Hio, Interupsi, dan Peristiwa

Bermula ketika Hio, anak lelaki saya yang berusia dua tahun menolak pulang usai kami berbelanja kebutuhan dapur di pasar Pangkajene. Dari kabin mobil yang diparkir dekat sungai, tepatnya di dermaga pasar, ia melihat air sungai yang meluap karena debit air terus bertambah akibat guyuran hujan dalam sepekan ini.

Tak ingin dia menangis, kami lalu meluangkan waktu sekitar 30 menit menemaninya bermain lempar batu di tepi sungai. Pada akhirnya, ia menunjuk ke arah mobil yang, kami terjemahkan sebagai isyarat kalau ia sudah puas bermain dan waktunya pulang.

Basri, lago saya, yang menyetir mobil mulai membunyikan mesin. Namun, ia kembali mematikan mesin. Ia melihat sesuatu yang tak biasa di sungai, sebuah jolloro yang memuat beberapa orang, di antaranya perempuan terbaring lemas. Di tangannya dipasangi selang infus.

Andai, Hio, tidak interupsi (baca: merengek) ingin bermain di tepi sungai Pangkajene dan kami langsung pulang saja usai berbelanja. Maka, peristiwa yang, bagi saya, memiriskan, tidak akan kami jumpai.

Kami lalu turun dari mobil dan menuju tepi dermaga guna memastikan apa yang sedang terjadi. Istri saya, Irma, mendatangi seorang penumpang kapal dan bertanya. Rupanya, si perempuan itu habis melahirkan namun placenta bayi, organ yang menghubungkan janin ke dinding rahim untuk memungkinkan penyerapan nutrisi tidak dapat keluar. Keterangan ini diberikan oleh bidan yang mendampingi sehigga harus dirawat lebih intens di RSUD Pangkep. Keluarga pasien lalu mencari bentor untuk segera ke rumah sakit. Kami lalu menawari angkutan agar ikut saja di mobil supaya lebih cepat sampai.

Saya sedikit heran, bukankah sudah ada hibah Ambulans Terapung dari Yayasan Dompet Dhuafa. Mengutip warta dari Lintas Terkini. Com yang diposting pada 24 September 2016. Direktur Yayasan Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, Ardianysah, mengatakan kalau ambulans terapung itu diperuntukkan bagi kaum dhuafa di Pangkep, khususnya di wilayah kepulauan.

Lalu mengapa perempuan dari pulau yang saya saksikan kemarin (Jumat, 3/2) hanya menggunakan jolloro biasa. Seorang teman yang berasal dari pulau, Muhammad Yuhar, ketika saya konfirmasi mengenai keberadaan ambulans terapung, meski saya tahu, Yuhar bukanlah operatornya, tetapi sebagai warga pulau, saya ingin tahu saja kesannya bahwa, apakah ambulans terapung itu beroperasi. Ia lalu mengrimkan foto perahu ambulans sedang sandar di kampung Toli-Toli, Kelurahan Tekolabbua.

Di Grup WhatsApp, seorang teman, Archut, memberi informasi kalau pengelolaan Ambulans Terapung sepenuhnya diatur oleh donatur selama setahun. Lebih lanjut ia menerangkan kalau perahu ambulans itu belum sepenuhnya milik Pemerintah Daerah (Pemda). Ia merekomendasikan untuk konfirmasi lanjut ke pihak Dinas Kesehatan.

Tetapi, lepas dari itu semua, peristiwa yang kami saksikan kemarin adalah bagian dari hal yang tidak terduga. Tentu, kami tak memiliki rencana menunggu adanya pasien dari pulau yang dirujuk ke RSUD Pangkep. Andai, Hio, tidak interupsi (baca: merengek) ingin bermain di tepi sungai Pangkajene dan kami langsung pulang saja usai berbelanja. Maka, peristiwa yang, bagi saya, memiriskan, tidak akan kami jumpai.

Dan, di sisi lain, kami mengambil hikmah tersendiri dengan merengeknya Hio menolak pulang, sebab bisa terlibat dalam membantu pasien yang membutuhkan angkutan ke RSUD Pangkep.

*

Foto: Irma

mm

Arman Naim

Karyawan PT. Semen Tonasa, Musisi, dan banyak lagi profesi yang lain

X

Pin It on Pinterest

X
Share This