Facebook dan Manusia Berkacamata Kuda

Bagi pembela Jokowi, segala bentuk serangan terhadap presiden ketujuh RI itu adalah tidak benar, demikian halnya bagi Jokowi, haters, dengan segala bentuk prestasinya hanyalah kamuflase dan pencitraan, atau tidak benar.

Setali tiga uang dengan riuh Pilkada DKI Jakarta. Ahokers menilai segala bentuk kekafiran terhadap Ahok adalah salah dan kepada pendukung pasangan 1 dan 3, segala hal yang dilakukan Ahok bermotif dan tulus.

Sadar atau tidak sadar ini adalah polarisasi yang melibatkan banyak argumentasi yang ditunjng sudut pandang politik, hukum, ekonomi, hubungan internasional dan sebagainya, bahkan agama dlibatkan.

Seolah sejarah pengetahuan manusia hanya diperuntukkan untuk membenarkan pendapat masing-masing dan menyalahkan pendapat mereka di luar garis. Satu sama lain saling melihat dalam kacamatanya sendiri. Lawan seutuhnya tampak bodoh dan naif.

Hingga ke titik si peseteru bertanya, bagaimana mungkin mereka membela si A padahal sudah tampak jelas antara hak dan yang batil. Hal sebaliknya, si lawan pun berpikir apa dia telah demikian bodohnya membela si B padahal telah jelas bedanya sipit orang China dan sipitnya orang Jepang.

Seluruhnya masuk pada iklim saling membodohkan yang lain dan diri sendiri. Tidak penting mencoba memahami argumentasi masing-masing. Membaca tulisan yang dianggap lain saja mungkin tidak. Perbedaan benar-benar menjadi bencana dan apapun tak mungkin mewujud rahmatan lil alamin.

Tragisnya adalah, algoritma Facebook ternyata mendukung itu. Facebook tidak menampilkan apa yang terdahulu di dinding kita tetapi minat dan histori seseorang. Melalui algoritmanya, Facebook akan menampilkan newsfeed di beranda sesuai dengan riwayat klik, like, komentar, share, dan riwayat bacaan menggunakan sistem algoritma.

Suara yang lain sekadar untuk mengonfirmasi kebenaran diri sendiri

Facebook menjauhkan kita dari hal-hal yang tidak kita sukai atau yang bukan menjadi kebiasaan, pandangan, cara pikir, bahkan ideologinya. Facebook memaksa kita menjadi manusia satu dimensi, satu perspektif, satu cara pandang, dan satu kegemaran.

Facebook membuat yang kontra tetap kontra dan yang pro tetap pro. Tidak ada loncatan tiba-tiba atau kemungkinan adanya perubahan. Padahal, semua hal teramat luas dan terus bergerak. Setiap manusia dituntut siaga terhadap hal-hal yang, bahkan paling bertentangan dengan asumsi awalnya.

Ibu Dina Sulaeman menamainya sebagai “Echo Chambers”, ruang gema. Bayangkan diri Anda pada ruang yang bergema, yang Anda dengar adalah suara anda sendiri. Terjadi bias kebenaran terhadap yang lainnya. Sebab sesungguhnya, yang ingin Anda dengar hanya suara sendiri. Suara yang lain sekadar untuk mengonfirmasi kebenaran diri sendiri. Hal yang bertentangan sevalid apapun itu tetap akan dicarikan celah untuk diingkari.

Jadi, agar jiwa kita tetap segar, sekali-kali sempatkanlah piknik. Jumpailah ragam manusia. Baca dengan serius status seseorang yang dianggap berbeda dan bodoh itu. Lepaskan seluruh prasangka. Pelajari dengan baik alur berpikirnya dan pahami maksudnya.

Jika perlu berkunjunglah ke Bali dan check in Facebook Anda di sana. Siapa tahu saja setelahnya, muncul gadis pantainya di dinding Anda. Segar, kan! Aduh, bagaimana tentang Raja Salman yang mau ke Bali? Ah, itu pembahasan lain.

Dan, setelahnya lihat apa yang akan terjadi. Itu!

*

Gambar:www.architecturendesign.net

mm

Muhammad Ramli Sirajuddin

Penulis lepas sekali. Mampu membedakan jenis kopi dengan mencium aromanya meski berjarak 100 m

X

Pin It on Pinterest

X
Share This