Lelaki Laut

Di jalan menuju pertigaan tengah kampung, seseorang mendorong gerobak dengan tertatih. Dari parasnya, usianya masihlah sangat muda. Hanya saja matanya sayu diserobot matahari pagi yang menyingsing di sela dedaunan kelapa tepi pantai. Di atas gerobak, terdapat drum bekas minyak kapal terisi penuh dengan air. Pemuda itu terus berupaya mendorongnya.

Keringat kini mengucur dari tiap akar bulu di badannya, gerobak masih disitu saja. Hampir tak bergerak. Beranjak senti per senti. Orang di kampung larut dalam aktifitas, seperti bergantian melintasinya. Satu dua orang yang berlalu menyempatkan menoleh seadanya.

Masa pendudukan jepang di Republik, pribumi dikerahkan berkerja untuk penjajah. Begitu ungkap guru sejarahku di kelas  tempo hari. Aku mula membayangkan situasinya masa silam kejam itu antara tahun 1942 sampai 1945. Aku mendengar ada sebutan romusha. Istilah ini masih akrab di telinga. Mereka itu petani yang dipekerjakan atas nama kesukaan dan kerelaan. Bila tak suka dan enggan untuk merela, mereka dipaksa.

Tetapi, Marwan, pemuda itu bukanlah romusha. Ia telah lama meninggalkan abad 19  tanpa perlu ia pahami jalannya. Hidupnya jauh dari hiruk pikuk gaya hidup manusia milenia. Debur ombak dan derit suara mesin-mesin abadi jadi asupan memperkaya jiwanya. Juga aroma kotoran manusia kerap menyeruak dari bibir pantai belakang rumahnya. Malam kemarin, ia baru kembali dari mengapung di samudera. Kelelahan selama bekerja membikin keadaan di kepalanya mengalami gangguan yang mengancam. Ia langsung menghamburkan diri ke bangkar emaknya di lego-lego. Paginya, ia dijemput cemas. Cemas yang tidak ringan.

“Dorong terus, Nak, ayo dorong. Jangan malas.” Perempuan lansia di belakang Marwan terus menyusupkan semangat padanya. Di mata dan bibirnya mendesak terbitnya harapan. Di sana ada tangis beku coba mengintip

Pemuda itu disiplin pada setiap ucap kata dari emaknya. Juga senyum senantiasa melekat di bibirnya pada sesiapa saja yang memalingkan wajah padanya. Ada semangat membara diantara rintik keringat di wajanya yang jatuh. Sementata tangan kekarnya tetap bersikukuh dengan setir gerobak.

“Padahal, saya sudah berulang kali peringatkan. Kamu pulihkan dulu keaadaanmu sebelum turun. Tetapi memang, kamu dasarnya tak mau mendengar, beginilah jadinya.” Teriak Nurham dari dekat sumur tak begitu jauh dari pinggir jalan.

Nurham yang merangkul Marwan ke rumahnya setibanya di pesisir malam kemarin. Marwan hanya melayangkan senyum sembari menggigit bibirrnya seolah gigitan itu mentransferkan tenaga pada kakinya. Nurham lalu bergerak mendekati Marwan. Anak ini hanya mengenakan cawat dan menenteng timba yang ia pakai menyauk air di sumur.

“Istirahatlah dulu. Ini sudah siang. Saya akan menggendongmu ke sumur dan memandikanmu.”

Marwan melepas senyum kepada temannya itu bersamaan lepasnya tangannya dari gagang gerobak memindahkan di kedua lututnya. Menatap lurus ke tanah. Beberapa saat ia bertahan di sana pada tatapan kosong. Berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal namun lebih dekat kepada merenung.

*

Di geladak kapal, Armin merapikan slang dan botol-botol penyemprot ikan. Satu di antaranya harus ia relakan berlalu terseret arus sewaktu kapal diterpa ombak. Robi, panggilan samaran di kampung sang nahkoda, meliarkan pandang ke segala arah. Bersiap jika suatu waktu ada satuan armada pengamanan laut mengintai mereka.

Ia kelihatan tak sabar. Sedikit-sedikit ia menyuruh Armin memanjat ke tiang penyangga layar kapal untuk memastikan tak ada kapal yang aneh mendekat. Dari radio satelit di kapalnya ia memperoleh informasi. Lima hari yang lalu, salah satu perahu motor penyelam di tahan kelompok keamanan pulau setempat. Dari titik mereka sekarang hanya berjarak sekitar lebih tiga puluh mil dari pulau itu. Celaka. Kapal, botol semprot, pupuk dan potasium sianida mereka juga turut dibajak. Dalam perkembangannya, sang punggawa kapal mesti membayar mahar enam juta dalam perkara ini. Sedang mereka belum sehari bekerja.

Armin tak memberi tanda-tanda adanya kelainan di sekitar wilayah kerja mereka. Robi kembali duduk di kursi kemudi kapal. Sebenarnya hari tengah menjelang senja. Mereka berlima dalam kapal. Dua orang penyelamnya, Nurham dan Oji sudah beristirahat di kabin. Bersiap untuk bertolak ke Makassar. Tetapi Marwan, penyelam andalannya masih dalam operasi.

Robi menatap layar alat pengukur kedalaman di hadapannya. Kedalaman 29 depa. Ia menyulut rokok Surya yang kemasannya basah dan menyuruput kopinya lalu keluar menemui Armin yang berjaga sendiri di geladak.

“Beri kode ke Marwan. Ia sudah hampir sejam di bawah. Kalo tidak juga mau naik, tarik paksa saja.” Tegas Robi.

Armin kemudian menghentak-hentakkan slang berulang-ulang. Itu kode kalau situasi sedang genting sehingga penyelam akan menghentikkan pengejaran ikan di bawah laut. Sandi ini juga biasanya digunakan, misalnya, sedang ada kapal lain mendekat yang mereka tidak kenali. Atau ada rekan yang tidak sehat sehingga harus dilayangkan ke darat.

Butuh beberapa menit saja Armin sudah berhasil menarik Marwan ke permukaan.

“Kenapa?” Tanya Marwan sembari menyerahkan keranjang ikan pada Armin untuk diturunkan ke bak kapal.

“Tidak ada apa-apa. Juragan memerintahkan untuk menarik. Sudah hampir sejam kau di bawah. Istirahatlah dulu.” Terang Armin.

“Iya, Wan. Istirahat dulu.” Teriak Nurham dari kabin.

“Sedikit lagi. Aku baru saja menyemprot beberapa ekor sebelum naik tadi. Ukurannya lumayan besar. Sayang, kalau tidak diambil.” Singkat Marwan. Ia  kembali menyeburkan dirinya ke laut dan melesat ke bawah dengan sigap.

“Wan, istirahatkan dulu dirimu sejenak, Oe!” Geram Nurham. Telat. Marwan telah lenyap ke dalam laut. Tidak ada lagi suara. Armin kembali pada posisinya menjaga slang.

Sore kian menua. Matahari sedikit lagi lenyap ke dalam permukaan air laut. Ada tawa yang mengintip keluar kabin. Dua orang anak buah kapal dan seorang juragan membincang sesukanya. Tak ada kebahagiaan bagi mereka di atas laut selain senja yang nyata di hadapannya. Mereka tak pernah bosan. Selalu ada kepingan rindu menyapa sembari menanti saat kembali ke pelukan istri dan tawa anak-anak mereka.

Sudah lima hari lamanya mereka terombang-ambing di tengah samudera. Marwan pernah bercerita di suatu malam ketika ia bersama Oji tak mendapat kantuk semalam suntuk.

“Masa muda kita apa akan selamanya di laut, kawan. Rasanya saya masih ingin menikmati masa muda ini. Dimana saja tanpa mesti di antara bebatuan dan kerapu melulu. Pulang nanti, mungkin saya akan cari-cari motor dululah.” Marwan begitu bersemangat malam itu.

“Ah, itu alasan kamu. Bilang saja kau bosan digandeng pakai Honda Revo bututku.” Oji memancing tawa di sisa malam itu. Membuat sumbang lirih angin yang memenuhi ruang sarung mereka. Debur ombak yang pecah menemui badan kapal waktu itu, akhirnya jadi juga pengantar lelap kedua anak pesisir ini.

Gelap menyapu sekujur tubuh semesta. Termasuk badan kapal. Armin terlihat sibuk lagi menarik slang. Itu berarti selepas Marwan naik, kapal segera akan berpacu menuju Makassar.

“Min, cepat ambil keranjang ini. Sepertinya saya terlalu lama di bawah. Penglihatanku gelap.” Ucap Marwan pelan. Ia melepas semua perkakas selam yang melekat di badannya dan mematung beberapa saat. Menarik nafas perlahan. membuang dengan perlahan.

“Wah, santailah, ini memang sudah sore, Wan. Juragan tadi bilang ….”

“Armin!!”

Marwan tiba-tiba menyalak. Suaranya kemudian kian kecil. Pelan dan lemah. Hampir hilang.

“Armin…!!”

“Armin…!!”

Lehernya seperti patah. Kepalanya jatuh kebelakang. Lengannya lemas hampir tak bisa lagi menopang badan kekarnya.

Armin melompat ke arah Marwan bersamaan dengan teriakannya memanggil sang juragan.

“Robiiii ….!!!”

Tak sampai semenit, Robi, Nurham dan Oji sudah berada di sisi Armin. Mereka diliputi kaget.

“Ambilkan air putih. Cepaat!!”

Perintah Robi tanpa perlu bertanya apa yang sedang terjadi pada Marwan. Sementara Armin menatap posisi Marwan untuk berbaring, Robi menghela nafas panjang. Hasilnya, ia berhasil menenangkan dirinya. Ia lalu merapal mantra dan meniup sekujur tubuh Marwan. Setelah itu ia melompat ke kursi kemudi.

“Nayalakan mesin…!” Tegasnya, setelah cemas mencoba kembali ke dalam rongga dadanya. Raung mesin mula memenuhi semua ruang di kapal. Asap hitam tebal mengepul di belakang. Armin masih bersama Marwan di geladak. Seluruh titik sensitif pada tubuh karibnya itu sudah ia beri rangsangan tetapi ia masih juga tak bergumam. Masih terkulai lemas.

“Marwan, katakan kau baik-baik saja. Sedikit lagi kita tiba. Bangunlah. Tabunganmu mungkin sudah cukup memberli sepeda motor. Aku pasti bantu kamu. Bangunlah dulu sebentar.” Bisik Armin. Ia yakin Marwan menyimak semua ucapannya.

“Katakan. Katakan, saudaraku. Apa yang kau inginkan dariku.”

Nada ucapan Armin meninggi dan wajahnya kian merapati wajah Marwan. Dan, untunglah.

“Kepalaku …”

“Kepalaku pusing berat. Mataku tak bisa kubuka, Min.” Keluh Marwan di sela deru mesin yang menggila. Robi, sedikitpun tak pernah menurunkan laju kapal.

“Tenanglah. Kau akan kubantu berdiri. Kau tak boleh tidur. Ayo, sini.”

Armin memapah tubuh sahabatnya dan memaksanya berdiri. Ia menggigil kedinginan dan tubuhnya lemas. Perutnya telah berulang kali memuntahkan isinya. Ia tak bisa membuka matanya. Vertigo menyerangnya dengan telat.

Nurhan datang menawarkan air hangat kesekujur tubuh Marwan untuk mengurangi rasa dingin.

“Tak lama lagi kita tiba di darat. Ingat. Jangan tidur sedikitipun setelah ini.” Sekali lagi, Nurham menginstruksikan.

Nurham teringat pada Mamat. Orang yang banyak mengajari dasar menyelam dan mengolah pernafasan dari dalam menuju permukaan air. Keadaan ini banyak penyelam mengentengkan hingga fatal jadinya. Hal yang sama terjadi pada pengajarnya itu. Tetapi, vertigo hanya dua kali menantangnya. Setelah itu ia pamit pada anaknya berumur 5 bulan dan istrinya untuk selamanya. Ena, istrinya, kini menjadi janda remaja seperti puluhan perempuan lain di pulau ini yang, para suaminya memilih basah dalam hari-hari terakhir menjumpai Tuhan.

Kapal berlabuh tenang di dermaga. Telinga berciut hampa ditinggal bunyi yang menggila. Dari balik semak, membuat kesan seram. Bulan belum lagi berhias. Tak ada kesan penyambutan dari apapun di peisir. Seperdua malam di kampung ini bagai kuburan. Nurham mantap bersiap turun memapah Marwan.

“Antarkan Marwan ke rumahnya. Atau langsung saja ke warung. Di sana akan lebih menjanjikan untuk begadang. Pesan saja makan, sebentar saya akan menyusul dan menyelesaikan bayarannya. Kita akan menitip hasil tangkapan pada orang. Makassar tak akan kemana-kemana.” Kicau Robi dari dalam bak.

“Saya merasa lebih baik, Rob. Sebaiknya kapal tetap ke Makassar  malam ini. Ikan-ikan akan teler bila terlalu lama di bak sempit. Saya akan berjalan ke rumah sendiri saja. Percayalah, saya tidak baik-baik saja.”

“Siapa yang mengajarimu menyangkal kata orang tua.”

Robi memproklamirkan kekuasaannya atas anak buahnya. Nurham terhenyak dan berbalik. Ia memahami kondisi jiwa punggawanya. Dua tahun bekerja sama, lumayanlah untuk memhami lelaki dua anak itu punya persediaan kemarahan yang memadai bila ia mulai ditentang. Mereka berdua berbalik dan lenyap ke dalam gelap.

Marwan tetap bersikukuh tak ingin Nurham menyertai hingga ke rumahnya. Ia berkali-kali meyakinkan Nurham soal ketahanan dirinya. Namun, ia luput satu hal. Usai mual dan pusing menghinggapinya tadi, ia belum melakukan buang air kecil. Keadaan ini isyarat. Semua nelayan khatam perkara dominasi hawa dingin dalam tubuh biasanya menyulitkan penyelam buang air kecil. Tekanan air dalam laut menghimpit saraf dalam organ tubuh. Peredaran darah menjadi terkendala.

Mungkin memang ada baiknya menyenangkan hati banyak orang. Harapannya, kebaikan itu juga boleh jadi kembali pada diri sendiri. Halnya dengan keburukan, usah menyamakan. Memalingkannya dari dalam kepala itu bahkan lebih atas.

Jika mengantar Marwan hingga ke rumahnya, sama halnya ia menabuh genderang perang. Marwan berat hati membiarkan kapal di laut digawangi sendiri sang Juragan. Setidaknya Nurham hadir menyertainya. Sehabis kapal beroperasi di laut, kebutuhannya juga kian menekan. Hasil tangkap selama lima hari itu juga tentu kini terancam berada di atas pengeringan bila tidak segera dijual.

Pertimbangan itu lama direnungkan Nurham. Disatu keadaan, Marwan menganggap dirinya bukan lagi seorang bocah. Mengantarkan ke rumahnya baginya ibarat sinetron. Antar dan jemput pacar. Ia muak dengan hal semacam itu. Pekerjaan adalah ratu kehidupan untuk diri dan keluarganya. Meski rentetan derita penyelam mewabah di hadapannya, apa pedulinya. Adakah penumpah keringat lain yang lebih menjanjikan di kampung terapung moyangnya ini. Ia tak pernah mengimpikannya sekalipun.

Pada puncak keraguan, Nurham menempuh pilihan sumbang. Ia biarkan kapal bersama empunya, biarlah jalan gelap pulau ini mereka tempuh ke rumah masing-masing.

Semua nelayan khatam perkara dominasi hawa dingin dalam tubuh biasanya menyulitkan penyelam buang air kecil

“Kau pulanglah beristirahat. Sementara aku akan membangunkan istriku di rumah. Ambil ini untuk teman begadangmu.” Nurham menyerahkan sebungkus rokok yang isinya sisa beberapa batang pada Marwan.

“Jangan. Nanti saya ambil di warung Liana. Jam begini warungnya belum tutup.” Tolak Marwan.

“Jadi, di warung ujung itu kita berjumpa besok. Suratnya belum kau balas”.

Nurham memancing tawa perdamain sebelum mereka mengambil jalan sendiri-sendiri. Berhasil. Sampai rahang Marwan pun yang sedikit menguning nampak di kegelapan.

“Itu pasti. Lagi pula tugasku hanya membalas. Kau tukang posnya.”

Keduanya tertawa sejenak melupakan segala hal di atas laut dan kapal. Mereka menuyulut rokok lalu berpisah jalan.

Di rumah Marwan sudah tak ada kehidupan. Penghuninya lelap di alam mimpi. Ia duduk di anak tangga menikmati rokok. Hanya dua kali isapan, rokok itu jatuh dari tangannya. Kantuknya kali ini tak dapat ia tahan. Dengan sisa kantuknya ia menaiki anak tangga rumah dengan kaki dan tangannya.

Di atas lego-lego ada bangkar. Di situlah ia telentangkan dirinya hingga terik siang menjelang.

*

Kepulan asap tipis menerobos dari balik dapur warga pulau yang beratap daun kelapa. Dija, emak Marwan selalu bangun lebih awal ketimbang Darmi, doja masji di kampung mereka. Ia telah membenamkan selimut ke badan Marwan yang didapatinya tertidur. Meski ia tahu anaknya itu kebal terhadap dingin.

Biasanya, selepas subuh, Dija mulai sibuk di dapur meracik sarapan. Teh pekat senantiasa tersaji di meja makan lengkap dengan kue. Itu dua tahu lalu. Semasa suaminya masih hidup. Karena Marwan belum lagi bagi hasil dengan juragannya, pagi ini hanya ada kopi dan biskuit kacang untuknya.

Dija memilih membiarkan kopi itu dingin di atas meja. Ia tak mau membangunkan Marwan. Pertanda mestilah dibaca. Seperti sebuah ungkapan: ayam berkokok bukan berarti pagi. Melainkan dia adalah pertanda. Entahlah.

Saat Marwan mulai terjaga dari tidurnya, matahari telah meninggi. Emaknya sedang menyapui dedaunan di bawah teras rumah panggung peninggalan mendiang ayahnya. Tahu anaknya sudah bangun, perempuan tua itu memainkan perannya.

“Nak, bangunlah. Kopimu di dapur sisa sekali tegukan. Kalo tidak suka yang dingin, nanti saya buatkan lagi. Semua orang yang lewat melihatmu tidur di waktu pagi. Tidak baik, Nak.”

Dija tak pernah bosan meletakkan nasihat pada anak semata wayangnya itu. Sama halnya ketekunannya mengkisahkan kehebatan bapaknya menahkodai kapal. Marwan bocah akan mulai rewel dengan berbagai pertanyaan yang tak putus-putus.

“Dengarkan baik-baik, Nak.” Kalimat ini ampuh meredam pertanyaan bocah cerewet itu.

“Saat malam datang,” lanjut emaknya. “Bapakmu menyuruh anak buahnya mengambil jaketnya di kamar kemudi. Hingga jauh malam, bapakmu belum juga tidur. Ia berada di atas kapal sendirian.”

Pada bagian kisah itu, Marwan bocah sesekali mendeham menelan ludahnya.

“Bapakmu berbaring sendiri, sementara anak buahnya lelap seluruhnya. Ia menaruh lengan kirinya di atas dahinya. Menengadah ke atas langit, kemudian bertanya dalam hati: Saat ini Marwan sudah tidur atau belum ya.”

Marwan kecil tak mampu menahan kesedihannya. Ia memang berusaha menyembunyikan tangisnya. Semakin emaknya melanjutkan kisah bapaknya semakin ia tersedu. Ia menangis. Emaknya hanya senyum sendiri. Betapa seorang memiliki ikatan jiwa yang hebat pada orangtuanya.

Selepas tangis itu, Dija bisa terlelap juga. Hanya berselang beberapa jenak saja setelah kesedihan itu meledak, Marwan kecil telah pulas dalam tidurnya.

Marwan yang kini di jadi tulang punggung keluarga, mencoba bangkit dari pembaringannya. Ia masih merasakan letih dan berat di tubuhnya. Saat hendak berdiri, denyut jantungnya bergerak cepat. Bukan karena ia kena serangan jantung Ia kaget.

Kedua kakinya tak mampu ia gerakkan.

“Emak… Emak…!!” Teriaknya lemah diikuti isyarat tangis.

Dija menghempaskan sapu ijuk di tangannya berlari menaiki anak tangga.

“Ada apa, Marwan!” Emaknya juga sudah dirembesi cemas berlipat-lipat.

“Apa kau mimpi buruk.” Desak emaknya ingin segera tahu apa yang dialaminya.

“Kakiku, Mak,” lirih Marwan.

Mata Dija menyala terhenyak kaget. Putaran ingatannya menjelajah ke masa empat tahun silam. Aura masa silam memang gampang terasa. Ia teringat pada suaminya. Persis pada apa yang tergelar kembali di hadapannya kini.

“Oh, Tuhan. Selamatkan anakku.” Ia tak sadar berteriak.

Dija lemas tak tahu dan tak mampu mesti berbuat apa. Orang-orang mulai berdatangan menyesaki teras rumahnya. Beberapa orang pintar yang hadir langsung merapalkan mantra-mantra. Yang lain menenangkan dan merangkul Dija.

Marwan dibangunkan. Dipapah berdiri dengan rangkul beberapa temannya. Sebelum lumpuh itu kian medera, ia tak boleh tinggal diam. Harus terus bergerak. Biasanya orang-orang akan menebangkan pohon bambu lalu diikatkan dari satu tiang rumah ke tiang yang lain. Ini sebagai pegangan untuk orang yang kena lumpuh dalam menyelam agar tetap bisa berdiri menggerakkan kakinya.

Untunglah Marwan tak senasib dengan bapaknya. Ia masih mampu melawan derita itu. Kegigihannya adalah ramuan obat tiada duanya. Walau emaknya tak mudah menerima kenyataan itu.

Marwan dan emaknya bukanlah satu-satunya pemikul derita semacam itu. Di pulau ini hidup sepuluh orang anak penyelam, maka tiga dari sepuluh anak itu mengalami hal yang sama pada Marwan.

Saban pagi dan pada waktu senggang, Marwan kini punya aktifitas baru. Melatih kakinya berjalan. Meski kakinya tersaruk ke tanah, ia menekuni latihan mendorong gerobak bermuat drum yang terisi penuh dengan air itu. Di bawah awan yang berganti-ganti rupa, Marwan menjalani terapi.

Marwan tak ingin larut dalam derita dan mengeja sunyinya sendiri. Setiap waktu ia menerbitkan senyum cemerlang pada harapan kesembuhan. Dengan cara-cara tangguh, ia tak putus asa meski kadang kala ia terhempas ke tanah bila kakinya tak mampu menopang tubuhnya. Tetapi, itu di darat. Di laut, ia tetaplah pemangsa yang mengerikan.

*

Pangkep, 14 Februari 2016

Gambar: Aurelien Michaud @Pinterest

mm

Afdal AB

Mahasiswa semester akhir STAI DDI Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This