Kala Kiblat Mencari Kiblat

Pagi itu Gedung Juang Universitas 45 Makassar sudah mulai dipadati ribuan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) dari sejumlah sekolah. Mereka tidak sedang mengikuti Try Out atau mendengarkan pidato walikota. Melainkan datang mendengar dan melihat langsung beberapa sastrawan tampil di depan mereka.

Beberapa sesi tampil sastrawan sudah selesai ketika saya tiba. Di salah satu sudut ruang, seorang teman pelajar dari SMA Negeri 5 Makassar tampak berbincang dengan Jamal D Rahman. Teman itulah yang mengabari melalui pesan pendek kalau sekolahnya, SMA Negeri 5 terpilih sebagai panitia lokal untuk hajatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya).

Seragam putih abu-abu sudah saya tanggalkan sekitar enam bulan ketika kegiatan tersebut digelar. Hari itu, saya kenakan kembali agar punya jaminan masuk sebagai peserta dan utamanya dapat mengajukan pertanyaan.

Selain Putu Wijaya yang tampil bermonolog membaca cerpen terkenalnya, Merdeka, sejawat Chairil Anwar, Asrul Sani juga hadir membacakan puisi apiknya, Anak Laut dengan terbata di atas kursi roda.

Majalah Sastra Horison di tapak usia saya ketika itu merupakan bacaan wajib. Saya membeli edisinya secara berkala seharga Rp. 8000,- di tahun 2003 hingga 2009 dengan harga Rp.12.500,-. Mulanya, saya mendapatkan satu edisi Horison di salah satu sekretariat lembaga kampus di Universtitas Islam Makassar (UMI), sampulnya sudah copot dan isinya lusuh. Di dalamnya ada esai ditulis siswa SMA yang membuat saya kagum. “Hebat sekali anak ini bisa menulis tema filsafat,” kesan saya. Sayang, edisi itu raib entah ke mana.

Bisa disebut kalau esai itulah pelecut mulai menuliskan gagasan dan berusaha mengirimkan naskah ke Horison melalui pos. Harapannya dimuat di rubrik khusus pelajar, Kaki Langit. Hasilnya, hingga saya berhenti membelinya. Naskah saya tidak pernah dimuat. Tidak layak adalah alasan tepat ketimbang tidak sampai ke meja redaksi.

Tidak tahu persis mengapa saya enggan membaca Horison lagi. Bersama teman-teman melahirkan Majalah Sastra Lentera di tahun 2011 di Pangkep, Horison menjadi salah satu rujukan utama. “Bahwa ada, kok, majalah legendaris tetap tampil sederhana.” Propaganda yang kulayangkan.

Ini pergulatan alamiah saja, saya kira, layanan internet memberi ruang lapang. Saya menemukan blog Muhidin M Dahlan dan membaca hampir semua postingannya. Taufik Ismail, satu dari pendiri Horison saya temukan dihantam habis-habisan. “Kurang ajar sekali si Muhidin ini. Baru nulis sebiji novel saja sudah belagu.” Gumam saya. Rasionalitas kemudian menuntun kalau hal yang demikian merupakan perkelahian daya intelektual saja.

Prahara Budaya, buku yang saya curi di perpustakaan milik pemerintah Sulawesi Selatan sudah saya bolak balik sebelum membaca blog Gus Muh, sapaan akrab Muhidin, jadi sudah ada semacam pengantar memahami kilas balik pertarungan Lekra dengan Manifesto Kebudayaan. Boleh jadi, keengganan membaca Horison bermula dari sana.

Kompas edisi Selasa (26/7) mewartakan perhelatan Horison di usia emasnya ke 50 tahun sebagai tahap berhenti terbit melalui cetak dan memilih area digital. Sapardi Djoko Damono mengungkapkan kalau Horison telah menjadi kiblat sastra Indonesia karena memuat banyak tulisan yang memperbarui kesusastraan.

Di suatu masa, Horison menancapkan tonggak mitologi kesusastraan. Labelisasi kadar kesastraan ada di tangan redaksi Horison. Di fase yang sibuk itu para redaksi menetapkan keputusan politis (selera) atas karya yang akan dimuat.

Pesona sastra sunggulah menyilaukan. Banyak media cetak merelakan ruang iklan diisi produk sastra meski sastra itu sendiri terbilang sulit masuk dalam bingkai kapitalisasi. Patok ini tak sepenuhnya benar. Kuasa sastra dapat memasuki segala relung. Berdiri sendiri atau menjadi bahan campuran ke disiplin pengetahuan yang lain.

Jika Horison harus menghentikan edisi cetaknya, sesungguhnya, jalan digital sudah ditapaki. Horison edisi online sudah melayar dan membedakan isinya dengan edisi cetak. Tentulah tidak begitu mengagetkan jika Horison benar-benar berhenti menyapa pembacanya melalui cetak. Kembali Sapardi mengingatkan kalau majalah sastra sulit mandiri tanpa sokongan dana. Ia memberi contoh majalah sastra di Amerika Serikat bertahan karena menjadi program universitas.

Catatan Kebudayaan, nama rubrik di Horison menjadi ruang respons, atau semacam Tajuk Rencana dalam Koran. Edisi XLV/3/2011, Cecep Syamsul Hari, menulis di rubrik itu bertajuk Sastra Digital di Dunia Gadgetis, di tapak tahun itu, Cecep menempatkan jejaring sosial Facebook yang menjadi layar utama para Gadgetis, istilah yang digunakan Cecep untuk manusia yang aktif di dunia maya.

“Idealnya, sastra digital dan sastra cetak berada dalam kerangka hubungan kemitraan yang saling menguatkan.” Tulis Cecep. Bagi Horison sendiri butuh waktu enam tahun setelah catatan Cecep baru bisa meyakini keampuhan ruang baru bernama digital.

Berhentinya edisi cetak Horison sebagai satu-satunya media sastra yang bertahan selama 50 tahun turut menguatkan senjakala media cetak. “Bagi kami, dunia digital bukan ancaman. Ini adalah dunia lebih dinamis dan atraktif.” Komentar Jamal D Rahman, pemimpin redaksi Horison dikutip dari Kompas.

Horison yang setengah abad usianya telah menjadi kiblat pegiat literasi sastra di beberapa komunitas sastra di daerah. Di titik ini, saya kira, suka atau tidak suka. Horison telah menjalankan dan dijadikan berhala sebelum ruang sastra menyebar di beberapa Koran. Kompas dan Tempo mengambil tempat tersendiri untuk urusan ini. Giatnya Kompas merangkum cerpen terbaik versi mereka saban tahun menegaskan ruang tafsir itu.

Catatan Kebudayaan Horison edisi XLV/5/2011, Jamal D Rahman mengetengahkan topik Komunitas, Puisi, Publikasi. Jamal menggelisahkan maraknya komunitas yang lahir tetapi minim corak. Kebanyakan pemain sastra di suatu komunitas sebatas perenang saja dan bukan pelaut. Idiom ini ia pinjam dari istilah Agus R Sarjono mengenai kadar kesastrawanan seseorang. Bahwa apakah mampu memberi corak dalam komunitasnya sendiri (perenang) ataukah mampu memberikan corak di tempat maha luas (pelaut).

Di satu sisi Jamal memandang komunitas sebagai ruang yang dapat melahirkan kemungkinan baru bagi kesusastraan Indonesia. Tetapi, komunitas itu sendiri berperan sebagai pemecah sebuah keutuhan. “Sastra Indonesia kini adalah sesuatu yang “retak”, sulit dilihat dan diikuti dalam kebulatannya yang utuh. Keberadaan komunitas telah memecahkan asumsi tentang kebulatan dan keutuhan sastra Indonesia. Meskipun diam-diam mereka tetap mengakui sumber-sumber lama otoritas…” Tulis Jamal.

Dan kini, sejumlah komunitas sastra yang sejak awal menjadikan ruang digital sebagai ruag memublikasikan karyanya, tentu tak menyangka jika Horison yang begitu perkasa dan menjadi tafsir sastra yang bulat itu, atau hendak menjadikan dirinnya sebagai yang pusat. Justru berpaling dan mengikuti jejak komunitas yang terbilang baru.

Sastra pada akhirnya butuh ruang publik. Keramaian bukanlah kebisingan. Tidak ada kiblat tunggal. Arus informasi yang begitu mudah diakses menjadikan relasi pengetahuan yang menghubungkan satu titik ke titik yang lain. Dengan demikian tidak ada titik pusat. Tidak ada kiblat. Sebab perubahan bukan angkutan peribadi. Melainkan angkutan massal.

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This