Lebaran Kali Ini

Lebaran menjadi ruang temporal. Di dalamnya terkandung beragam kemungkinan. Manusia berjalan menghampirinya dan mendapatkan tapak kakinya di masa lampau yang juga jejak ke depan. Terangkum dalam fase waktu.

Perkara lebaran adalah situasi sunyi. Benar-benar sunyi. Mendobrak bendungan Beddu di hadapan dua anak perempuannya, Salma dan Salwa. Lebaran kali ini hujan turun membawa mayat istrinya. Peristiwa waktu yang paradoks.

“Ayah, Mama tidak pulang ya, ini kan menjelang lebaran, Salma dan Salwa mau dibelikan baju baru sama Mama.” Jawaban apa yang dapat menenangkan rindu atas tanya macam itu. Beddu bergidik. Dua putrinya tidak menuntut penjelasan filosofis.

­_

Lebaran dan kematian. Dua peristiwa dalam hidup umat manusia. Semuanya abadi dan tak dapat dihindari. Lebaran saban tahun barangkali saja ruang yang dinanti berkumpul. Ini dikuatkan dengan rutinitas para perantau berjalan pulang mengunjungi teras kampung halaman.

Kematian juga tapak perjalanan, Mudik ke sumber kehidupan. Diantar tangis sebagai rasa yang sebelumnya ketika manusia lahir ada senyum menyambut. Ini puisi kehidupan yang terus dijalani.

Lebaran Kali Ini Hujan Turun, kumpulan cerpen Dul Abdul Rahman yang terbit di tahun 2006 (Nala Cipta Litera) mendesak dibaca ulang ketika di akhir Ramadan kali ini, suami kakak perempuan tertua saya berjalan pulang. Ia menuntaskan sekelumit kisah yang pernah ditapaki di dunia.

Kisah kematian yang dihadapi Beddu bersama Salma dan Salwa yang menanti Faizah agar lebaran kali ini pulang ke kampung halaman mewujud pada kakak perempuan saya.

“Kematian begitu akrab”, tulis Subagyo Sastrowardoyo dalam puisinya. Dan, Kematian acap kali begitu. Datang tanpa diduga.

­_

Sastra memberikan dugaan kisah bagi manusia. Ataukah manusia itu sendiri adalah kepastian yang disebut dugaan.

Dul memulai cerpen Buku Harian dengan kalimat ini: “Kematian adalah kenyataan hidup. Cinta dan benci tak pernah menggugat kematian. Karena cinta dan benci adalah kematian itu sendiri.”

Ini kisah lain tentang kematian. Tokoh Aku menyudadi hidupnya dengan sadar. “…Keris tercabut. Aku mengasahnya tepat tiga belas sentimeter di atas pusarku. Diam. Titik.” Dul menjahit kisah bunuh diri ke dalam situasi klise: pengkhianatan.

Delapan cerpen dalam kumcer ini sepenuhnya menyajikan paradoks hidup manusia. Pergulatan yang melahirkan putus asa, semangat, dan penemuan rahasia hidup di balik hidup itu sendiri. Bisa disebut kalau Dul menulis cerpennya serupa khotbah.

Ada gugatan soal stigma sosial meski disaat bersaaman ia menyebarluaskan asumsi itu. Mengantar pembaca ke dalam situasi dan menyimpulkannya sendiri tanpa memberi ruang tafsir bagi pembaca di cerpen tertentu.

Namun, bukan berarti Dul menempatkan diri di singgasana moral yang mendedahkan standar etika. Di sisi lain pada cerpen Lebaran Kali Ini Hujan Turun lebih pada situasi kematian sebagai tragedi. Meski memang menulis kematian dengan pendekatan melankoli.

Sosio kultural di cerpen itu adalah pertarungan moral hidup. Beddu dan Faizah dari latar berbeda: desa dan kota. Dul memilih desa sebagai simbol keterbelakangan dan sebaliknya. Asumsi umum ini saya kira sebagai upaya memeruncing konstruksi kisah.

Faizah lalu memilih bunuh diri kelas dengan memilih Beddu walau harus tersisih dari keluarganya yang terpandang di kota. Faizah total menjalaninya dan menjadi tulang punggung keluarga ketika Beddu harus menghadapi cacat fisik menghampiri. Kedua matanya buta.

Di tengah menguatnya stigma sosial, kematian menjadi jalan penyelesaian masalah. Faizah yang kembali ke kota mencari nafkah rupanya menjajal kehidupan malam. Kematiannya akibat terjangkit virus aids sudah cukup sebagai tafsir meski Dul tidak menuliskannya gamblang.

­­­_

Lebaran kali ini memang pengulangan lebaran sebelumnya. Ada yang abadi dan muncul peristiwa lain yang melengkapinya. Lebaran menjadi tapak waktu menuntaskan kisah menuju kisah yang lain.

Lebaran menjadi keriuhan sekaligus kesunyian masing-masing.

Lebaran juga menjadi jeda dari rutinitas hidup. Sebagaimana kematian menjadi spasi merangkum hidup yang telah usai sebelum berjalan kembali menuju ujung. Titik ketika semuanya harus kembali. Mudik ke sumber kehidupan.

_

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This