mengundang tawa.

Perlahan kemudian, sebungkus, dua bungkus, hingga berbungkus-bungkus rokok dan puluhan minuman kemasan berserakan di sudut ruangan. Martabak pun sudah ludes lebih dulu, tenggelam di perut dan terlelap di sana. Namun, dingin malam 15 Juli 2011 makin kuat. Mereka diam. Berfikir keras. Lebih keras dari semangat menghamburkan pesan pendek gratis dari salah satu di antara mereka yang mengabarkan akan pentingnya pertemuan malam 15 Juli 2011 itu. Suasana hening. Hanya ada seorang mengisap rokok sebagai bukti kalau malam itu wajib mengadakan berbungkus-bungkus rokok dan sekarton minuman kemasan lagi. Lagi dan lagi.

Tetapi mereka sepakat kalau malam itu harus lahir keputusan untuk menyelamatkan sesuatu yang sedang tumbuh. Sejumlah masa lalu telah menelan mereka dalam-dalam. Dan esok, adalah sisa waktu membiarkan telinga, mata, hidung, tangan, kaki, dan kepala mereka tumbuh secara layak. Sebagaimana janji dalam kitab suci: Perubahan itu akan datang jika kaum itu sendiri yang mengusahakannya. Sebenarnya, tak sepenuhnya mereka fasih mengeja teks itu. Karena bisanya mereka bertingkah konyol. Mengulang teks kitab suci hanya untuk mengusir ketakutan di lengangnya malam.

Mereka diam. Berfikir keras. Lebih keras dari semangat menghamburkan pesan pendek gratis dari salah satu di antara mereka yang mengabarkan akan pentingnya pertemuan malam 15 Juli 2011 itu

Mereka kira, pesan pendek yang mengguncang saku celana dan seketika mengubah seluruh jadwal yang sudah disusun untuk menggantinya dengan datang membawa wajah pucat mereka di malam 15 Juli 2011. Juga merupakan usaha mengganti defenisi takdir yang sudah telanjur mereka terima begitu saja dari bangku sekolah atau khotbah Jumat yang selintas mereka dengar jika melintas di depan masjid.

15 Juli 2011 adalah pilihan. Begitu juga lipatan hari setelahnya. Kebenaran itu tafsiran kesadaran mereka, makanya selalu saja ada perbedaan. Lalu apakah mereka selalu mau bertahan pada kelucuan sebagaimana yang selalu dijumpai di spanduk perayaan hari besar keagamaan di masjid. “Dengan semangat peringatan Isra Miraj. Kita tingkatkan ketakwaan dan kecintaan pada agama. Sungguh pengulangan menyedihkan. Kemiskinan kosa kata jauh lebih berbahaya dibanding kemiskinan akan harta benda. Sayangnya, keduanya selalu lalai dirawat.

Kini, sudah empat kali 15 Juli itu dilewati. Tumpukan hari itu, mereka kira sudah berjalan melewati tanggul yang dulu mereka rancang sendiri. Melompatinya sendiri-sendiri atau terkadang, mereka melakukan varian lompatan secara bersamaan.

“Sudah lama kita diam dan asyik sendiri, mari kita lahirkan kembali untuk menyembuhkan luka dan menuntaskan dendam,” ucap Ahyar Manzis, Direktur Eksekutif Lentera Management yang kini bermetamorfosisi menjadi Lentera Institute.

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This