Keluarga Itu Bernama BEM AKBID Aisyah

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Akademi Kebidanan (AKBID) Aisyah, lahir sejak berdirinya kampus tersebut di tahun 2009. Berbeda dengan periode sebelumnya yang hanya setahun, kini masa kepengurusan BEM menjadi dua tahun. Dengan durasi lebih lama diharapkan pengurus memiliki banyak waktu untuk menuntaskan dan memperluas jangkauan kegiatan. Terutama program berorientasi kekeluargaan.

Yayasan Mubarakah yang menaungi AKBID Aisyah, melalui ketua yayasan mengusulkan periode kepengurusan BEM dua tahun supaya pengurus memiliki kesempatan lebih untuk berbuat kreatif dan meningkatkan kinerja BEM yang lebih baik. Selama ini, BEM sudah sering menggelar kegiatan memperingati Isra Miraj, Maulid Nabi Mahammad SAW, dan rutin mengadakan buka puasa bersama di bulan ramadan. Selain itu, kegiatan memperingati hari kemerdekaan, hari pahlawan, dan donor darah juga sering dilakukan.

Menggelar kegiatan tentu saja membutuhkan dana yang lazimnya ditempuh dengan pembuatan proposal. Namun, saya perlu tekankan di sini, proposal yang dibuat tidaklah untuk diajukan ke sejumlah perusahaan atau ke pemerintah daerah apalagi dari rumah ke rumah. Proposal yang dibuat BEM hanya ditujukan kepada ketua yayasan.

Jadi, dana itu berasal dari kontribusi mahasiswa setiap kegiatan ditambah kas BEM yang terkumpul saban bulan lalu dilampirkan semua kebutuhan yang diperlukan lengkap dengan estimasi anggaran. Nah, kekurangan anggaran ditutupi oleh ketua yayasan.

Hal ini bukan karena BEM tidak mampu mengedarkan proposal ke pelbagai tempat. Tetapi, lebih pada penegasan Ketua Yayasan, Hj. Suhana A. Abbas, S.ST. “Saya tidak mau anak-anakku meminta di luar, saya ini dipanggil Bunda oleh mahasiswa, berarti saya orangtua mereka di kampus,” tegasnya pada suatu kesempatan.

Itulah sifat kekeluargaan yang selalu ditekankan Bunda, meskipun tidak semua mahasiswa bisa mencernanya. Bunda juga telah menularkan watak kekeluargaan itu kepada pengelola sehingga sangat terasa bentuk gotong royong dalam civitas akademik.

Sama halnya saat BEM hendak mengumpulkan dana bagi korban kebakaran di empat titik di Pangkep tahun lalu, izin turun ke jalan untuk mengumpulkan dana tidak diberikan oleh pihak pengelola kampus. “Saya tidak mau Akbid Aisyah turun ke jalan menenteng kardus di pinggir jalan memungut derma dan membuat macet. Saya tidak suka dengan cara seperti itu,” tegas Pudir III Bidang Kemahasiswaan, Nopiyanti A. Abbas, SE, S.ST.

“Saya tidak mau anak-anakku meminta di luar, saya ini dipanggil Bunda oleh mahasiswa, berarti saya orangtua mereka di kampus,” tegasnya pada suatu kesempata

Saat itu semua teman-teman putus asa melanjutkan penggalangan dana, Namun, BEM akhirnya menemukan solusi, kas BEM dipinjam sebagai modal membeli singkong dan akan dibuat keripik. Akhirnya ide ini disetujui. Selama seminggu, kegiatan menjual keripik dilakukan sepulang dari kampus. Teman-teman menyasar tempat kerumunan warga seperti di pinggir sungai Pangkajene dan taman Musafir. Hasilnya, dana awal dikembalikan ke kas BEM, keuntungan disalurkan ke korban kebakaran.

Kami meyakini, Tuhan memberikan jalan saat kita sudah punya niat yang baik. Hal positif yang dapat dipetik dari keputusan ketua yayasan dan pengelola Akbid Aisyah yang melarang kami meminta di jalan ialah, menyuntikkan pemikiran kreatif pada mahasiswa. Bahwa di balik keputusan itu terdapat hal menakjubkan yang bila dikomunikasikan bersama, dapat memuaskan bagi semua pihak dalam keluarga besar BEM Akbid Aisyah.

*

Foto: Keakraban mahasiswa dengan Pudir I Akbid Aisyah (Dok. Pribadi)

mm

Riandra Ria Hamriah

Awal kemunculannya di publik Pangkep sebagai penyiar radio di tahun 2007-2010. Kemudian jurnalis di tahun 2011-2014.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This