Kadir Emo dan Selilit Tembang Bugis

Merasa bisa menciptakan lagu berbahasa daerah? Bagi saya sangat sulit. Namun, jika pertanyaan itu ditujukan kepada Kadir Emo, jawabnya sangat mudah. Karena menciptakan lagu daerah, memang telah dilakoninya sejak awal tahun 2000.

Kecakapannya menuliskan lirik tembang berbahasa Bugis dipelajari otodidak tanpa belajar khusus dengan musisi yang lebih dahulu berkiprah di dunia itu. Keahliannya seperti mengalir melalui aliran darah dari tangan ke pena.

Teponi Sarapoe, tembang pertama yang dicipatkan di tahun 2006. Tidak sampai di situ, ia juga memproduserinya hinga tembang itu bisa dinikmati masyarakat. Ia membiayai sendiri proses produksi mulai take vocal di studio serta biaya pengambilan video klip. Kadang, ia menghabiskan dana sekitar 30 juta rupiah atau bahkan lebih. Tergantung proses yang ditempuh. Hasilnya, tembang ciptaannya dikenal masyarakat dan mendapatkan keuntungan yang luar biasa.

Saya berbincang dengannya di Taman Musafir pada awal bulan, meski lahir di Barru tahun 1979, ia sudah lama menetap di Pangkep dan sudah menganggap sebagai tanah kelahiran sendiri karena hampir semua jejak hidupnya dijalaninya di sini.

Satu hal, ada kekalutan yang dirasakan, ia merasa lagu daerah khususnya tembang Bugis-Makassar masih tersisihkan. “Kenapa lagu daerah kita tidak bisa tembus ke tingkag nasional, apa bedanya dengan lagu daerah lain”, katanya.

Ia cemburu dengan lagu daerah lain yang begitu mudahnya menembus kancah perindustrian musik nasional, tembang dangdut berjudul Oplosan, misalnya, menurutnya itu biasa saja tetapi mampu menjadi konsumsi seantero negeri.

Memang, jika dipikir soal pasar, mengapa hanya tembang Jawa yang selalu diekspos. Bukankah tembang Bugis-Makassar juga tak kalah keren. Apakah tembang daerah kita kedengarannya aneh atau kreatifitas bermusik di Sulawesi Selatan itu tidak bisa diterima oleh telinga selain suku kita?

Satu hal, ada kekalutan yang dirasakan, ia merasa lagu daerah khususnya tembang Bugis-Makassar masih tersisihkan

Teman saya, Badauni A. Palirungi sewaktu masih bertugas di Koran Tempo Makassar, pernah menurunkan liputan soal Kadir Emo. Diterangkan kalau Kadir Emo telah merilis album terbarunya bertajuk Goyang 22, di album itu, sejumlah tembang ciptaannya dilantunkan penyanyi anak-anak, Liya Asti.

Lebih jauh, Badauni menuliskan kalau banyak penikmat tembang Bugis di Pangkep tidak mengenal sosok di balik tembang yang kerap didengarnya itu. Khaeruddin, warga Minasatene, menggangrungi tembang Gadis Sulawesi. Ia heran ketika mengetahui kalau penciptnya juga orang Pangkep.

Kadir Emo terus memendam impian jika kelak tembang Bugis-Makassar dapat menjadi pilihan mendengarkan musik oleh seluruh warga di Indonesia. Ia meyakininya sebab musik merupakan bahasa universal yang dapat menerabas sekat suku dan budaya.

Di kepalanya tersimpan terus selilit ide yang siap dituangkan ke dalam lirik tembang Bugis. Sebagaimana dijelaskan di awal, ia dengan mudah sekali melahirkan karya. Mencipta karya musik nuansa daerah sudah menjadi bagian dari hidupnya walau ia juga berkiprah di dunia politik.

mm

Riandra Ria Hamriah

Awal kemunculannya di publik Pangkep sebagai penyiar radio di tahun 2007-2010. Kemudian jurnalis di tahun 2011-2014.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This