Kelahiran dan Kematian

-Catatan Mengenang Kepergian Nasruddin, Ketua Umum HMI Cabang Pangkep

Hanya berselang kira-kira 30 menit setelah tiba dari Polman, Sulawesi Barat menjemput kelahiran anak ketiga saya, Ali Ishaq Morteza, Jamaluddin, mantan Ketua Umum HMI Cabang Pangkep menghubungi saya lewat telepon, dengan nada berat ia mengatakan bahwa Nasaruddin, Ketua Umum HMI Cabang Pangkep saat ini telah bepulang ke Rahmatullah.

Rasanya belum terobati lelahnya pantat saya menempuh perjalanan kurang lebih empat jam dari Polman, kabar itu menyerap seluruh energi keletihan saya menjadi serba tak menentu. Semangat yang saya bawa dari Polman, ingin mengabarkan keberhasilan kepada seluruh rekan-rekan tentang kelahiran anak saya yang, alhamdulillah sesuai cita-cita, hendak merepresentasikan semangat pluralisme keagamaan saya pada nama mereka, anak-anakku. Perlahan terpendam.

Anak pertama, saya beri nama Ibrahim Mehdi Mappasituru dipanggil Ibrah atau Ibrahim. Ibrahim merupakan nama Nabiullah yang diutus kepada kaum Kaldan (saat ini Irak) dan Imam bagi seluruh umat Manusia yang berlanjut kepada keturunan beliau karena permintaan Nabi Ibrahim yang dikecualikan kepada orang-orang zalim oleh Allah SWT (Q.S. 2 Ayat 124).

Setelah melewati beberapa ujian berat dari Allah SWT, salah satunya, perintah kesetiaan menyembelih anaknya sendiri, Ismail AS, yang juga jadi nama panggilan anak kedua saya, Muhammad Ismail Muthahhari. Nabi Ismail menjadi, kelak melalui sulbi-sulbi suci hambaNya melahirkan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Ibrahim dalam kajian sejarah dikenal sebagai bapak dan sumber ajaran monoteisme bagi agama Yahudi dan Kristen lewat Nabi Ishaq. Menjadi nama ketiga anak saya, Ali Ishaq Morteza. Semangat keberhasilan ini saya rawat sejak kuliah di UIN Alauddin Makassar di jurusan perbandingan agama. Dan, alhamdulillah, 10 tahun kemudian lulus juga menjadi sarjana ekonomi di Universitas Veteran Indonesia dengan predikat sungguh terlalu.

Malam sebelum berangkat ke Pangkep dari Polman melalui tingkah Ismail, saya merasakan kesedihan tertentu dan berpikir hal-hal aneh. Apa yang akan saya jumpai nantinya, sepanjang perjalanan hingga setibanya di Pangkep, perasaan itu saya tepis dengan pikiran: “Tentu saja saya sedih karena berpisah beberapa hari dari Ismail dan Ishaq, anakku”.

Setelah kabar kematian Nasaruddin datang, saya menduga, inilah yang menjadi penyebab keresahan saya.

Nasaruddin, Udin atau Udin Key, kami memanggilnya demikian saat menghadiri kongres HMI di Jakarta yang berlangsung hingga satu bulan penuh dan berpindah tempat tak kurang dari tiga kali antara Jakarta dan Depok yang menyebabkan kerugian besar pada lokasi yang ditempati karena kekacauan tiada henti. Saat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, rekan-rekan Pangkep berbenturan keras dengan rombongan HMI Cabang Bone karena sebuah peristiwa yang sebenarnya membesar karena olahan politis.

 

Benturan keras itu membuat seluruh Rombongan Liar (Romli) Pangkep harus meninggalkan kamp demi keselamatan nyawa mereka yang menyeret HMI Ambon untuk terlibat. Pada suatu malam rombongan preman Ambon memasuki arena kongres lengkap dengan perlatan perang yang berhasil mengobrak-abrik arena dan melukai beberapa anggota HMI.

Saat itu, Udin menunjukkan sikap patriotiknya, Ia membumikan falsafah seorang pelaut, sekali layar berkembang maka pantang surut ke belakang. Bersama Hasanuddin, yang saat itu sebagai Ketua Umum HMI Cabang Pangkep. Mereka berdua menemui rombongan HMI Cabang Bone yang juga telah lengkap dengan badik dan parang dengan maksud mengakhiri semua kekacauan yang akan menyebabkan kerugian buat HMI Pangkep, Bone dan Ambon.

Ia setia tanpa gentar mengawal Ketua Umum hingga proses damai itu berlangsung dan tentu saja dengan risiko nyawa yang harus ditanggung. Saat itu, saya sendiri tak pernah berhenti berkomunikasi ke semua stakeholder untuk meredam segala kemungkinan terburuk. Dan, bersama rombongan satu mobil harus tidur di jalanan, sebab saat itu nyali kami tak sebesar Udin dan Hasanuddin untuk merapat ke kamp, baik yang di dalam arena maupun kamp di luar arena kongres.

Keberanian Udin mencerminkan sikap seorang pelaut yang mengalir dalam darahnya. Sapuka, pulau terluar di Pangkep merupakan tempat kelahirannya, telah menempa dirinya menjadi sosok pemberani menantang apa saja demi pencapaian tujuan-tujuan luhur seperti luhurnya kedamaian di tengah situasi yang, setiap orang menginginkan perpecahan dan benturan karena perbedaan dan secuil perselisihan.

Keberanian Udin sama sekali tidak dibungkus retorika anggun apalagi hendak disebut talekang. Melainkan dihiasi dengan diam, kesopanan, ketundukkan, dan kesetiaan. Jujur, sebagai senior di HMI, saya merasakan itu. Udin jarang menyela rekan bicaranya apalagi seperti saya yang merasa dimenangkan karena usia yang lebih tua.

Muhammad Parif, kakak Udin, bercerita banyak tentang sosok adiknya itu kepada kami saat menghadiri pemakamannya di pulau Balang Lompo. Dia bisa sarjana karena kerja keras adiknya. “Udin telah berjasa besar bagi keluarga dan masyarakat pulau, khususnya di Sapuka dan Balang Lompo dalam banyak urusan.” Terangnya.

Udin merepotkan dirinya membantu warga mengurus kelengkapan administrasi seperti pengadaan KTP, program bantuan, hingga proses pengobatan warga. Bagi masyarakat, tentu sangat membantu. Dan Udin, berbekal jaringan yang didapat dari pergaulannya yang selama ini dilakoni. Tabah menjalaninya.

Di kepulauan. Yang disebut transportasi, komunikasi hingga administrasi menjadi urusan yang sangat serius karena itu harus melibatkan orang-orang pulau terdidik di daratan untuk menyelesaikannya. Di posisi itulah, Udin menghibahkan dirinya sebagai penyambung lidah masyarakat pulau.

“Apakah Udin memiliki utang kepada teman-temannya. Jika ada, tolong sampaikan, agar kami dapat melunasinya supaya tidak menjadi batu sandungan bagi almahrum.” Tanya salah satu kakak iparnya kepada kami.

Mendengar itu saya terhenyak. Justru saya yang berutang padanya. Tak jarang, jika benar-benar bokek, Udin yang membelikan saya rokok. Saya tidak tahu dari mana ia memeroleh uang di tengah keterbatasannya. Namun, tak sekalipun anak itu memiskinkan sikapnya. Menjadi sunah bagi umat Islam, adalah tidak bersikap miskin di depan orang kaya dan tak bersikap kaya di depan orang miskin. Sadar atau tidak, Udin mengamalkan sepenuh hati.

Saya berpikir keras bagaimana harus melunasi utang kepada Udin. Bersamaan dengan itu, saya membayangkan tumpukan utang lainnya yang tak sempat saya bayar. Bagaimana jika saya tiba-tiba saja dipanggil Sang Khalik saat masih memiliki sangkutan piutang dan belum sempat berbagi kelebihan dan kekurangan material saya kepada orang lain.

*

Bersama rombongan, ada peristiwa yang tidak akan saya lupakan di perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Mungkin, bagi pelaut seperti Udin, Jamal, Mamal, Randi, Hasan, dan Idah biasa saja. Tetapi, bagi saya, ini peristiwa besar. Perjalan ke pulau kali ini barulah yang kelima. Terjauh dan paling mendebarkan. Angin sore lumayan kencang sehingga memantik ombak membesar yang membuat sebagian besar penumpang kuyup dan mesin jolloro yang ditumpangi sempat mati di tengah lautan.

Benar ada Kak Nia, Aril dan Sulis yang juga bukan dari pulau, tetapi mereka telah melakukan perjalan yang  tak terbilang banyaknya. Aril dan Sulis, sepasang kekasih yang tak serasi itu bahkan pernah berenang dari pulau Cambang-Cambang, pulau eksotis yang gambarnya beredar luas setelah dipermak menjadi gambar tiga dimensi untuk kepentingan promosi wisata, ke pulau Saugi.

Sedangkan saya, berenang berjarak beberapa meter saja, bisa dipastikan tenggelam layaknya batu dilempar ke laut. Apalagi tenaga saya, tentu saja terkuras lebih dulu karena panik. Kak Nia, menceritakan kalau ia pernah terombang-ambing sehari lamanya akibat mesin ngadat saat mengantar kotak suara di Pilkada tahun 2009 silam.

Di tengah keadaan basah kuyup dan mesin yang mati. Saya terhenyak di titik kesadaran. Hanya Allah SWT yang bisa menolong. Kesadaran itu jarang merasuki saya ketika berada di daratan yang, dalam kekhilafan selalu berpikir situasi aman-aman saja dan belum akan mati.

Nasruddin bersama aktivis HMI Cab Pangkep dalam suatu kegiatan (Dok. Pribadi)
Nasaruddin (tengah) bersama aktivis HMI Cab Pangkep dalam suatu kegiatan (Dok. Pribadi)

Jika bukan karena air yang membasahi muka saya. Pucat di wajah ini akan terlihat jelas. Pada sebatang rokok yang kusulut, kucoba menghibur diri dan berkelakar, mengapa Thales, filsuf awal asal Yunani, menyatakan bahwa air adalah sumber keberadaan karena di tengah lautan engkau akan merasakan betapa kerdilnya dirimu di tengah semesta yang besar. Sambil mengingat Udin. Boleh jadi, kesadaran inilah yang menuntun kesehariannya sehingga tak sekalipun pernah ada noktah sombong pada dirinya. Ketawa pun ala kadarnya saja.

Tak hentinya saya memandang ke belakang dan ke depan. Antara tempat berangkat dan tujuan. Karena tingkah saya itu, Pak Camat, orang yang juga sangat dekat dengan Udin, berucap: “Dekatmi, itu kelihatanmi pulaunya”. Kak Nia menimpali: “Itu langit di atas juga kelihatan”.

Langit yang sebenarnya hanya jadi batas terjauh penglihatan manusia ujungnya tak terkira. Walau pulau yang telah kelihatan itu telah terkira jaraknya dalam persepsi saya tetapi saat ini tiba-tiba menjadi sangat jauh. Memang, pulau tujuan telah sangat jelas dan besar, jaraknya semakin dekat. Kami sekapal benar-benar memahami teori ini bahwa yang membuat semua terlihat kecil dan samar itu karena jarak pandang dan bumi yang bulat. Tak seperti pemahaman salah satu ulama Wahhabi di Arab Saudi yang videonya beredar di You Tube, menyatakan bumi itu datar karena bumi bulat tidak ada dalam Alquran dan Hadis.

Jauh dan dekat adalah cerapan persepsi saja karena keadaan tertentu. Samahalnya kematian dan kehidupan. Merasa jauh dari kematian adalah pengingkaran dan merasa dekat dengannya menjadi ibadah. Bagi para pelaut seperti Udin, tentu saja kesadaran metafisis ini bukanlah peristiwa atau situasi yang langka. Kesadaran metafisis itulah yang mungkin membuat Udin dikenal sebagai pekerja keras dan fokus yang kerap kali mengabaikan hal-hal yang menurutnya tidak perioritas.

Di hari-hari menjelang kepulangannya yang abadi, beberapa senior dan pengurus mengeluhkan kinerja HMI Pangkep yang dikomandoi oleh Udin. Rupanya, saat itu yang menjadi prioritas baginya, adalah menyiapkan pernikahannya. Jarak antara pernikahan dan kematian Udin hanya enam bulan. Ia menyempurnakan agamanya sebelum berlalu meninggalkan kita semua.

Saudaraku, sahabatku, guruku, beristirahtlah dengan tenang. Banyak hal yang bisa kita petik dan pembicaraan tentangmu. Dirimu bagai telaga yang tak kering. Kelahiran lewat anakku, Ishaq, dan kematian lewat dirimu yang saya temui hanya berselang beberapa hari itu membuatku belajar banyak hal. Betapa kelahiran dan kematian memiliki jarak yang sangat tipis.

Siapa saja tentu bisa bergembira karena kehidupan dan berduka karena kematian. Tetapi, kehidupan bukanlah keberadaan hakiki dan kematian bukanlah ketiadaan sejati. Hal esensial bagi setiap orang adalah ilmu dan sikapnya yang membentuk wujud-wujud jiwanya.

Kelahiran dan kematian hanya sebuah peristilahan pada situasi yang berbeda. Kelahiran adalah kematian bagi alam rahim dan kematian adalah kehidupan bagi alam kubur. Saat saya menuliskan kenangan ini, berjuta kemungkinan kematian terpampang luas di sekitar saya.

Setiap saat bagi semua orang, nyawa bagai telur di ujung tanduk. Hanya kasih sayang Allah yang bisa membantu dan menolong kita. Saya yakin, bahwa kasih sayang Allah mendahului murkaNya apalagi pada orang baik seperti dirimu, kawan.

mm

Muhammad Ramli Sirajuddin

Penulis lepas sekali. Mampu membedakan jenis kopi dengan mencium aromanya meski berjarak 100 m

X

Pin It on Pinterest

X
Share This