Grup WhatsApp Tersibuk Kedua di Dunia

“Grup WhatsApp Accaritaki Mengadakan Buka Puasa Bersama”. Demikian judul berita sebuah surat kabar di pekan terakhir bulan puasa lalu. Interaksi anggota yang terbangun di aplikasi online itu kemudian berlanjut dengan silaturrahmi di dunia nyata selang dua hari kemudian.

Menurut saya, Accaritaki merupakan grup WA pertama di dunia dengan keanggotaan kompleks. Meski begitu, grup ini bukan grup alumni sekolah tertentu, organisasi, atau komunitas yang berhasil melakukan kopdar buka puasa bersama di Indonesia yang, beritanya sering dimuat di beberapa media cetak.

Anggota Accaritaki hanya memiliki satu kegemaran yang sama, accarita, harfiahnya berarti bercerita. Di grup Accaritaki, membincang persoalan publik hingga urusan paling pribadi, mengapresiasi setiap orang hingga menggunjing sesama. Nampaknya, hanya satu hal yang menjadi pantangan setiap anggotanya; diam.

Pak Dir, demikian sapaan akrab Kanda Suwadi Idris Amir di grup Accaritaki, beliaulah inisiator group ini. Maka bertemulah aktivis, akademisi, insan pers, politisi, dan beberapa bupati dalam satu wadah silaturrahmi tanpa warna, demikian tujuan pembentukan grup ini menurut Pak Dir.

Butuh kecakapan komunikasi menyatukan beberapa orang dari latar berbeda ke dalam satu grup obrolan online. Bukan apa-apa, anggota grup di antaranya, merupakan pemangku kebijakan dan tulang punggung kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Selatan. Agus Arifin Nu’mang, Prof. Dr. Nurdin Abdullah, Indah Putri Indriani, Tanri Bali Lamo, Rahman Pina, Andi Yagkin Padjalangi, dan Andi Rachmatika Dewi. Ada dalam jajaran ini.

Dari akademisi, hadir Dr. Firdaus Muhammad,  Dr. Arief, Dr Jayadi, Dr Arqam Azikin, dan Dr. Luhur. Sedangkan AR Sony, Hasri Jack, Andi Aswadi mewakili kalangan aktivis. Tentu masih banyak nama lagi yang, jika disebutkan akan memenuhi halaman ini. Kekaguman saya, mereka semua, tanpa menyiutkan kebesaran dan peran tiap individu,  mau berbaur ke satu grup dan menyajikan obrolan paradigmatik.

Kesalahan sejarahlah hingga saya menjadi anggota grup Accaritaki. Kak Wawan, demikian sapaan lekat saya kepada beliau yang kukenal sebagai direktur utama PT. Indeks Polica Indonesia.  Perlu diingat, kehadiran saya sekadar pembaca setia saja, tidak lebih. Saya  menikmati kegaduhan sekaligus jalan pintas menghabiskan kuota internet. Namun, obrolan serius di antara anggota cukup informatif buat saya, baik situasi sosial politik di Sulawesi Selatan hingga wacana yang lagi hits di panggung nasional. Juga, tak terkecuali virus Mukidi yang menjangkiti seluruh grup WhatsApp se nusantara.

Perlu tenaga lebih untuk mengikuti lalu lintas obrolan di grup ini. Sejam saja tidak melirik gawai, maka didapati puluhan hingga ratusan pemberitahuan obrolan yang telah terlewatkan. Terbayang jika tak berkunjung dalam sehari.

Pernah sekali saya melewatkan obrolan grup sehari. Tahukah kalian, begitu saya tengok aplikasi WA. Ya, Tuhan! Angka pemberitahuan yang tertera menyamai jumlah halaman kitab I Lagaligo versi cetak yang disebutkan Cristian Pelras, 1043 halaman. Jumlah halaman itulah angka pemberitahuan yang tersimpan otomotis jika WA tidak dibuka. Kita tahu, I Lagaligo itu kitab epos terpanjang di dunia melebihi kitab Mahabrata dan Ramayana dari India. Juga Homerus dari Yunani.

Jadi, saya kira tak berlebihan jika kita berharap perubahan besar untuk Sulawesi Selatan lahir dari grup Accaritaki. Jika saja seluruh obrolan di grup ini didokumentasikan ke bentuk buku atau dipublikasikan secara berkala di media cetak agar menjadi bacaan masyarakat, maka kekayaan pendapat yang terkandung di dalamnya akan menjadi referensi yang sangat berguna.

Ya, Tuhan! Angka pemberitahuan yang tertera menyamai jumlah halaman kitab I Lagaligo versi cetak yang disebutkan Cristian Pelras, 1043 halaman. Jumlah halaman itulah angka pemberitahuan yang tersimpan otomotis jika WA tidak dibuka.

*

Di bagian ini, saya ingin bercerita pula tentang kesibukan grup WhatsApp yang lain. Namanya Kopi Darat. Entah bagaimana sejarahnya grup ini disebut Kopi Darat. Keanggotaannya tidaklah beragam sebagaimana grup Accaritaki, bisa dihitung jari, malah. Tetapi, kegaduhannya menyerupai orang-orang menonton sabung ayam jago.

Jika obrolan di Accaritaki dapat memengaruhi pemangku kebijakan di Sulawesi Selatan. Maka, grup Kopi Darat hanya pada level Pangkep saja, itu pun sebatas wilayah stadion Andi Mappe dan sekitarnya. Saya tidak meragukan selera homor para anggota di grup Accaritaki, apalagi setelah tsunami Mukidi menghamburkan konsentrasi grup bergengsi itu. Namun, tahukah kalian, di grup Kopi Darat, menampilkan ikon jempol saja maka akan menjadi tertawaan hingga pagi menjemput. Bahkan bisa berlanjut satu purnama.

Oleh karena itu, jika Grup Accaritaki perlu saya bahas dengan cara santun dan mendalam. Sebaliknya, grup Kopi Darat, sebaiknya tak perlu dibahas sama sekali. Bukan apa-apa, sih. Tidak penting.

Versi saya, dalam dinamika pergrupan WhatsApp se nusantara atau di dunia sekalipun, Accaritaki menduduki posisi pertama sebagai grup WA tersibuk. Dan, menempati urutan kedua, mari kita paksakan saja, Kopi Darat. Jadi, jangan terlalu bangga. Kalian, di Kopi Darat bukanlah siapa-siapa, kawan! Kalian hanya makhluk kedua yang mulai tampak seksi.

mm

Muhammad Ramli Sirajuddin

Penulis lepas sekali. Mampu membedakan jenis kopi dengan mencium aromanya meski berjarak 100 m

X

Pin It on Pinterest

X
Share This