Kita Bertemu di Jam Tonasa

“Kampung saya tidak sampai di kota Pangkep dari arah Makassar, kira-kira lima kilometer dari perbatasan Maros-Pangkep. Perhatikan sisi kanan, jika sudah melihat patung Keluarga Berencana (KB) di area taman. Orang-orang di kampung menyebutnya taman segi tiga karena bentuknya memang bukan segi empat apalagi belah ketupat.”

“Jika sudah berada di sana, langsung telepon, miskol, esemes, atau kirim CM saja. Maka, kurang dari lima menit saya sudah berada di depan hidungmu. Ingat, ya, pastikan berhenti di depan patung KB itu.”

*

Di kisaran tahun 2004 hingga 2007 ketika pesan pendek masih menjadi primadona di kalangan pengguna telepon genggam minim pulsa yang mengandalkan paket SMS, dua paragraf di atas sering saya kirimkan berkali-kali ke sejumlah teman dari Makassar yang ingin datang ke rumah.

Tentu, kosa kata dalam pesan pendek disingkat sebagai upaya menghemat kata tanpa mengurangi maksud dan, utamanya, membebaskan jempol dari bahaya laten bengkak macam baterai hape.

Untungnya pula, hape sudah memiliki perangkat penyimpanan berkas, jadi tak perlu mengetik ulang. Jika ada teman yang ingin datang lagi, atau teman yang sudah datang tetapi sudah lupa jalan ke rumah, maka berkas yang tersimpan itu sisa diubah menjadi pesan singkat lalu dikirim. Beres.

Penjelasan panjang lebar itu memiliki dasar rasionalitas yang kuat. Jika sebatas mengandalkan alamat sesuai di KTP, yakinlah, teman yang baru datang berkunjung kewalahan mencari rumah. Meski sudah bertanya sana sini.

Jl. Poros Tonasa 1 Desa Kabba No. 95, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. 90611. Penulisan alamat rumah saya sudah lengkap. Terlampau lengkap, malah. Kode pos pun sudah ada. Hanya saja, petugas pos kadang masih bingung. Jauh sebelum adanya hape, surat yang dikirim saudara di perantauan harus tinggal sebulan di lemari arsip kantor pos.

Belakang hari, ketika hape sudah bukan barang langka dan, saudara masih juga mengandalkan jasa pos mengirim barang, petugas pos malah menelepon di nomor kontak yang tertera, ia perlu penjelasan runtut lokasi rumah.

“Jika dari arah luar, maksudnya dari Soreang, lokasi patung KB, terus saja hingga lewati lapangan sepakbola. Setelahnya, ada masjid yang di depannya pekuburan. Lewat dari situ, ada pos ronda di sisi kanan. Nah, silakan masuk ke lorong depan pos. hitunglah jumlah rumah di sisi kanan, rumah ke tujuh adalah rumah saya. Pas tanggul pertama.”

Seperti itu penjelasan saya. Dari beberapa petugas pos yang menelepon, di antaranya ada yang menanggapi begini: “Oh, lorong ke rumahnya Puang Sewwa, ya.”

PATUNG KB DI SOREANG PANGKEP
Patung KB di taman segi tiga. Taman ini merupakan lahan PT. Semen Tonasa

*

Begitulah, proses mencari alamat. Situasi demikian bukan hanya dihadapi di kampung, di kota pun demikian. Diperlukan penjelasan detail lebih dari yang tertera di alamat yang dicatat Dinas Catatan Sipil.

Pepatah: malu bertanya sesat di jalan menemui wujudnya. Meski demikian, sudah dijelaskan demikian detail, tetap saja tidak menemukan lokasi. Sekali waktu, teman dari daerah bawah yang hendak ke rumah. Kuasa cara pandang dari Pangkep memetakan penyebutan dari bawah mengacu pada kabupaten mulai dari Barru dan seterusnya ke arah utara. Sedangkan dari Maros dan selanjutnya ke selatan disebut dari atas.

Begini saja, setelah saya ada di kota Pangkep, kita bertemu di jam Tonasa

Serupa cara pandang dari Eropa membaca Asia Barat yang disebutnya Timur Tengah. Namun, penyebutan ini tidaklah bias kolonial, semacam pemetaan sederhana saja karena Pangkep berada di tengah jalur pelintasan antar kabupaten di Sulawesi Selatan.

Penjabarannya tentu harus beda: “Jika sudah sampai di pusat kota yang dibelah sungai. Jalan terus hingga lewati satu lagi sungai. Kira-kira satu kilometer dari situ ada belokan ke kiri. Anda tahu berapa belokan menuju rumah, hanya ada dua: kiri dan kanan. Khusus di belokan kiri pertama itu, hati-hati melintas dan sebaiknya undur laju sepeda motor. Dari 100 kecelakaan yang terjadi di desa saya, 97 kejadian terjadi di belokan itu. Selanjutnya, terus saja dan ingatlah petunjuk di paragraf ke sembilan di catatan ini (sudah saya miringkan dan mewarnainya).

Namanya teman, segala petunjuk yang saya jabarkan tidak dihiraukan. Dianggapnya malah bikin pusing. “Anda kasih alamat atau sedang menulis cerita”. Begitu tanggapnya. “Begini saja, setelah saya ada di kota Pangkep, kita bertemu di jam Tonasa.” Lanjutnya kemudian.

Mencari alamat memanglah tak semudah di alamat. Sejak saat itu hingga hari ini, jika ada teman lama apalagi baru yang ingin berjumpa, solusinya bertemu di jam Tonasa termasuk arah teman yang datang dari atas. Tak masalah jika harus menempuh perjalanan ke sana.

Di lokus berdirinya jam Tonasa itu memanglah titik pelintasan, tak jauh dari situ terdapat sungai Pangkajene dan tugu bambu runcing. Meski jam sudah tidak berfungsi normal, keberadaannya kerap dijadikan tempat perjumpaan. Di malam Minggu, terkadang menjadi lokasi berkumpul komunitas pecinta scooter.

Jika ada teman Anda hendak ke Pangkep, sebaiknya janjian ketemu di jam Tonasa saja. Peluang menyasar sangatlah minim. Karena semua pada tahu lokasinya. Kira-kira begitu.

*

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This