Kamar, Tape Recorder, Kaset, Tuak: Media Sosial Suatu Ketika

Di dekade 1980 hingga akhir 1990 an, anak muda di kampung membuat kamar di kolong rumah. Di sanalah ia pulas selepas pulang begadang di ujung jalan kampung bersama teman sebaya memainkan gitar.

Dinding kamar itu terbuat dari bambu yang dibelah serupa memasang pagar. Di bagian dalamnya ditempeli karung semen yang dibalik atau karung untuk menutupi permukaan bambu. Beberapa poster artis dipasang sebagai hiasan dinding. Satu bohlam 5 watt tergantung, dipan bekas dilengkapi satu bantal. Dan, perabot paling mewah, adalah tape recorder.

Di era itu, media paling mewah mendengarkan musik tentulah pemutar kaset pita itu. Oleh si pemilik kamar, ia sudah sediakan pensil atau bulpoin yang pas masuk di kedua lobang yang terdapat di kaset. Tujuannya untuk mengembalikan gulungan pita hitam yang memuat lagu andalan. Hal itu dilakukan supaya pemutar replay tape recorder bisa awet. Sesekali memang, bila terburu-buru ingin mengulang lagu andalan, tombol replay itu digunakan.

Kepemilikan tape recorder menujukkan kelas di kalangan anak muda. Jadi, ada kelasnya juga. Jika tape recorder berupa compo, jenis ini mengacu pada tape yang, di kampung lebih akrab disebut radio Polytron. Meski penyebutannya keliru menurut kaidah bahasa Indonesia, tetapi maksudnya adalah benda yang dapat memutar kaset.

Radio adalah frekuensi siaran suara atau bunyi dan Polytron adalah merk. Nah, di era itu, tape recorder tipe compo memang banyak diproduksi Polytron dan menjadi impian anak muda untuk memilikinya melebihi keinginan menunggangi sepeda motor. Pada satu fase, anak muda dianggap keren jika memiliki tape recorder merk Polytron.

Di kamar anak muda dekat rumah, di salah satu dinding kamarnya dijadikan rak penyimpan kaset yang didominasi album Slam, band asal Malaysia yang menjadi idolanya. Jumlahnya hanya disaingi album lagu Bugis Ansar S.

Jika bosan mendengar tembang Slank yang dikoleksi kakak lelaki saya di rumah, maksudnya, di kamarnya di kolong rumah. Hanya beberapa langkah saja, saya merasa sedang duduk di kedai kopi di Malaysia dan mendengarkan:

…Rindiani kekasihku sayang

Jangan pergi dari sisihku

Rindiani bunga hati sayang

Maafkanlah bila kubersalah…

Lirik di atas bagian reff tembang Rindiani yang milik Slam. Lagu ini dianggap mewakili rasa anak muda kepada kekasihnya. Lagu Malaysia dan Bugis menjadi musik paling digemari selain dangdut. Bila ada kaset baru dibeli, yang lain tak perlu membeli lagi, kaset itu akan digilir dari kamar ke kamar. Dinyanyikan bersama atau membandingkan kebeningan suara kaset bila diputar di tape yang lain (bukan merk Polytron).

Mulanya berputar antar kamar satu kampung. Tuak kemudian menjadi pengantar sehingga peredaran kaset melintasi batas kampung. Aroma tuak menarik pemuda dari kampung sebelah. Di kampung memang menjadi pusat pembuatan tuak yang, saban petang menunjukkan peristiwa kontras, para orang tua berjalan ke masjid dan anak muda di belakangnya juga begegas ke arah yang lain. Menuju rumah penjual tuak.

Sepulang menenggak tuak, jalanan akan menjadi ruang sosial anak muda dari beberapa kampung. Tape recorder dikeluarkan dan memutar lagu Bugis dan Malaysia secara bergantian. Di selahnya diiringi tawa dan beragam rencana yang tak jauh-jauh dari acara menenggak tuak.

Semuanya berjalan adem, tidak ada rusuh sosial antar kampung. Kehadiran anak muda memantang malam hingga subuh telah mengubah kebijakan kepala desa, ketua RT dan RW. Aktifitas ronda bergilir untuk menjaga keamanan kampung dari pencuri di malam hari perlahan dilupakan. Pencuri macam apa yang berani masuk kampung kalau anak mudanya tidak mengenal jam tidur malam.

Satu fase dilewati. Di kamar anak muda yang masih tersisa, pemutar CD menggeser kedudukan tape recorder dan kaset yang sudah dianggap jadul

Kehadrian anak muda kembali dirasakan manfaatnya jika ada warga hendak merombak rumahnya dan membangun rumah baru. Mereka antusias membantu dan memangkas waktu lebih cepat. Di musim tanam padi juga demikian, anak muda ini akan menurut jika dipinta ke sawah. Sebab, dengan demikian, mereka memiliki aktivitas di siang hari dan mendapat jaminan tuak di malam hari.

*

Bulan madu anak muda, atau pendengar musik dengan dengan tape recorder harus berakhir setelah dua mahasiswa Jerman, Justin Frankel dan Dmitry Boldyrev mengenalkan ciptaan mereka yang disebut Winamp di tahun 1997.

Anak muda yang berseliweran di kampung tentu saja tak mengenal mahasiswa Jerman itu. Di tapak tahun 1997, kemegahan tape recorder masihlah belum tertandingi. Malah, evolusi dari kaset ke CD (Compact Disc) tetap dijajaki sebagai kemewahan baru.

Satu fase dilewati. Di kamar anak muda yang masih tersisa, pemutar CD menggeser kedudukan tape recorder dan kaset yang sudah dianggap jadul. Ukuran kerennya anak muda bukan lagi berdasar kepemilikan Tape Compo merk Polytron. Seperti kebanyakan anak muda, tak semuanya memiliki pemutar musik itu hingga fasenya sudah masuk ke keranjang sampah sejarah dan muncul teknologi pemutar musik mutakhir.

Penemuan brilian dua mahasiswa Jerman itu tak sempat mengisi kamar anak muda di kampung. Seperangkat komputer terlampau mewah sehingga Winamp, pemutar musik digital yang tersimpan di komputer tak pernah disentuh. Tetapi, tahap penemuan itulah yang memutus rantai mendengarkan musik secara bergerombol.

Evolusi Winamp bukanlah tape recorder, melainkan pemutar musik digital yang lebih canggih. Kini, di hape pintar, seseorang dapat memilih beragam pemutar musik online seperti Souncloud, Bandcamp, Reverbnation, atau You Tube.

Evolusi manusia terus terus bergerak yang menjamin keberlangsungan fase anak muda. Di ujung jalan di kampung yang dulu menjadi tempat berkumpul anak muda tetap menjadi ruang anak muda masa sekarang. Mereka juga mendengarkan musik dengan akses lebih luas.

Jika ada perbedaan, di sisi mereka tidak ada tape recorder dan beberapa botol tuak. Anak muda baru itu pada duduk di sadel sepeda motor masing-masing. Kedua kupingnya dipasangi headhset. Kedua tangan memegang hape. Kepala mengangguk dan menggeleng.

Bila jenuh, mereka akan bergeser ke tempat yang lain dengan mudahnya. Sisa membunyikan mesin sepeda motor dan secepat kilat sudah berpindah. Mereka, anak muda juga di kampung, sedang melewati satu fase berbekal media sosial yang digenggamnya. Dan, bila sudah waktunya, mereka akan pulang terlelap di kamar beralas kasur dengan seprai bergambar logo tim sepakbola idolanya.

*

Gambar: http://4vector.com

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This