Kenangan Pada Becak

Saya mau tamasya berkeliling-keliling kota

hendak melihat-lihat

keramaian yang ada

saya panggilkan becak

kereta tak berkuda

becak, becak, coba bawa saya

*

Hmmmm. Lirik lagu di atas sebentar lagi hanya sekadar kenangan bagi anak-cucu kita. Boleh jadi, mereka tidak lagi melihat becak itu sendiri. Mengapa, karena kendaraan unik ini akan menjadi kendaraan langka.

Sejauh yang saya ketahui dari referensi yang kubaca, asal usul becak itu dari Jepang. Di  tahun 1869, seorang lelaki asal Amerika Serikat yang bekerja di kedutaan besar negaranya di Jepang sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan kota, ia lalu berfikir bagaimana caranya agar istri yang, kakinya cacat, bisa ikut berjalan-jalan.

Untuk itu diperlukan sebuah kendaraan yang tidak perlu ditarik oleh kuda karena hanya untuk satu penumpang saja. Ia lalu mulai menggambar kereta kecil tanpa atap di atas secarik kertas. Begitulah, sampai akhirnya becak mulai dikenal di sejumlah negara dengan beragam model dan, tak terkecuali di Indonesia.

Kendaraan beroda tiga yang memuat satu atau dua penumpang dan disupiri dari belakang dengan cara dikayuh itu, sudah menjadi kendaraan langka di Pangkep, bukan sengaja dilarang seperti di beberapa kota besar di Indonesia, tetapi memang, becak seiring dengan kemajuan zaman tergantikan dengan adanya kendaraan beroda tiga yang sama namun memiliki mesin yang dinamai bentor (becak motor).

Sebagian masyarakat Pangkep merasa lebih senang naik bentor, karena selain cepat, biayanya setara naik becak. Namun, bagi saya, ada perasaan yang luar biasa ketika pada suatu hari di tahun 2010 silam. Wah, sudah lama ya, namanya juga catatan harian, jadi harus mengacu pada data lampau.

Kala itu, setelah sekian lama saya melihat becak dan meminta diantarkan ke studio tempatku menyiar. Mungkin, karena memang sudah lama tidak naik becak, ada perasaan takut, begitu becak mulai dikayuh, saya senang sekali, tak sadar bergumam sendiri sampai tak sadar telah jadi perhatian orang-orang di sepanjang jalan yang dilewati.

Dg. Akung, si pengayuh becak juga bersemangat, sambil tersenyum seraya menjawab pertanyaan­ yang keluar dari bibir cerewetku. Ia sudah lama menggeluti profesinya sebagai tukang becak, sekitar 20 tahun.

Akan menjadi lelucon jika ada yang tertabrak becak

“Ya, beginimi, Nak, sekarang, orang malasmi naik becak,karena orang-orang selalu mau cepat sampai ke tempat tujuan sementara tenagata tidak sama dengan mesin kasihan, jadi orang-orang lebih suka naik bentor,” tuturnya.

Becak memang sudah langka di Pangkep. Dari kelangkaan itu, hanya bisa ditemui di pinggir jembatan baru sungai Pangkajene, itu pun hanya dua atau tiga saja, dan para tukang becaknya rata-rata sudah tua.

Sesampai di kantor, saya pun siaran mengudarakan topik tentang keberadaan becak. Dari interaksi pendengar, tak sedikit yang mengatakan kalau mereka sebenarnya senang naik becak tetapi ketika melihat tukang becaknya yang sudah tua, mereka merasa kasihan. Tak tega melihat orang tua bekerja keras dengan upah tak seberapa.

Seingat saya, di tahun 1997, saat masih SMP, becak sangat popular dan dijadikan kendaraan istimewa. Tak satu pun ada kecelakaan tabrakan antar becak berujung kematian. Justru, akan menjadi lelucon jika ada yang tertabrak becak.

Lain halnya dengan tabrakan atau kecelakaan akibat naik bentor, akibatnya tentu bisa parah. Tetapi, begitulah, tak ada yang lekang oleh zaman. Moda transportasi terus berevolusi dan yang lama akan tinggal kenangan.

*

 

Gambar: http://www.deviantart.com

mm

Riandra Ria Hamriah

Awal kemunculannya di publik Pangkep sebagai penyiar radio di tahun 2007-2010. Kemudian jurnalis di tahun 2011-2014.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This