Jika Arab dan China Bersatu: Tince Sukarti binti Mahmud

Selain melahirkan generasi blasteran, penyatuan Arab dan China bakal melahirkan manusia multi talenta. Bisa menyanyikan kasidah, rock n roll, dangdut, dan keroncong sama baiknya. Jika generasi ini tampil di ajang pencarian bakat. Saya yakin sekali, para juri langsung pada bilang: “Kalo aku, sih, Yes”.

Bukan hanya itu, penyatuan Arab dan China bakal bikin negara yang dipimpin Donal Trump bakal ketar-ketir. Hmmm, dugaan ini terlalu jauh. Begini saja, jika Arab dan China menyatu, prestasi olahraga bakal maju. Lihatlah hari ini, kedigdayaan liga sepakbola di China hanya menunggu waktu medeportasi semua pemain top yang bermain di liga top Eropa. Dan, bukankah pula, pemilik saham di sejumlah klub mentereng Eropa pada dipegang orang-orang Arab.

Kalo aku, sih, Yes, sekali lagi.

Asumsinya bakal melampaui imajinasi Iwan Falls yang, sebatas melahirkan perempuan cantik menolak sejuta cinta di meja beranda. Hidung dan bibirnya, kata bang Iwan, subahanalloh, indah menyatu.

Kita mengenal wilayah yang disebut perkampungan Arab dan Pecinan di sejumlah kota. Tetapi, bang Iwan menemukan perkawinan Arab dan China itu justru di desa. Tak pelak, anak perempuan itu menjadi bunga desa yang berani melawan. Entahlah, DNA pemberontakannya didapat dari ayahnya yang Arab ataukah dari ibunya yang China. Sebab, keduanya menolak keinginan Sukarti.

Namun, bukankah sejauh ini belum ada keturunan Arab atau China yang memenangkan Grammy Awards jika ukuran tertinggi penghargaan di bidang musik dinisbahkan pada ajang itu. Halah, dasar Sukarti saja kepala batu. Ia kemas barang dan berlalu. Peduli setan harga diri.

Ini hitung-hitungan politik sekaligus jalan yang pernah ditempuh memutus konflik. Di masa lalu, perkawinan dua kubu yang pernah saling melukai dijajaki agar ikatan darah bercampur dan tumbuh generasi tanpa warisan konflik.

Sebenarnya, siapa yang berkonflik sehingga harus kawin mawin. Ini efek seliweran pemberitaan yang saban hari mendesak diikuti. Saya terbawa arus membaca segala hal berkaitan dengan Arab, utamanya kisah para habaib yang datang ke nusantara.

Kalau para habaib sudah masuk ke nusantara, jauh sebelum Indonesia terbentuk, maka begitu pula dengan keturunan China. Benarlah lirik lagu Indonesia Pusaka ciptaan Izmail Marzuki: Indonesia sejak dulu kala/Tetap dipuja-puja bangsa.

Banyak keturunan Arab dan China dilahirkan di sini, sehingga sudah menganggap sebagai tempat lahir beta. Di sini pula, mereka dibesarkan bundanya masing-masing sehingga menjadi tempat berlindung di hari tua hingga menutup mata.

Meski di kampung saya belum ada keturunan Arab dan China, tetapi ketika orang Bugis menggelar hajatan pernikahan, aroma Arab dan China itu ada. Di malam pacar, para tetua akan membaca barazanji yang, afdolnya harus menggunakan bahasa Arab. Dan, ketika mempelai lelaki duduk di pelaminan, di kedua lengannya melingkar potto naga (gelang naga). Bukankah naga merupakan hewan dalam mitologi China. Para pakar budaya menyebutnya sebagai asimilasi kebudayaan.

Jadi, Tince Sukarti binti Mahmud keturunan Arab China itu harap dimaklumi saja

Lalu, apakah ketika anak mereka lahir akan menggunakan nama ke-Arab-Araban atau ke-China-Chinaan, yang saya tahu sejauh ini, belum ada orang Bugis diberi nama lahir Mao Zedong atau Chiang Kai-shek. Jika nama Muhammad, itu sudah lumrah yang dalam keseharian disapa: Muhammadong, Mahmud, atau Mahamud. Namun, jarang yang menggunakan Muhammad sebagai nama tunggal. Di belakangnya ditambahkan penaman lain. Muhammad Ramli Sirajuddin, Muhammad Syafri, Muhammad Iqbal. Sebagai contoh.

Apakah penamaan itu mencerminkan akhlak pada yang bersangkutan, jawabnya, tidak semua. Teman SMP saya ada bernama Muhammad Idris. Kelakuannya diingat sebagai anak bandel. Tetapi, hal itu haruslah dibaca sebagai fase hidup karena saat ini Muhammad Idris, kawan saya itu, sudah dikenal sebagai anak berbakti. Menghibahkan sisa hidupnya selaku pelayan masyarakat. Ia memang memang bekerja sebagai tenaga honorer di kantor desa.

Bang Iwan, jauh hari mengingatkan, walau Tince Sukari binti Mahmud blasteran Arab-China. Kembang desa berwajah lembut dianugerahi tawa semerdu suaranya. Berkulit kuning langsat berambut ikal mayang ditambah kerlingan mata menggoda.

Jadi, Tince Sukarti binti Mahmud keturunan Arab China itu harap dimaklumi saja. Harus layu dan wanginya hambar karena dibutakan keinginan menjadi primadona beken. Karti, Karti. Enggak gampang loh menyatukan Arab dan China. Enggak percaya, luangkanlah waktu membaca berita. Jangan nyanyi saja, dong!

*

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This