Kisah Sepatu dan Tuhan

Malik B Masry, walikota Makassar periode 1994-1999 pernah kehilangan sepatu saat ia menunaikan salat Jumat di masjid Raya Makassar. Ini sepatu walikota, sudah tentu bermerk. Dan, sepasang sepatu walikota hilang. Ajudannya lalu dipinta membeli sandal jepit sebagai pengganti. Kisah ini diceritakan ulang oleh Asdar Muis RMS di buku kumpulan esainya, Sepatu Tuhan dengan judul Sepatu.

Dalam prosesnya, sepatu tidak lagi berfungsi sebagai mulanya. Sepatu bisa sangat berarti melebihi tugasnya sebagai alas kaki. Ada sesuatu yang ingin ditunjukkan dengan pemakaian merk sepatu tertentu. Maka, bisa dibayangkan bila seseorang menyimpan sepatunya yang berharga itu – meski di pelataran masjid sekalipun.

Kala masih hidup, Asdar pernah berujar kalau buku Sepatu Tuhan sisa satu di rumahnya. Disimpan sebagai arsip. Di kesempatan lain ia mengatakan sudah tidak memiliki buku itu lagi. Lahirnya Sepatu Tuhan yang merangkum 75 esai Asdar yang tersiar di sejumlah media cetak di kurun tahun 2000 hingga 2002, adalah usaha Nur Alim Djalil yang, sejak mahasiswa mulai terpesona dengan cara Asdar menuliskan gagasannya.

“Siapakah orang sinting yang satu ini? Di bumi manakah gerangan ia berpihak? Bagaimana sesungguhnya pola hidup dia sehari-hari?” Begitulah Nur mulai mengenalkan Asdar. Tak lupa mengungkapkan kekecewaannya ketika pertama kali melihat Asdar. Lelaki pendek berbadan tambun dengan pipi serupa bakpao sedang berusaha melewati anak tangga menaiki ruang redaksi Fajar – saat itu masih berkantor di jalan Racing Centre. Dikiranya tukang cetak koran.

“Saya malu sendiri, ketika seseorang memanggil namanya. Saya pun tersadar. Inikah orangnya? Inikah yang karya-karyanya diam-diam saya ikuti?….” Tulis Nur kemudian. Dorongan mengumpulkan esai Asdar lalu dibukukan ditunjang pada keunikan cara Asdar menulis – juga upaya mengawetkan esai agar tidak hilang mengingat Asdar lalai menyimpannya.

Di tahun 2003 ketika buku ini terbit. Saya masih sekolah menengah atas di Makassar. Suatu ketika UPKSBS, UKM Seni di Universitas Muslim Indonesia yang masih bermarkas di Kampus I di jalan Kakatua menggelar pementasan. Karena sekolah saya masihlah dalam kompleks Kampus I UMI dan memang, sebelumnya berfungsi gedung perkuliahan sebelum dipindahkan di Kampus II di jalan Urip Sumiharjo. Di pementasan itu Asdar hadir sebagai salah satu pengisi acara. Tentu saya belum tahu siapa dia. Sebelum panitia memanggilnya ke panggung, ia mengenalkan sekilas, dikatakan kalau Asdar seniman serba bisa berasal dari Pangkep.

Mendengar ia dari tanah kelahiran yang sama. Ada dorongan mendekatinya selepas ia membacakan 50 judul puisinya yang hanya memakan waktu kurang dari sepuluh menit. Ini benar, ia sendiri mengatakan ketika sudah di panggung kalau 50 judul puisi akan dibacakan. Namun, begitulah, satu puisi hanya berisi satu larik – paling panjang setarik nafas. Semua yang hadir pada tertawa sekaligus bertepuk tangan. Menjelang pulang, ia menyerahkan dua atau empat buku kepada panitia. Di kesempatan yang ada, buku Sepatu Tuhan itu saya baca sambil lalu di sekretariat UPKSBS.

14 tahun kemudian, buku ini saya jumpai di toko buku bekas di jalan Kandea. Barulah bisa mengulangi bacaan. Setiawan Djody membubuhkan kata pengantar. Asdar, tulis pentolan Kantata Takwa itu, pandai merekam situasi politik ke dalam bahasa popular dan mudah dimengerti.

Di halaman judul terdapat tanda tangan Asdar dan catatan kalau buku ini diperuntukkan buat AS Kumba, karibnya. Entah bagaimana buku ini berada diloakan. Melihatnya terpajang di rak, langsung saja membelinya. Ini harta karun yang perlu dibawa pulang.

Mendiang Ahyar Anwar mengatakan kalau esai Asdar adalah dirinya sendiri. Ciri khas satu kata sebagai judul mengingatkan pada esai Goenawan Moehamad. Meski demikian, cara bertuturnya sangat beda. Goenawan bertumpu pada daya intelektual dan ragam referensi luar. Sedang Asdar mengandalkan pengalamannya.

Di esai berjudul Mistik, ia menceritakan sewaktu masih muda di kampung dirinya juga pemain sepakbola yang, timnya jarang dikalahkan. Bukan lantaran dilatih Noor Salam, eks pemain PSM di era Ramang. Asdar muda meyakini kalau ada kekuatan eksternal di balik kemenangan timnya. Mistik.

Pandai merekam situasi politik ke dalam bahasa popular dan mudah dimengerti.

Ia meyakini mantera yang dilakukan tetua. Ia juga mengamalkan jimat anti patah kaki sebelum bertanding. “reppepi batua nareppetto bangkengku, barakka Lailaha illallah barakka Muhammadar-rasulullah.” Begitu mantra ini dituliskan yang pada umumnya sudah jamak dikenal pesepakbola di kampung di masa lalu – bahkan hingga kini.

Persoalan mistik itu merembes ke pengalaman PSM ketika menjalani laga final di Senayan tahun 2000. Syamsuddin Umar, pelatih PSM menerima telepon dari seseorang dari Gowa supaya salat tahajud lalu mengambil segenggam tanah di Mattoanging untuk ditanam di Senayan. Anjuran itu dilakukannya dan entah, PSM memang juara.

Hal demikian bagi Asdar di belakang hari hanyalah sugesti keyakinan saja. Sama halnya dengan perilaku Blance, bek timnas Perancis yang selalu mencium kepala plontos Bartes di perhelatan Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 yang membawa Perancsi juara. Bagaimana pun, sepakbola adalah permainan yang mengandalkan upaya manusia di lapangan walau kepercayaan mistik selalu menyertai.

Di esai Tuhan, ia mengisahkan kisah pedih seolah kita hadir di sana – di hadapan orang malang yang terusir dari tanah kelahirannya karena “Tuhan”. Di lambung KM Bukit Siguntang peristiwa itu berlangsung. Asdar menjumpai dua lelaki yang hendak merantau tanpa tujuan walau keduanya sempat menyebut daerah tujuan di Sumatera.

“…Kami tak tahu harus ke mana. Kami sedang tidur ketika rumah kami dibakar. Istri dan anak-anak kami terbunuh. Kini, kami harus melanjutkan hidup…tetapi ke mana?” Tutur orang itu.

Esai ini dibangun berdasar dialog seolah kita membaca cerpen. Meski tidak disebutkan konflik berdarah yang pernah terjadi di Ambon. Dengan kata dan peristiwa, kita tahu kalau kedua orang itu adalah warga Ambon beragama Kristen yang menyebut pencipta dengan sebutan Tuhan.

Ketika Asdar sudah sampai di tujuan, Tanjung Priok, Jakarta. Ia menemui kedua orang itu guna berpamitan dan memberinya tambahan bekal. Keduanya tak henti mengucap terima kasih dan berkata kalau Tuhan yang akan membalas semuanya.

Asdar terhenyak. Ia tergelitik dan bertanya lanjut. Lalu terjadilah dialog berikut:

“Maksud Bapak-bapak, Tuhan yang mana?”

Keduanya kaget. Gelisah.

“Ada apa?”

“Maaf, Pak. Kami takut menyebut nama Tuhan.”

“Ya, mengapa?”

“Karena nama Tuhan itulah yang membuat kami terusir di negeri yang pernah damai.” Matanya memerah. Pipi keduanya dialiri anak sungai.

*

Sayang, buku ini tidak terbit lagi dan tidak beredar luas. Sependek yang saya ketahui, buku Asdar hanya beredar di kalangan karibnya atau di lingkungan dimana ia berjejak. Pernah pula ia katakan kalau menerbitkan buku itu bukanlah kemauannya. Ia hanya menulis di media cetak.

Usai mundur dari dunia jurnalistik. Ia mengampuhkan hidup selaku dosen di Universitas Fajar. Menulis buku biografi pejabat. Dan, tiga tahun sebelum ia wafat di tahun 2014, Facebook adalah medianya menuliskan gagasannya. Ia menyapa pembacanya setiap hari melalui serial diary Malu, Malu Lagi, dan Esai Malu yang tidak sempat dituntaskannya.

*

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This