Ingatan dalam Cerpen

Perkembangan sastra di kekinian patut diacungi jempol, sejumlah penulis berbakat telah bergeliat menunjukkan eksistensi mereka lewat goresan pena yang dituangkan ke dalam karya.

Setiap manusia memiliki sejarah dan riwayat hidup masing-masing. Misalnya saja, ketika seseorang memiliki catatan harian yang merekam jejak tentang masa ia bersekolah, sosok guru, dan kawan-kawannya. Itu tentulah rekaman yang jujur untuk mencertitakan kelucuan, atau kesan menyangkut peristiwa yang terjadi di masa lalu. Semua itu bisa menjadi senjata ampuh untuk kemudian dijadikan data dalam menuliskannya kembali ke medium yang lain.

Namun, sumber kenangan dari ingatan itu masih perlu dipetakan lagi agar nampak sempurna dan jelas sesuai keutuhan sebuah cerita. Karena cerita merupakan karya sastra lisan dan tulisan yang dikategorikan ke dalam unsur intrinsik karya sastra itu sendiri. Di antaranya cerita pendek atau cerita bersambung yang masing-masing memiliki tema dalam sebuah pengembangan cerita.

Saya menyontohkan kumpulan cerpen F Daus AR, penulis muda asal Pangkep yang karyanya berupa cerpen dan artikel telah terbit di media cetak lokal di Sulawesi Selatan, dan telah menerbitkan kumpulan cerpen perdananya bertajuk Sejumlah Ingatan dan Cerita-Cerita. Kumpulan cerpen ini dikatakan sebagai suvenir yang akan ia berikan kepada teman-temannya yang merupakan simbol rekaman peristiwa yang dikemas ke dalam sebuah cerita.

Bahasanya lugas dengan penyajian diksi sederhana, penulis kelahiran 7 Desember 1984 ini mampu membuat kita penasaran ke arah mana sebenarnya cerita dalam setiap cerpennya berakhir. Rumah Panggung dan Sebuah Ingatan, misalnya, cerita yang dibangun menggambarkan sebuah metamorfosis kehidupan keluarga sederhana. Rupanya pengarang menggambarkan satu sosok kehidupan keluarga yang di dalamnya memiliki pesan-pesan moral untuk diajarkan kepada banyak orang.

 

Pesan itu adalah Pau-Pau ri Kadong (cerita yang dianggukan) dari tokoh cerita rakyat, Nenek Pakande yang di dalamnya menyimpan pesan moral dari sang Ayah agar anaknya tidak nakal. Sajian tentang tokoh Nenek Pakande menjadi suatu fase yang kita sebut sosok yang sangat ditakuti bagi anak-anak. Tetapi, lain halnya dengan penggambaran sosok Ayah yang digambarkan. Ayah menjadi lisan pencerita dengan mengaitkan sandal jepit di dalam cerita untuk dikenang. Nampak pula, penggambaran sang Ibu dan Kakak yang mencoba tetap tegar menghadapi segala aral melintang semenjak kepergian sang Ayah.

Sepertinya sebuah ingatan di rumah panggung itu tak akan pernah habis terurai meski air mata Ibu menjadi saksi akhir kehidupan sebagai tulang punggung keluarga, namun kesaksian sang Ibu adalah sebuah letupan cinta kesabaran agar ikhlas menerima takdir dengan kematian sang Ayah. Karena seyogyanya kita semua akan kembali menjadi pelakon abadi pada semua lakon-lakon kita di dunia.

Pada cerpen yang lain, Surat Pengakuan. Ia berusaha mengabarkan tentang perjalanan sepucuk surat yang dibuatnya menggunakan untaian kalimat memiliki kandungan semiotik. Simbol pengakuan itu ditulis untuk mengingat sepotong ingatan yang bukan hanya miliknya, melainkan milik orang-orang yang pernah terlibat dalam ingatan itu. Mari kita simak petikan berikut:

“Tanpa terus terang, ini sudah berterus terang. Bersiap-siaplah mendengar pengakuanku yang dahulu kau abaikan. Kukatakan ini sebelum dirimu dinikahi lelaki lain.”

Cerpen ini seolah seribu tanya yang masih berkejaran di benaknya. Sosok perempuan yang menjadi pemeran utama dalam kisah ini, sungguh digambarkan secara jelas akan keberadaanya di masa lalu sekaligus samar karena tidak menyebutkan namanya. Teknik penulisan yang demikian jelas suatu kesengejaan mempertahankan unsur semiotik.

Penegasan lainnya, dengan kalimat seperti ini: “Aku mencintaimu karena kau perempuan! Itu saja”.

Ringkasnya, 15 cerpen dalam antologi ini menjadi tanda bahwa sepotong ingatan itu adalah kenangan yang indah yang menjadi pelengkap manis sebuah pentas jiwa ketika rindu itu meresapi dan menghinggapi tubuh kita.

Ia menyiratkan akan dirinya sebagai pujangga rahasia bagi perempuan itu. Melalui sebuah data berupa perjumpaan yang pernah dilakoni. Meskipun itu pertemuan singkat. Akan tetapi, perjumpaan singkat itulah yang memiliki kualitas dan menjadi dugaan bagi si perempuan dalam membaca surat itu.

Mungkin itulah kepiawaian pengarang sekaligus kelemahan dalam merangkai ingatan menjadi bahan cerita. Karena ingatan tentulah mengalami kelunturan data. Tetapi, menjadi mungkin naif jika dilewatkan begitu saja hingga terlupakan ditelan waktu dan usia.

Ringkasnya, 15 cerpen dalam antologi ini menjadi tanda bahwa sepotong ingatan itu adalah kenangan yang indah yang menjadi pelengkap manis sebuah pentas jiwa ketika rindu itu meresapi dan menghinggapi tubuh kita.

Terakhir, saya ingin mengatakan, kalau kumpulan cerpen ini hendak mengajak kita menulis kisah yang pernah dijalani. Karena inspirasi yang paling dekat, adalah pengalaman sendiri.  F Daus AR menyadarkan kita untuk selalu menjaga ingatan dan merekamnya ke dalam cerita atau medium lainnya. Karena ingatanlah yang menjaga kita dari kekeliruan dalam melangkah.

*

Naskah ini sudah pernah dimuat di http://pangkep-online.com/ingatan-dalam-cerpen/

mm

Munji D Ghazali

Pecinta buku

X

Pin It on Pinterest

X
Share This